kingsheadwye.com

Gempa NTT, pakar ITB ingatkan potensi ulang bencana Flores 1992

Gempa NTT, pakar ITB ingatkan potensi ulang bencana Flores 1992

Minggu, 16 Agustus 2026 05:59 WIB

Image Print

Guru Besar Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) ITB, sekaligus ahli gempa dan kadaster, Prof. Dr. Irwan Meilano, S.T., M.Sc. (ANTARA/HO ITB)

Bandung (ANTARA) - Guru Besar Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Irwan Meilano, memperingatkan potensi bahaya gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu (15/8), berisiko mengulang sejarah bencana gempa dan tsunami Flores tahun 1992.

Irwan menjelaskan, gempa dangkal berkedalaman 15 kilometer di laut utara Nagekeo ini memiliki episentrum yang berjarak kurang dari 40 kilometer dari pusat gempa Flores 1992 bermagnitudo 7,9.

"Apabila kita melihat dari mekanisme gempa serta lokasi gempa, maka gempa ini sangat berdekatan dan memiliki kemiripan dengan kejadian gempa di Flores pada tahun 1992. Waktu itu magnitudonya mencapai 7,9 dan diikuti dengan tsunami yang sangat tinggi. Kenapa? Karena diikuti dengan longsor di bawah laut sehingga tsunaminya tinggi. Mudah-mudahan dalam gempa ini tidak diikuti dengan longsoran bawah laut itu," kata Irwan di Bandung, Sabtu.

Ia menerangkan bahwa kawasan sumber gempa berada pada struktur Flores Back-Arc Thrust (sesar naik busur belakang Flores) yang memiliki riwayat kegempaan merusak skala besar, seperti gempa M 6,6 pada 2009 serta rentetan gempa utara Lombok pada 2018.

Berdasarkan catatan Pusat Studi Gempa Nasional, segmen Flores Back-Arc masih menyimpan akumulasi energi yang belum terlepas seluruhnya. Irwan mengingatkan pola gempa Lombok 2018 berpotensi terulang, di mana gempa utama dapat memicu pelepasan energi pada segmen sesar di sebelahnya.

Ia mengimbau publik untuk tidak mengendurkan kewaspadaan mengingat gempa susulan berkekuatan di atas M 6,0 masih terus terjadi dan berpotensi memicu kerusakan bangunan secara akumulatif.

Selain magnitudo yang besar, kedalaman dangkal (10 hingga 15 km), posisi episentrum dekat pemukiman, serta kondisi tanah setempat menjadi empat kombinasi pemicu kerusakan masif dari gempa ini.

Irwan mendorong tim tanggap darurat dan pemerintah daerah memprioritaskan asesmen keandalan bangunan sekolah, fasilitas kesehatan, serta gedung pemerintahan guna menopang penanganan korban dan percepatan pemulihan.

Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: ITB peringatkan potensi bahaya gempa NTT 7,7 M ulang gempa Flores 1992

Pewarta : Ricky Prayoga
Editor: Yuniati Jannatun Naim
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.