Gubernur Destry: 160 Ribu Orang Lamar BI, Minim Lulusan Teknologi
Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Indonesia (BI) mengungkap tantangan besar dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM) di tengah pesatnya perkembangan teknologi. Jumlah pencari kerja yang melamar BI memang sangat besar, tetapi talenta dengan latar belakang teknologi yang sesuai kebutuhan masih terbatas.
Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan pada proses rekrutmen tahun ini, terdapat sekitar 160 ribu pelamar. Namun, BI hanya mengambil kurang dari 150 orang. Dari jumlah pelamar tersebut, mayoritas justru berasal dari latar belakang ekonomi dan manajemen.
Sementara itu, BI membutuhkan lebih banyak talenta dengan kemampuan di bidang teknologi, khususnya data science, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), dan analitik data.
"Kalau rekrutmen tahun ini 160 ribu yang masuk, kami ambil di bawah 150 orang. Kebanyakan yang daftar background-nya ekonomi, manajemen, tapi cari yang teknologi terbatas," ujar Destry dalam acara FEKDI x IFSE 2026 di Jakarta, Kamis (24/9/2026).
Menurut Destry, kondisi tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara kebutuhan industri terhadap talenta teknologi dengan ketersediaan SDM yang memiliki kompetensi tersebut.
Kesenjangan ini menjadi semakin penting di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat. BI sendiri membutuhkan kemampuan data science dan analitik untuk mendukung berbagai kebutuhan, termasuk dalam pemanfaatan AI.
Destry menilai struktur pendidikan di Indonesia perlu beradaptasi dengan perubahan kebutuhan tersebut. Salah satunya dengan mendorong lebih banyak generasi muda untuk menekuni bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika atau Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM).
"Tadi Pak Menteri Brian (Mendikdasmen) menyampaikan minat relatif berkurang masuk ke ilmu STEM itu akan memperlebar gap demand talenta teknologi tinggi dengan supply-nya," tuturnya.
Karena itu, dalam proses rekrutmen ke depan, BI akan memberikan porsi yang lebih besar bagi calon pegawai dengan latar belakang ilmu pengetahuan alam (IPA) dan bidang terkait teknologi.
"Di BI sekarang dalam rekrutmen prioritaskan kursi latar belakang IPA lebih besar karena faktanya untuk teknologi. Data science kita butuh kemampuan membaca AI dan data analytical yang besar," jelas Destry.
Destry mengatakan Indonesia sebenarnya memiliki modal demografi yang kuat untuk menjadi negara yang semakin terdigitalisasi. Sekitar 69% penduduk Indonesia berada dalam usia produktif.
Namun, besarnya populasi usia produktif belum otomatis membuat Indonesia memiliki talenta digital yang memadai.
Menurut dia, penggunaan perangkat digital oleh masyarakat sudah sangat luas. Hampir setiap anak muda memiliki telepon seluler, bahkan satu orang dapat memiliki lebih dari satu perangkat.
Persoalannya, kemampuan untuk memanfaatkan teknologi tersebut secara produktif masih perlu ditingkatkan.
"Anak muda pasti memiliki HP dan satu orang bisa 2-3 punya handphone, tapi pemanfaatannya masih minim," kata Destry.
Dia menilai peningkatan literasi teknologi menjadi penting agar masyarakat tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menciptakan inovasi berbasis teknologi.
BI sendiri terus melakukan pengembangan kapasitas SDM digital. Destry mengatakan saat ini terdapat sekitar 330 pegawai BI yang sedang mengikuti pendidikan untuk meningkatkan kemampuan digital.
Sebelumnya, BI juga telah melakukan pembinaan terhadap sekitar 800 talenta untuk dikembangkan menjadi SDM yang memiliki kompetensi digital.
Destry menuturkan, pengembangan talenta tersebut perlu dilakukan secara berkelanjutan karena perkembangan teknologi berlangsung sangat cepat.
"BI tidak bisa sendiri. Kami meningkatkan capacity building anak-anak muda kami. Tugas kami memang dalam PIDI untuk upscaling dan reskilling digital dan ini mendesak karena inovasi berubah dengan cepat," ujarnya.
(haa/haa)
[Gambas:Video CNBC]