Gubernur Lampung sebut hilirisasi solusi maksimalkan kelola potensi daerah
Bandarlampung (ANTARA) - Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengatakan adanya hilirisasi menjadi solusi untuk mengelola potensi daerah dengan maksimal sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat di wilayahnya.
"Lampung memiliki posisi yang sangat strategis sebagai pintu gerbang Sumatera. Kita memiliki kekuatan besar di sektor pertanian, sektor perkebunan, perikanan, pariwisata, perdagangan, industri, UMKM, dan juga ekonomi kreatif," ujar Rahmat di Bandarlampung, Senin.
Ia mengatakan beragam potensi tersebut harus dikelola dengan maksimal, agar bisa menjadi kekuatan ekonomi yang memberikan nilai tambah dan manfaat nyata bagi masyarakat di daerahnya.
"Kita tidak ingin Provinsi Lampung hanya menjadi daerah penghasil bahan mentah. Oleh karena itu hilirisasi harus dilakukan untuk mengelola potensi yang ada. Sehingga hasil pertanian, perkebunan, perikanan, dan berbagai komoditas unggulan Lampung dapat diolah di daerah, serta meningkatkan kesejahteraan rakyat," katanya.
Menurut dia, hilirisasi dapat menjadi solusi untuk mengelola berbagai komoditas yang masih berbentuk bahan mentah untuk dikelola menjadi produk turunan dengan nilai tambah yang lebih tinggi.
"Dengan hilirisasi, komoditas akan memiliki nilai tambah lebih tinggi, membuka lapangan kerja baru dan tentunya bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Inilah bagian dari ikhtiar kita untuk membangun kedaulatan ekonomi Lampung," ujar dia.
Pada 2023 tercatat ada sebanyak 735.894 rumah tangga usaha pertanian di Provinsi Lampung, hal itu menunjukkan bahwa penduduk Lampung hidup dan bergantung dari aktivitas sektor pertanian.
Pemerintah Provinsi Lampung juga telah berupaya mendukung pelaksanaan hilirisasi dengan mengalokasikan mesin pengering komoditas di berbagai desa di 2026 sebanyak 82 unit dengan nilai mencapai Rp27,36 miliar.
Dan sejumlah komoditas unggulan Lampung yakni padi dengan produksi 3,2 juta ton dengan luas tanam mencapai 596,02 ribu hektare, dan nilai ekonomi Rp25,48 triliun. Jagung produksi 1,2 juta ton, dengan luas tanam 194,48 ribu hektare dengan nilai ekonomi Rp7,58 triliun, ubi kayu produksi 7,5 juta ton dengan luas 228 ribu hektare dan nilai ekonomi Rp10,16 triliun.
Kemudian nanas produksi sebanyak 698 ribu ton, berasal dari area seluas 8.166 hektare dan nilai ekonomi Rp6,29 triliun, pisang produksi sebanyak 2 juta ton dengan luas tanam 10 ribu hektare dan nilai ekonomi Rp30 triliun, lada produksi 14 ribu ton, luas 44 ribu hektare dan nilai ekonomi Rp1,46 triliun.
Selanjutnya tebu produksi sebanyak 767.947 ton dengan luas tanam 151.736 hektare dan nilai ekonomi Rp518 miliar, kopi produksi 127 ribu ton, luas lahan 152 ribu hektare serta nilai ekonomi Rp654 miliar, karet produksi sebanyak 175 ribu ton, luas 194 ribu hektare nilai ekonomi Rp1,9 triliun, kelapa produksi 88.643 ton dengan luas 90 ribu hektare dan nilai ekonomi Rp2 triliun, kakao produksi 49 ribu ton dengan luas 77 ribu hektare dan nilai ekonomi Rp4,36 triliun dan kelapa sawit dengan produksi 441 ribu ton memiliki luas tanam 199 ribu hektare dan nilai ekonomi sebesar Rp1,19 triliun.
Pewarta : Ruth Intan Sozometa Kanafi
Editor:
Agus Wira Sukarta
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.