kingsheadwye.com

Guru Besar ULM ingatkan "Silent Death" akibat Super El Nino - ANTARA News Kalimantan Selatan

Banjarbaru (ANTARA) - Guru Besar Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Kalimantan Selatan Prof Husaini mengingatkan ancaman silent death atau kematian senyap akibat fenomena Super El Nino yang berpotensi menimbulkan dampak serius terhadap kesehatan manusia, ketahanan pangan, ketersediaan air bersih, dan lingkungan.

"Super El Nino tidak merobohkan bangunan dalam semalam. Ia bekerja perlahan, menaikkan suhu beberapa derajat, memperpanjang kemarau beberapa minggu, dan menggeser pola hujan ke wilayah lain. Perubahan yang terlihat kecil itu, dalam skala jutaan jiwa, dapat berubah menjadi angka kematian nyata," ujar akademisi ULM itu di Banjarbaru, Rabu.

Menurut dia, bahaya utama El Niño terletak pada dampaknya yang berlangsung secara perlahan sehingga kerap tidak dikenali sebagai bagian dari suatu bencana. Korban dapat meninggal akibat serangan jantung, gangguan pernapasan, demam berdarah dengue (DBD), maupun gizi buruk tanpa secara langsung dikaitkan dengan fenomena iklim tersebut.

"Ada pembunuh yang tidak pernah terdengar. Tidak ada suara ledakan, tidak ada bangunan yang runtuh, tetapi manusia bisa kehilangan nyawa akibat panas ekstrem, kekeringan, kelaparan, dan rusaknya lingkungan. Inilah yang perlu kita waspadai sebagai silent death," katanya.

Prof Husaini menilai terdapat kemiripan antara kejadian El Nino pada masa lalu, termasuk fenomena yang dikaitkan dengan tahun 1887, dan ancaman iklim pada 2026. Namun, besarnya dampak pada masa kini perlu dilihat mempertimbangkan perubahan iklim, pertumbuhan penduduk, kondisi lingkungan, serta kemampuan masyarakat menghadapi cuaca ekstrem.

Ia menjelaskan El Nino merupakan fenomena interaksi laut dan atmosfer di Samudra Pasifik yang memengaruhi pola cuaca global. Ketika fenomena itu menguat, sebagian wilayah Indonesia berpotensi mengalami curah hujan di bawah normal, musim kemarau lebih panjang, dan peningkatan suhu udara. Kondisi itu dapat memperbesar risiko kekeringan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), gangguan kesehatan, serta penurunan produksi pangan.

Istilah "silent death" (kematian diam-diam) dalam laporan media seperti Al Jazeera serta berbagai organisasi hak asasi manusia yang terjadi secara perlahan akibat kelaparan ekstrem, suhu panas yang ekstrem, malnutrisi, dan hancurnya total sistem kesehatan, bukan karena hantaman bom atau serangan militer secara langsung. 

Prof Husaini mengutip laporan yang diberitakan Reuters pada tahun 2026 mengenai perkiraan peneliti Climate Impact Lab dari Universitas Chicago bahwa panas ekstrem yang dikaitkan fenomena Super El Niño berpotensi menyebabkan hingga 451.000 kematian tambahan di seluruh dunia selama Juni 2026 hingga Februari 2027.

Indonesia dalam perkiraan itu disebut berpotensi mengalami sekitar 19.300 kematian tambahan, sedangkan Nigeria diperkirakan mencapai 31.400 kematian dan Sudan sekitar 17.600 kematian.

Angka tersebut merupakan perkiraan berbasis pemodelan, bukan jumlah kematian yang telah terkonfirmasi. Karena itu, Prof Husaini menekankan pentingnya memahami risiko tersebut sebagai peringatan agar pemerintah dan masyarakat memperkuat langkah antisipasi.

Menurut dia, kelompok lanjut usia, ibu hamil, anak-anak, penderita penyakit jantung, serta pekerja yang banyak beraktivitas di luar ruangan menjadi kelompok yang rentan terhadap peningkatan suhu ekstrem.

Paparan panas berkepanjangan dapat membebani kerja jantung dan pembuluh darah. Apabila kemampuan tubuh mengatur suhu terganggu, risiko dehidrasi, kelelahan akibat panas, hingga serangan panas atau heat stroke dapat meningkat. Dampaknya juga dapat diperburuk keterbatasan akses terhadap air bersih, fasilitas kesehatan, dan tempat berlindung dari panas.

"Jangan sampai kita baru menyadari bahayanya ketika masyarakat mulai jatuh sakit dan angka kematian meningkat. Ancaman ini harus dibaca sejak awal melalui informasi iklim dan kondisi kesehatan masyarakat," ujar Husaini yang juga Koordinator Kampus ULM Banjarbaru itu.

Selain panas ekstrem, Prof Husaini mengingatkan perubahan pola hujan dapat memengaruhi penyebaran penyakit menular, termasuk penyakit DBD. Perubahan suhu, kelembapan, dan ketersediaan tempat perkembangbiakan nyamuk dapat mengubah pola penularan penyakit di berbagai daerah.

Indonesia, termasuk Kalimantan Selatan, perlu memperkuat pemantauan penyakit yang sensitif terhadap perubahan iklim. Langkah itu penting agar pemerintah dapat mengantisipasi peningkatan kasus melalui surveilans, pemberantasan sarang nyamuk, dan kesiapan pelayanan kesehatan.

Ia juga menyoroti ancaman terhadap ketahanan pangan. Kemarau panjang dapat mengganggu produksi padi dan palawija, mengurangi ketersediaan air untuk pertanian, serta meningkatkan tekanan terhadap harga bahan pangan.

Bagi keluarga berpenghasilan rendah, kondisi itu berpotensi mengurangi kualitas konsumsi pangan dan meningkatkan risiko kekurangan gizi, terutama pada bayi, balita, dan ibu hamil.

"Ketika hasil panen menurun, air semakin sulit diperoleh, dan harga pangan meningkat, dampaknya bukan hanya persoalan ekonomi. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat memengaruhi kesehatan dan keselamatan masyarakat," katanya.

Menurut dia, dampak El Nino harus dipahami sebagai rangkaian persoalan yang saling berkaitan. Kekeringan dapat mengganggu produksi pangan, meningkatkan risiko karhutla, memperburuk kualitas udara, dan pada saat bersamaan menambah beban pelayanan kesehatan.

Prof Husaini secara khusus mengingatkan kerentanan Kalimantan terhadap karhutla ketika kemarau menguat. Lahan gambut yang mengering dapat menjadi sumber kebakaran yang sulit dipadamkan, sedangkan asapnya berpotensi menyebar hingga ke wilayah yang jauh dari titik api.

Partikel halus dari asap kebakaran dapat masuk ke saluran pernapasan dan memperburuk berbagai gangguan kesehatan, mulai dari asma hingga penyakit kardiovaskular.

Dampak asap tidak selalu dirasakan secara langsung. Seseorang yang mengalami gangguan kesehatan di kawasan perkotaan bisa saja terpapar polusi yang berasal dari kebakaran di daerah lain.

Karena itu, ia menilai pencegahan karhutla harus menjadi prioritas sebelum puncak kemarau, bukan hanya mengandalkan pemadaman setelah kebakaran meluas.

Upaya tersebut mencakup pemantauan titik api, perlindungan dan pembasahan lahan gambut, penegakan larangan pembakaran lahan, serta penguatan koordinasi lintas instansi.

Di sisi lain, masyarakat perlu mendapatkan informasi kualitas udara dan imbauan kesehatan secara berkala, terutama ketika konsentrasi asap meningkat.

Prof Husaini menegaskan salah satu keunggulan dalam menghadapi El Nino adalah fenomena tersebut dapat dipantau melalui data iklim dan diperkirakan sebelum dampak terburuknya terjadi.

Karena itu, informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) perlu diterjemahkan menjadi kebijakan yang konkret oleh pemerintah pusat maupun daerah.

Ia mendorong pemerintah memperkuat kesiapan fasilitas kesehatan, menyediakan air bersih bagi wilayah rawan kekeringan, melindungi kelompok rentan dari paparan panas, serta memastikan ketersediaan pangan dan dukungan gizi bagi keluarga yang membutuhkan.

Penyesuaian kalender tanam, penggunaan varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kekeringan, pemeliharaan sumber air, dan penguatan sistem peringatan dini karhutla juga perlu dilakukan secara terpadu.

Menurut dia, ancaman El Nino tidak cukup dihadapi melalui respons darurat ketika kekeringan, kebakaran, atau penyakit sudah meluas. Pemerintah harus mengintegrasikan informasi iklim dengan perencanaan kesehatan, lingkungan, pertanian, dan perlindungan sosial.

"Jangan hanya bersiap menghadapi bencana yang terlihat dan terdengar. Kita juga harus bersiap menghadapi bencana yang datang perlahan, tetapi dampaknya dapat merenggut banyak nyawa," ujarnya.

Ia menambahkan, istilah silent death bukan semata-mata untuk menimbulkan ketakutan, melainkan meningkatkan kesadaran dampak perubahan iklim dapat mengancam kehidupan melalui berbagai jalur yang tidak selalu terlihat secara langsung.

"Super El Nino harus menjadi peringatan bagi kita semua untuk bertindak selagi masih ada waktu. Ketika dampaknya sudah menjadi krisis kesehatan, pangan, air, dan lingkungan, biaya penanganannya akan jauh lebih besar dibandingkan dengan upaya pencegahan sejak dini," kata Prof Husaini.

Pewarta: Yose Rizal
Editor : Firman

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.