Harga Emas Dunia Turun Sepekan, Investor Waspada Kenaikan Bunga The Fed
Liputan6.com, Jakarta - Harga emas dunia menuju penurunan mingguan karena pelaku pasar mencermati peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) lebih lanjut pada tahun ini. Kekhawatiran tersebut muncul setelah serangkaian data inflasi Amerika Serikat (AS) menunjukkan kenaikan yang lebih tinggi dari perkiraan.
Mengutip CNBC, Sabtu (17/10/2026), harga emas di pasar spot naik tipis 0,1% menjadi US$ 4.175,34 per ons pada akhir perdagangan Jumat. Namun, sepanjang pekan ini, harga emas masih terkoreksi 0,4%.
Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember naik 0,7% menjadi US$ 4.198,20 per ons.
Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities, Bart Melek, mengatakan pergerakan harga emas masih terbatas dalam rentang tertentu dan cenderung mendekati batas bawah level dukungan.
“Kita masih bergerak dalam rentang yang terbatas dan cenderung menuju batas bawah level dukungan. Alasan utamanya adalah masih banyak ketidakjelasan mengenai langkah yang akan diambil The Fed,” kata Melek.
Ketidakpastian arah kebijakan moneter AS menjadi salah satu faktor yang membatasi penguatan harga emas.
Inflasi AS Memanas, Peluang Kenaikan Suku Bunga Meningkat
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9349514/original/042048300_1789531576-ChatGPT_Image_Sep_16__2026__11_05_46_AM.jpg)
Perbesar
Ketua The Fed Kevin Warsh menyampaikan optimisme terhadap kekuatan ekonomi AS. Namun, ia tidak memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga bank sentral selanjutnya.
Data yang dirilis Kamis menunjukkan harga produsen AS mencatat kenaikan bulanan terbesar dalam 4,5 tahun terakhir. Data tersebut menyusul laporan inflasi konsumen pada Rabu yang menunjukkan kenaikan harga semakin cepat pada September.
Presiden Federal Reserve Bank of Chicago, Austan Goolsbee, menyebut data inflasi tersebut sebagai sesuatu yang “mengecewakan”.
Sementara itu, Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland, Beth Hammack, mengatakan The Fed mungkin perlu menaikkan suku bunga secara lebih agresif jika ekspektasi inflasi masyarakat memburuk secara signifikan.
Menurut perangkat FedWatch milik CME Group, pelaku pasar secara umum memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada bulan ini. Namun, peluang kenaikan suku bunga pada Desember diperkirakan mencapai 90%.
Emas biasanya dipandang sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi. Namun, kenaikan suku bunga cenderung mengurangi daya tarik emas karena logam mulia ini tidak memberikan imbal hasil bunga.
Harga Emas Berpotensi Melemah hingga Akhir Tahun
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9310807/original/088871800_1785371580-Gemini_Generated_Image_hjxpijhjxpijhjxp.jpg)
Perbesar
Ekonom Iklim dan Komoditas Capital Economics, Hamad Hussain, memperkirakan harga emas berpotensi bergerak lebih rendah hingga akhir 2026.
“Sepanjang sisa tahun ini, harga emas kemungkinan akan bergerak turun secara bertahap seiring The Fed terus menaikkan suku bunga dan kekhawatiran mengenai berakhirnya ledakan investasi AI terbukti hanya bersifat sementara,” kata Hussain.
Prospek tersebut mencerminkan tekanan dari kebijakan moneter yang lebih ketat serta perubahan sentimen investor terhadap sektor teknologi dan kecerdasan buatan (AI).
Di sisi lain, pasar emas India mencatat perkembangan berbeda. Harga emas di negara tersebut diperdagangkan dengan premi pada pekan ini untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga bulan. Penurunan harga sebelumnya mendorong peningkatan pembelian perhiasan.
Sementara itu, harga logam mulia lainnya di pasar spot bergerak menguat pada Jumat. Perak naik 0,3% menjadi US$ 57,62 per ons, platinum menguat 1,1% menjadi US$ 1.643,70 per ons, dan paladium naik 0,4% ke US$ 1.130,75 per ons.
Meski mencatat kenaikan pada perdagangan harian, ketiga logam tersebut masih berada di jalur penurunan mingguan.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6