Hashim nilai pengembangan energi fosil dan EBT harus saling melengkapi
Saya kira untuk energi baru, sudah keputusan pemerintah untuk lebih tambah lagi PLTS dan lain-lain. Tapi, kita juga harus eksplorasi dan produksi.
Jakarta (ANTARA) - Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Iklim Hashim Djojohadikusumo menilai pengembangan produksi energi konvensional seperti energi fosil harus terus berjalan dan saling melengkapi seiring dengan pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT).
“Saya kira dua-duanya (energi konvensional dan pengembangan EBT) masih sangat diperlukan, kita tidak bisa terlalu complacent, terlalu puas dengan apa yang terjadi, kita harus (mengupayakan) dua-duanya,” kata Hashim dalam acara Leaders Briefing 2026, di Jakarta, Kamis.
Ia mengakui bahwa energi konvensional yang didapatkan dari batu bara memang perlahan mulai meredup atau memasuki masa sunset. Namun, ia memperkirakan energi tersebut masih cukup untuk dieksplorasi hingga 20-30 tahun mendatang.
“Tetap eksplorasi, karena energi dari fossil fuels itu saya kira masih lama (bertahan). Itu sunset, tapi mungkin 20-30 tahun lagi,” ujarnya.
Lebih lanjut, Hashim mengatakan upaya tersebut saat ini masih sangat diperlukan, mengingat visi ketahanan energi nasional serta dinamika geopolitik global yang membuat harga minyak dunia semakin fluktuatif.
“Kita sudah melihat akibat perang antara Israel, Amerika, dan Iran, bagaimana sangat rentan supply chain yang saya kira (terjadi) di dunia,” kata dia.
Meski demikian, ia memastikan pemerintah sangat mendorong pengembangan EBT melalui berbagai sumber energi alternatif, seperti energi surya hingga panas bumi yang sangat melimpah di Indonesia.
Pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), misalnya, telah masuk dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) hingga 2034 dengan target 17,1 gigawatt (GW).
Langkah ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk meningkatkan kapasitas pembangkit listrik energi surya hingga 100 GW.
Pembangunan PLTS berkapasitas 100 GW ini pun menjadi langkah strategis pemerintah guna mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil sekaligus mendukung target ambisius 100 persen listrik dari energi terbarukan dalam 10 tahun ke depan.
“Saya kira untuk energi baru, sudah keputusan pemerintah untuk lebih tambah lagi PLTS dan lain-lain. Tapi, kita juga harus eksplorasi dan produksi,” ujar Hashim pula.
Baca juga: Agrinas-Pertamina NRE menjajaki peluang pengembangan EBT
Baca juga: Kemdiktisaintek-Pertamina kolaborasi perkuat SDM ketahanan energi
Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Budisantoso Budiman
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.