kingsheadwye.com

Insentif Motor Listrik Disebut Jadi Angin Segar buat ASII, VKTR, INDY, DRMA - Bursa Katadata.co.id

Rencana pemerintah untuk memberikan insentif pembelian motor listrik berpotensi menjadi sentimen positif bagi sejumlah emiten yang memiliki eksposur terhadap ekosistem kendaraan listrik (EV). Sebut saja PT Astra International Tbk (ASII), PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR), hingga PT Indika Energy Tbk (INDY).

Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, menilai wacana pemberian insentif kendaraan listrik berpotensi menjadi katalis positif bagi emiten yang terhubung dengan ekosistem EV. Sejumlah emiten seperti ASII dan DRMA diperkirakan mendapat angin segar. Begitu pula perusahaan di sektor nikel dan baterai seperti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Vale Indonesia Tbk (INCO), dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA). 

Menurut Elandry, kenaikan produksi dan penjualan kendaraan listrik juga dapat mendorong kinerja emiten komponen otomotif serta manufaktur pendukung. Dalam jangka panjang, prospek industri EV dinilai menarik seiring berlanjutnya tren elektrifikasi dan meningkatnya penetrasi kendaraan listrik di Indonesia.

Namun, ia menyebut dampaknya terhadap kinerja emiten akan bergantung pada implementasi insentif, perkembangan permintaan EV, dan kemampuan masing-masing perusahaan dalam mengerek earnings. “Jadi, saya melihatnya sebagai katalis positif dengan outlook jangka panjang yang cukup baik bagi emiten yang memiliki eksposur kuat terhadap ekosistem EV,” kata Elandry kepada Katadata.co.id, Selasa (18/8). 

Di samping itu, Elandry mengatakan saham Grup Bakrie VKTR dan Arsjad Rasjid PT Indika Energy (INDY) juga menarik karena sudah memiliki eksposur langsung ke ekosistem kendaraan listrik. Walaupun tidak mendapat insentif secara langsung, kata Elandry, keduanya tetap berpotensi mendapat manfaat dari percepatan adopsi EV, pertumbuhan demand, dan perluasan ekosistem charging

“Untuk jangka panjang, prospeknya cukup menarik, dengan tetap melihat profitability dan execution risk,” ucap Elandry.

Presiden Prabowo Subianto sebelumnya mengungkapkan rencana pemberian insentif untuk 1 juta motor listrik yang diproduksi di dalam negeri. Tujuannya, untuk memangkas pengunaan bahan bakar minyak (BBM), sekaligus memacu berkembangnya industri motor listrik nasional (molinas). 

“Kami akan beri insentif yang cukup besar untuk 1 juta motor listrik, yang diproduksi dalam negeri oleh perusahaan Indonesia,” kata Prabowo, dalam pidatonya dalam Rapat Paripurna DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Jumat (14/8). 

Dia belum memerinci insentif yang dimaksud. Namun sebelumnya, dia menyebut beberapa kemungkinan insentif untuk pembeli, seperti penurunan bunga cicilan, penghapusan uang muka kredit, hingga tukar tambah motor bensin dengan motor listrik. Prabowo mengatakan, impor BBM menghabiskan US$ 28-30 miliar per tahun. Sementara biaya yang dikeluarkan pengguna kendaraan BBM juga tinggi. 

“Kami perkirakan, mereka akan bayar 50 persen lebih rendah dari pengeluaran yang mereka lakukan sekarang untuk motor BBM, bahkan bisa nanti turun, hanya 30 persen dari biaya yang mereka keluarkan sekarang,” ujar dia.

Menurut Prabowo, Indonesia hampir memiliki seluruh unsur dalam rantai pasok baterai dan kendaraan listrik. Sebab itu, mendorong industri ini lebih lanjut akan sekaligus membuka kesempatan kerja dan peningkatan penghasilan bagi masyarakat.  

Saat ini, pemerintah melalui Danantara dan BUMN yang menjadi induk industri pertahanan, PT Len Industri, tengah mengoordinasikan pengembangan ekosistem molinas. Pada Kamis (13/8), Prabowo meresmikan ekosistem molisnas di fasilitas produksi PT Ilectra Motor Group (ALVA) di Bekasi, Jawa Barat. 

Targetnya, Indonesia memiliki ekosistem motor listrik yang lengkap mencakup industri manufaktur, komponen dan baterai, fasilitas pengisian dan penukaran baterai, pembiayaan, distribusi, layanan purnajual, hingga penyerapan pasar. 

Pemerintah mengestimasi, pembentukan ekosistem ini dapat menciptakan sekitar 215 ribu lapangan kerja di sektor original equiment manufacturer (OEM), komponen, baterai, infrastruktur pengisian daya, hingga jasa.