kingsheadwye.com

Kabupaten Kuningan lakukan Program Optimalisasi Lahan 725 ha pada 2026 untuk pertanian - ANTARA News Jawa Barat

Kuningan (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, melakukan Program Optimalisasi Lahan (Oplah) Pertanian 2026 seluas 725 hektare dengan mengandalkan Survey Investigation Design (SID) dan Detail Engineering Design (DED) sebagai dasar perencanaan teknis.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Diskatan) Kabupaten Kuningan Wahyu Hidayah di Kuningan, Senin, mengatakan penyusunan SID dan DED diperlukan agar pelaksanaan Oplah sesuai dengan kondisi lahan dan kebutuhan petani di setiap wilayah sasaran.

"SID dan DED bukan sekadar dokumen administratif, tetapi menjadi fondasi utama untuk memastikan setiap hektare lahan yang dioptimalkan sesuai dengan karakteristik wilayah dan kebutuhan petani," katanya.

Ia menjelaskan alokasi Oplah seluas 725 hektare tersebut tersebar di 20 kecamatan, dengan sasaran 29 desa atau kelompok tani di Kabupaten Kuningan.

Sebaran lokasi tersebut, kata dia, menjadi pertimbangan dalam penyusunan desain teknis sehingga kegiatan optimalisasi dapat disesuaikan dengan karakteristik lahan, kebutuhan infrastruktur, serta kondisi pertanian di masing-masing wilayah.

Menurut Wahyu, SID dan DED mencakup perencanaan lokasi prioritas, desain infrastruktur, volume pekerjaan hingga penentuan penerima manfaat untuk meningkatkan ketepatan pelaksanaan program.

“Perencanaan yang lebih rinci diharapkan dapat mengurangi kendala saat pelaksanaan sekaligus memastikan anggaran Oplah digunakan secara efektif sesuai kebutuhan di lapangan,” katanya.

Wahyu mengatakan Oplah 2026 tidak hanya diarahkan untuk pembangunan maupun perbaikan infrastruktur pertanian, tetapi juga meningkatkan produktivitas lahan yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.

Program tersebut ditujukan untuk meningkatkan indeks pertanaman sehingga lahan dapat dimanfaatkan lebih dari satu kali dalam setahun serta mendukung peningkatan produksi padi dan komoditas pangan strategis.

"Perencanaan berbasis SID dan DED juga membuka ruang penerapan teknologi budidaya yang lebih tepat guna sesuai kondisi spesifik lokasi," ujarnya.

Selain peningkatan produktivitas, lanjut dia, optimalisasi lahan juga mencakup penguatan pengelolaan sumber daya air melalui perbaikan jaringan irigasi yang disesuaikan dengan karakteristik masing-masing wilayah.

Wahyu menilai optimalisasi 725 hektare tersebut dapat memperluas areal tanam efektif, sekaligus mengatasi sejumlah faktor pembatas yang selama ini memengaruhi produktivitas lahan pertanian.

Ia menambahkan, peningkatan produktivitas lahan diharapkan berdampak terhadap penguatan ketahanan pangan daerah serta peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani.

"Seluruh proses harus melibatkan UPTD, penyuluh, dan kelompok tani sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan agar hasilnya benar-benar memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi petani," katanya.

Pewarta: Fathnur Rohman
Editor : Ricky Prayoga

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.