Keluarga yang Diinginkan Alquran: Bagaimana Seharusnya Anak yang Ideal? |Republika Online
Seorang ibu mengajarkan anaknya mengaji dengan penerangan lampu minyak di rumahnya yang belum mendapatkan layanan listrik di Dusun Geragai, Desa Lagan Ulu, Tanjung Jabung Timur, Jambi, Ahad (9/7/2023). Warga setempat menyebutkan, sebanyak 86 kepala keluarga (KK) atau sekitar 300 jiwa lebih, warga di desa yang hanya berjarak belasan kilometer dari pusat pemerintahan Kabupaten Tanjung Jabung Timur itu belum mendapatkan layanan listrik meski telah puluhan tahun mengajukan permohonan.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Sementara itu, Alquran juga berbicara tentang salah satu pembentuk keluarga ideal yaitu anak-anak. Seperti Apakah anak-anak yang dikehendaki Alquran?
Anak yang dikehendaki Alquran adalah anak yang karakter dan keteladanannya tercermin dalam tiga nabi Allah, yaitu Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, dan Nabi Yusuf alaihimussalam. Penjelasannya sebagai berikut ini:
1. Nabi Ibrahim AS, berbakti dalam keadaan menghadapi kekasaran dan penolakan
Anak yang dikehendaki Alquran adalah Nabi Ibrahim AS.
Ayahnya seorang kafir yang bersikap keras. Ia bahkan membuat berhala dengan tangannya sendiri.
Tidak hanya itu, ayahnya juga mengancam akan merajam dan mengusir putranya yang seorang nabi. Ia berkata:
لَئِن لَّمْ تَنتَهِ لَأَرْجُمَنَّكَ ۖ وَاهْجُرْنِي مَلِيًّا
“Dia (bapaknya) berkata, ‘Bencikah engkau kepada tuhan-tuhanku, wahai Ibrahim? Jika engkau tidak berhenti, niscaya engkau akan kurajam. Tinggalkanlah aku untuk waktu yang lama.’” (QS Maryam: 46)
Namun, Nabi Ibrahim tidak membalas dengan sikap kasar dan tidak durhaka kepada ayahnya. Sebaliknya, beliau menjawab dengan penuh kesantunan dan kasih sayang:
قَالَ سَلَامٌ عَلَيْكَ ۖ سَأَسْتَغْفِرُ لَكَ رَبِّي ۖ إِنَّهُ كَانَ بِي حَفِيًّا
“Dia (Ibrahim) berkata, ‘Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu. Aku akan memohonkan ampunan bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku.’” (QS Maryam 47).
Pesannya: Alquran menghendaki seorang anak yang tetap berbakti kepada ayahnya meskipun sang ayah bersikap kasar, serta tetap merendahkan hati di hadapannya meskipun ia diperlakukan dengan keras.