Kemenkes Ingatkan Bahaya Copycat Suicide Usai Kasus di GBK
Jakarta, CNN Indonesia --
Seorang pria ditemukan meninggal di kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta Pusat, pada Minggu (6/9) dini hari. Kasus tersebut kembali mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam memberitakan maupun membicarakan kasus bunuh diri.
Terlebih, sebelum kejadian, sempat beredar unggahan di media sosial yang diduga berkaitan dengan niat mengakhiri hidup. Ketika informasi mengenai kasus bunuh diri menyebar luas, cara pemberitaan maupun pembahasannya perlu menjadi perhatian.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengingatkan adanya risiko copycat suicide, yakni tindakan bunuh diri yang terinspirasi dari kasus atau pemberitaan bunuh diri sebelumnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Karena itu, pembahasan mengenai bunuh diri sebaiknya tidak berhenti pada peristiwa maupun cara seseorang mengakhiri hidup. Informasi juga perlu diarahkan pada upaya mendorong orang yang sedang menghadapi masalah untuk mencari pertolongan.
"Karena memang bisa menginspirasi orang lain bertindak bunuh diri bila mengalami masalah. POV-nya perlu dibalik, orang dengan masalah perlu cari pertolongan," kata Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes RI, Imran Pambudi, seperti dikutip dari detikHealth.
Anak-anak mulai mengakses layanan
Imran mengatakan masyarakat yang sedang mengalami tekanan psikologis dapat memanfaatkan layanan Healing119.id yang tersedia secara gratis. Layanan tersebut menyediakan dukungan psikologis awal sekaligus informasi bagi masyarakat yang menghadapi tekanan, keputusasaan, maupun dorongan untuk mengakhiri hidup.
Berdasarkan catatan layanan Healing119.id sepanjang 31 Juli 2025 hingga 31 Juli 2026, kelompok usia 21-30 tahun menjadi pengguna layanan terbanyak. Meski demikian, layanan tersebut juga telah diakses oleh anak-anak.
Tercatat satu anak berusia 8 tahun, satu anak berusia 9 tahun, serta sembilan anak berusia 10 tahun yang mengakses layanan tersebut. Imran mengatakan salah satu keluhan yang muncul pada kelompok usia muda berkaitan dengan kesepian.
"Layanan Healing119.id telah diakses mulai kelompok usia 8 hingga 10 tahun, dan keinginan mengakhiri hidup terbanyak pada kelompok 11-30 tahun," kata Imran.
Perempuan lebih banyak mengakses layanan
Perempuan menjadi kelompok yang paling banyak menggunakan layanan Healing119.id. Proporsinya mencapai 73,93 persen. Dari sekitar 15 ribu konseling yang tercatat, sebanyak 7.600 orang menyatakan ingin melanjutkan konseling. Sementara itu, 3.036 orang mengaku memiliki keinginan untuk mengakhiri hidup.
Sebagian pengakses lainnya datang untuk mencari informasi. Ada pula pesan yang masuk berupa spam atau tidak mendapatkan respons lanjutan dari pengakses. Persoalan yang paling sering ditemukan dalam layanan Healing119.id berkaitan dengan keluarga atau primary support group.
"Masalah dengan primary support group (keluarga) mendominasi di seluruh usia," ujar Imran.
Masalah tersebut dapat berupa konflik antaranggota keluarga, persoalan orang tua dan anak, hingga kekerasan dalam rumah tangga. Selain masalah keluarga, persoalan psikologis dan psikososial juga menjadi salah satu pemicu yang banyak ditemukan. Di antaranya gejala depresi, stres, kecemasan, serta perasaan putus asa.
Permasalahan di lingkungan sosial turut muncul, seperti pengalaman bullying, tekanan dari pertemanan, dan isolasi sosial. Sementara itu, persoalan ekonomi juga menjadi bagian dari masalah yang dihadapi sebagian pengakses.
Kondisi tersebut antara lain berkaitan dengan biaya pendidikan, tekanan finansial keluarga, judi online, hingga pinjaman online. Beragam persoalan tersebut menunjukkan bahwa dorongan untuk mengakhiri hidup dapat muncul ketika seseorang menghadapi berbagai tekanan dalam kehidupan.
Karena itu, ketika seseorang mulai merasa kewalahan atau mengalami keputusasaan, mencari bantuan dan berbicara dengan pihak yang dapat memberikan dukungan menjadi langkah penting.
(Dok. CNNIndonesia)
(anm/tis)