Pakar: Indonesia perlu optimalkan BRICS untuk ketahanan energi, pangan
Pakar: Indonesia perlu optimalkan BRICS untuk ketahanan energi, pangan
Jumat, 11 September 2026 06:45 WIB
Menteri LH/Kepala BPLH Moh Jumhur Hidayat dalam pertemuan Menteri Lingkungan negara-negara anggota BRICS di New Delhi, India pada Selasa (18/8/2026) (ANTARA/HO-KLH)
Jakarta (ANTARA) - Akademisi Hubungan Internasional Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Moch Faisal Karim menyatakan bahwa Pemerintah Indonesia harus mengoptimalkan kerja sama dalam forum BRICS untuk memperkuat ketahanan energi dan pangan nasional.
Ia menuturkan kedua hal tersebut menjadi isu penting karena hingga saat ini jalur pelayaran Selat Hormuz masih ditutup imbas dari konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran, sehingga mengakibatkan terganggunya rantai pasok energi dan pangan global.
“Bagaimana BRICS ini bisa memberikan suatu bentuk kestabilan dan aksesibilitas terhadap energy security (ketahanan energi), itu yang pertama. Yang kedua tentunya adalah terkait dengan isu pangan,” kata Moch Faisal Karim saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Kamis.
Selain menawarkan keuntungan jangka pendek tersebut, ia mengatakan bahwa BRICS juga dapat memberikan keuntungan jangka panjang berupa penguatan citra Indonesia sebagai negara yang berkomitmen menerapkan politik bebas aktif.
Forum kerja sama tersebut bisa menjadi wadah untuk menunjukkan bahwa prinsip multilateralisme masih relevan di tengah semakin banyaknya institusi global yang terpolarisasi.
Ia mengatakan, Pemerintah Indonesia harus bisa mendorong penguatan konsolidasi BRICS agar organisasi tersebut dapat memberikan nilai tambah dibandingkan sekadar membangun kerja sama bilateral antarnegara.
Ia menyampaikan, bahwa Indonesia sudah memiliki perjanjian kerja sama perdagangan dan investasi dengan sejumlah anggota forum tersebut, salah satunya China, India, dan Brazil.
Oleh karena itu, BRICS harus bisa menghasilkan kerja sama yang tidak dapat dibentuk secara bilateral, misalnya terkait dedolarisasi.
Faisal pun menyayangkan bahwa ambisi sejumlah negara anggota terhadap agenda dedolarisasi tersebut semakin berkurang, sementara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump semakin menentang hal tersebut.
“Padahal ini penting kalau kita bisa kerja sama langsung tanpa menggunakan dolar dalam bentuk perdagangan dan lain sebagainya,” imbuhnya.
Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-18 BRICS dijadwalkan berlangsung di New Delhi, India, pada 12-13 September 2026. Forum kerja sama internasional tersebut mengusung tema “Building for Resilience, Innovation, Cooperation and Sustainability” pada tahun ini.
Indonesia bergabung menjadi anggota BRICS pada 6 Januari 2025.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Pakar: Indonesia perlu optimalkan BRICS untuk ketahanan energi, pangan
Pewarta : Uyu Septiyati Liman
Editor:
Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026