kingsheadwye.com

Ketua DEN dorong penguatan talenta keamanan siber RI hadapi era AI

Jakarta (ANTARA) - Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan mendorong penguatan talenta keamanan siber untuk menghadapi peningkatan ancaman digital seiring pesatnya perkembangan kecerdasan artifisial (AI).

“Ancaman keamanan siber semakin meningkat, sementara teknologi kecerdasan artifisial terus berkembang. Kita perlu fokus membangun sumber daya manusia yang memiliki kemampuan keamanan siber,” kata Luhut dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Jumat.

Luhut yang juga pendiri Institut Teknologi Del (IT Del) mengatakan pengembangan kompetensi keamanan siber perlu berjalan seiring dengan penguasaan AI agar generasi muda siap menghadapi perkembangan teknologi.

Kebutuhan tersebut antara lain tercermin dari data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) yang mencatat 1,52 miliar serangan siber di Indonesia pada periode 1 Januari–15 April 2026.

Sementara itu, serangan siber sepanjang 2025 mencapai 5,5 miliar, meningkat 714 persen dibandingkan rata-rata tahunan selama periode 2020–2024.

Menurut Luhut, kompetisi dapat menjadi salah satu upaya dalam memperkuat talenta keamanan siber Indonesia.

Dalam konteks pengembangan talenta tersebut, IT Del dan Spentera Group menggelar babak final kompetisi keamanan siber Hacktrace Independence Day Competition (HIDC) 2026 di Balige, Sumatera Utara, Kamis (24/9), sekaligus memperkuat kolaborasi kampus dan industri.

Kedua pihak menandatangani kerja sama di bidang riset, inovasi, dan program magang untuk menghubungkan pengembangan kemampuan di perguruan tinggi dengan kebutuhan industri keamanan siber.

Babak penyisihan HIDC yang berlangsung sejak 17 Agustus 2026 diikuti 410 peserta dalam 136 tim. Dari tahapan tersebut, tiga tim dengan total sembilan peserta melaju ke babak final.

Ketiga finalis tersebut adalah Boys Who ChatGPT, Petir Pemecut Handal, dan HIB Hoshiyomis. Para finalis berusia di bawah 30 tahun dengan latar belakang mahasiswa maupun profesional, termasuk beberapa di antaranya yang telah bekerja di luar negeri.

Baca juga: Kemenko Kumham Imipas dan BSSN perkuat benteng keamanan siber

Baca juga: Danantara-Thales jajaki investasi bidang AI hingga keamanan siber

Co-Founder dan Owner Spentera Group Royke Lumban Tobing mengatakan peningkatan ancaman siber perlu diimbangi dengan percepatan penyiapan tenaga ahli yang memiliki kompetensi sekaligus memahami etika keamanan siber.

“Kita membutuhkan jauh lebih banyak tenaga ahli keamanan siber yang beretika. Kebutuhan dan ketersediaan SDM kesenjangannya masih terlalu besar,” ujar Royke.

Menurut dia, keamanan siber merupakan bagian penting dari keamanan nasional karena berkaitan dengan perlindungan warga negara dan kedaulatan nasional.

HIDC 2026 menguji peserta melalui delapan tahap dengan sejumlah skenario, antara lain pengamanan fisik, penggunaan software-defined radio (SDR), pengujian keamanan melalui pendekatan red team, serta respons pertahanan menggunakan pendekatan blue team.

Royke mengatakan skenario tersebut disusun berdasarkan pengalaman kebutuhan keamanan siber di industri sehingga peserta dapat berlatih membaca risiko, menyusun strategi, bekerja dalam tim, dan mengambil keputusan.

Ia berharap peserta tidak berhenti pada kompetisi, tetapi dapat berkembang menjadi tenaga profesional keamanan siber yang mampu memenuhi kebutuhan industri dalam negeri sekaligus bersaing di pasar global.

Penyelenggaraan kompetisi di Balige, menurut Royke, juga diarahkan untuk memperluas persebaran talenta keamanan siber agar pengembangan sumber daya manusia di bidang tersebut tidak hanya terpusat di Pulau Jawa.

Rektor IT Del Arnaldo Marulitua Sinaga mengatakan kerja sama perguruan tinggi dan industri dapat membantu mahasiswa memahami tantangan keamanan teknologi yang dihadapi dunia kerja.

“Upaya kita adalah membentuk talenta-talenta keamanan siber. Kita melihat pentingnya keamanan dalam bidang teknologi. IT Del juga ingin berkontribusi di bidang tersebut,” ujar Arnaldo.

Sebelumnya, Spentera juga menjalin kerja sama riset keamanan siber dengan Universitas Indonesia dan Universitas Gadjah Mada.

Perusahaan tersebut juga tengah menyiapkan program sertifikasi untuk membantu talenta mengembangkan kemampuan yang relevan dengan kebutuhan industri.

Baca juga: Fondasi keamanan siber perlu diperkuat untuk hadapi perkembangan AI

Baca juga: Ensign: Model AI canggih bisa lancarkan serangan siber dengan mudah

Baca juga: Penyedia layanan keamanan tekankan pentingnya ekosistem AI yang sehat

Pewarta: Aria Ananda
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.