Kiat menanggulangi penyakit ISPA di musim kemarau
Jakarta (ANTARA) - Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan Aji Muhawarman menyampaikan tren kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) berkait dengan faktor Iklim salah satunya kekeringan.
“Kasus ISPA setiap tahunnya semakin meningkat dan terjadi sepanjang tahun, dimulai dari peralihan musim kemarau ke musim hujan atau sebaliknya,” ujar Aji dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Jumat.
Menurut dia, biasanya masyarakat lebih rentan terkena penyakit apabila terjadi perubahan lingkungan yang ekstrem.
Ia mengatakan keterkaitan antara musim kering atau musim kemarau dengan kejadian ISPA dipengaruhi oleh kualitas udara, dalam hal ini secara hubungan tidak secara langsung.
Salah satu penyebabnya dipicu kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meningkat pada saat musim-musim tersebut yang menghasilkan polutan dalam udara dan menurunkan kualitas udara sekitar.
Baca juga: Gejala hingga kelompok rentan kena ISPA yang perlu diwaspadai
“Salah satu polutan yang menjadi indikator kualitas udara adalah PM 2,5. Apabila kualitas udara menurun maka angka kejadian ISPA meningkat,” tutur dia.
Lebih lanjut, Aji menyampaikan kiat pencegahan yang bisa dilakukan masyarakat untuk menghindari ISPA selama musim kemarau, seperti menggunakan masker saat polusi udara tinggi, melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), hingga menghindari sumber polusi dan asap rokok.
“Mengurangi aktivitas luar ruangan dan menutup ventilasi rumah/kantor/sekolah/tempat umum saat polusi udara tinggi, menggunakan penjernih udara dalam ruangan,” imbuh dia.
Menurut Aji, pentingnya kesiapsiagaan mengingat cuaca panas dan udara kering dapat meningkatkan dehidrasi dan heat stroke, sementara debu, polusi, serta asap kebakaran dapat memperburuk gangguan pernapasan.
“Masyarakat, terutama anak-anak, lansia, dan mereka yang punya penyakit penyerta, harus lebih berhati-hati. Kita ingin pelayanan kesehatan tetap siap sebelum terjadi peningkatan kasus, bukan baru bertindak setelah rumah sakit penuh,” ujar Aji.
Dalam hal ini Kemenkes, lanjut Aji, sudah mengantisipasi dampak kesehatan dari kondisi cuaca panas dan kemarau yang lebih kering.
Rumah sakit, termasuk rumah sakit vertikal Kemenkes disiapkan untuk menangani kasus kegawatdaruratan, termasuk pasien dengan heat stroke, gangguan pernapasan, maupun perburukan penyakit kronis yang dipicu oleh cuaca panas dan kualitas udara.
Baca juga: Waspadai risiko penyakit pernapasan selama musim kemarau
Kemudian, tenaga kesehatan serta fasilitas pendukung disiapkan memberikan pelayanan apabila terjadi peningkatan kebutuhan.
Aji juga mengatakan apabila dibandingkan data tahun lalu di periode bulan yang sama tren kasus ISPA masih mengikuti pola tahunan, dan cenderung menurun dalam laporan tiga minggu terakhir.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, kata Aji, apabila dibandingkan data per tahun dilaporkan sebanyak 15,4 juta kasus ISPA pada tahun 2025 sampai bulan Agustus sedangkan data tahun 2026 pada bulan yang sama tercatat sebanyak 15,6 juta kasus ISPA.
“Daerah yang paling banyak melaporkan kasus ISPA adalah provinsi yang berada di Pulau Jawa. Hal ini membuktikan bahwa daerah-daerah yang padat penduduk yang paling
melaporkan kasus ISPA-nya dibandingkan kasus ISPA di Provinsi yang terdampak Karhutla,” tutur dia.
Aji menyampaikan bahwa ISPA memang kasusnya cukup tinggi dalam sistem pemantauan Kemenkes. Kendati demikian, tingginya kasus ISPA tidak dapat langsung dikaitkan sebagai dampak dari kemarau panjang.
“Tetapi kita perlu hati-hati, karena tidak semua kasus ISPA bisa langsung dikaitkan dengan kemarau panjang. Jadi kita terus pantau trennya dan distribusinya,” kata Aji.
Aji menyampaikan berdasarkan data Kementerian Kesehatan mencatat total kunjungan pasien ISPA di rumah sakit mencapai 676.404 kunjungan sepanjang Januari-Juli 2026.
“Total kunjungan pasien ISPA di RS bulan Januari-Juli 2026 sebanyak 676.404. Rerata perubahan kunjungan pasien ISPA pada bulan Januari-Juli 2026 mengalami penurunan sebesar 0,6 persen,” kata Aji.
Baca juga: Pakar paru ingatkan cuaca panas berlebihan tingkat risiko ISPA
Baca juga: Kiat mengurangi gejala infeksi saluran pernapasan
Pewarta: Sri Dewi Larasati
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.