Kredit Macet Properti Masih Tinggi di Tengah Pertumbuhan Kredit yang Agresif
ILUSTRASI. Teller melayani nasabah yang menabung di Bank BCA (KONTAN/Baihaki)
Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Laju pertumbuhan kredit properti yang masif rupanya dibayangi oleh tingginya rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL).
Laporan analisis uang beredar Bank Indonesia (BI) mencatat kredit properti di sektor perbankan berhasil tumbuh 18,4% secara tahunan (yoy) menjadi Rp 1.718,6 triliun per Juli 2026.
Rinciannya, kredit konstruksi tumbuh 49.7% yoy menjadi Rp 583,6 triliun, kredit real estate naik 16% yoy menjadi Rp 279,2 triliun, sementara kredit pemilikan rumah (KPR) dan kredit pemilikan apartemen (KPA) tumbuh 4,3% yoy menjadi Rp 855.9 triliun.
Namun, BI juga mencatat NPL properti ada di level 3,32%, relatif naik dari posisi 3,26% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Baca Juga: Pelaku Industri Properti Harus Adaptif di Tengah Pasar yang Dinamis
Pun, level NPL ini lebih tinggi ketimbang NPL industri yang menurut catatan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) ada di 2,1% dalam periode sama.
SVP Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan menilai level NPL properti saat ini memang perlu dicermati. Namun, itu tak serta-merta menunjukkan ekspansi kredit properti yang terlalu agresif.
Ia melihat sebagian NPL berasal dari kredit vintage lama karena pembusukan kualitas kredit memiliki jeda waktu.
“Sehingga pertumbuhan kredit baru dan kenaikan NPL belum tentu memiliki hubungan langsung,” jelasnya kepada Kontan, Selasa (14/9/2026).
Trioksa bilang tekanan juga perlu dilihat per segmen kredit. Pasalnya, risiko KPR end-user berbeda dengan kredit developer dan properti komersial, yang lebih rentan terhadap lemahnya penjualan, cash flow proyek, dan refinancing.
Baca Juga: Permintaan Properti Komersial Masih Tumbuh, Gading Serpong Gaspol Tawarkan Peluang
Ia melihat masih ada peluang perbaikan seiring kebijakan yang mendukung sektor properti dan kualitas perbankan secara umum yang masih terjaga.
Kendati begitu, menurutnya bank tetap perlu disiplin dalam underwriting serta mencermati nominal NPL, kredit berisiko (loan at risk/LaR), restrukturisasi, dan kualitas kredit baru.
Di level perbankan, PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) juga terpantau mencatatkan NPL properti di level 3,5% per Juni 2026. Namun, level ini relatif turun dari posisi 3,7% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
NPL properti BTN diberatkan oleh segmen konstruksi, dengan catatan sebesar 19,4%, serta KPR nonsubsidi di level 5,3%. Corporate Secretary BTN Ramon Armando menyebut, level NPL saat ini masih manageable bagi bank.
Ia bilang tekanan lebih banyak berasal dari portofolio existing atau legacy loans, terutama kredit konstruksi dan KPR non subsidi di wilayah penyangga Timur Jakarta yang terdampak relokasi sejumlah aktivitas industri dan pabrik.
“NPL merupakan lagging indicator, sehingga kondisi yang terlihat sekarang bisa mencerminkan tekanan dari portofolio kredit lama. Sementara itu, kualitas booking baru relatif lebih baik karena underwriting dan monitoring terus kami perkuat,” tutur Ramon.
Di luar itu, Ramon memastikan pihaknya terus melakukan berbagai langkah untuk memperbaiki kualitas aset, termasuk memperkuat collection dan recovery.
Baca Juga: REI Optimistis Sektor Properti Tumbuh Hingga 8% pada 2027
Salah satu yang sudah dilakukan adalah mengubah pendekatan collection dari sebelumnya berbasis regional menjadi berbasis klaster.
Dengan pendekatan ini, proses penagihan dinilai bisa lebih fokus dan efektif. Di saat yang sama, efisiensi biaya operasional juga bisa ditingkatkan sehingga perbaikan kualitas kredit dapat dilakukan secara lebih optimal.
Tag