Kualitas Pembiayaan & Biaya Kredit BTPN Syariah (BTPS) Positif, Simak Prospeknya
ILUSTRASI. Petugas Teller BTPN Syariah Melayani Nasabahnya (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)
Reporter: Aura Putri | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. CGS International Sekuritas Indonesia (CGS ID) menilai kinerja PT Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS) pada 2026 masih positif. Perbaikan kualitas pembiayaan dan penurunan biaya kredit menjadi sejumlah faktor yang mendukung prospek perusahaan.
Analis CGS International Sekuritas Handy Noverdanius dalam riset mencatat, laba per saham atau earnings per share (EPS) BTPS berdasarkan kinerja bank-only baru tumbuh 3,2% secara tahunan hingga Agustus 2026. Sementara itu, manajemen menargetkan pertumbuhan EPS di kisaran mid teen tahun ini.
"Manajemen tetap optimis karena kualitas aset masih berada dalam jalur yang sesuai dengan target, meskipun melewati periode musiman yang menantang pada 2Q-3Q," tulis Handy dalam risetnya, Jumat (2/10/2026).
Baca Juga: Allianz Life Catat Premi Produk Dwiguna Rp 219,5 Miliar hingga Agustus 2026
Handy memperkirakan biaya kredit atau cost of credit (CoC) BTPS berada di kisaran 4%-5% pada 2026, turun dibandingkan 7%-8% pada 2025. Selain itu, BTPS mulai kembali menumbuhkan pembiayaan kelompok secara selektif.
Pertumbuhan pembiayaan kelompok tersebut, ditambah basis pembanding yang rendah pada kuartal IV 2025 akibat pencadangan terkait bencana alam di Sumatra, dinilai dapat mendukung percepatan pertumbuhan EPS BTPS pada 2026.
Di sisi lain, Handy menyoroti segmen pembiayaan mikro. Berdasarkan hasil pengecekan di lapangan, PT Permodalan Nasional Madani (PNM), anak usaha PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), mulai menguji coba Kredit Perempuan Prasejahtera (KPPS).
Produk tersebut merupakan kredit mikro dengan bunga 8% per tahun yang ditujukan bagi perempuan dan keluarga prasejahtera. CGS menilai dampak produk tersebut terhadap BTPS relatif terbatas, mengingat potensi kuota penyaluran kredit.
Aturan mengenai subsidi bunga 10% dari pemerintah untuk produk KPPS tersebut belum diterbitkan oleh Kementerian Keuangan saat laporan disusun. Selain itu, nasabah ultra-mikro umumnya lebih mengandalkan arus kas usaha harian dibandingkan tingkat bunga pinjaman. Hal ini karena angsuran pembiayaan dilakukan setiap minggu atau dua minggu sekali.
Selain prospek kinerja, CGS menyoroti rencana pembelian kembali saham atau buyback BTPS senilai maksimal Rp 1 triliun yang diumumkan pada 4 September 2026. Rencana tersebut masih menunggu persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 13 Oktober 2026.
Baca Juga: Ekuitas Lembaga Keuangan Mikro Turun 2,34% per Agustus 2026, Ini Kata Aslindo
Jika disetujui, pelaksanaan buyback dijadwalkan mulai 14 Oktober 2026 selama 12 bulan. Realisasi buyback dapat menjadi katalis positif bagi pergerakan saham BTPS. Meski demikian, respons pasar terhadap rencana tersebut masih terbatas. Investor dinilai berhati-hati karena BTPS pernah mengumumkan rencana buyback senilai Rp 1 triliun pada tahun lalu, tetapi tidak terealisasi.
CGS menilai rencana buyback tahun ini memiliki sejumlah perbedaan dibandingkan rencana sebelumnya, antara lain periode pelaksanaan yang lebih panjang, yakni 12 bulan dari sebelumnya tiga bulan, serta opsi pembelian saham melalui pasar negosiasi selain pasar reguler.
Dengan mempertimbangkan perbaikan kualitas pembiayaan dan potensi realisasi buyback, CGS International Sekuritas Indonesia mempertahankan rekomendasi add untuk saham BTPS dengan target harga Rp 1.300 per saham. Adapun risiko yang perlu dicermati mencakup persaingan yang semakin ketat dan memburuknya kondisi makroekonomi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Tag
- BTPS
- saham BTPS
- Bank BTPN Syariah (BTPS)