Kultur sepeda di Indonesia, dari alat transportasi hingga gaya hidup
Jakarta (ANTARA) - Bersepeda di Indonesia bukanlah kebiasaan baru. Jauh sebelum istilah "gowes" ramai digunakan di media sosial dan bersepeda menjadi bagian dari tren gaya hidup, sepeda sudah menjadi salah satu alat transportasi masyarakat.
Namun, cara masyarakat memandang sepeda terus berubah. Jika dahulu sepeda lebih banyak digunakan sebagai alat untuk bepergian, kini aktivitas bersepeda berkembang menjadi olahraga, rekreasi, sarana bersosialisasi, hingga bagian dari identitas komunitas.
Perkembangan tersebut membuat kultur sepeda di Indonesia semakin beragam. Ada pesepeda yang rutin menggunakan sepeda untuk bekerja, kelompok yang melakukan perjalanan jarak jauh, komunitas yang menggelar kegiatan sosial, hingga mereka yang sekadar bersepeda santai bersama teman.
Fenomena itu masih terlihat dalam perkembangan skena sepeda sepanjang 2026.
Sepeda memiliki sejarah yang cukup panjang sebagai alat transportasi di Indonesia. Di sejumlah daerah, sepeda pernah menjadi pilihan masyarakat untuk bepergian karena praktis dan tidak membutuhkan bahan bakar.
Memasuki era kendaraan bermotor, penggunaan sepeda sebagai alat transportasi sehari-hari memang menghadapi perubahan. Namun, budaya bersepeda tidak benar-benar hilang.
Pada awal 2000-an, salah satu gerakan yang ikut memperkenalkan kembali sepeda sebagai moda transportasi perkotaan adalah Bike to Work Indonesia atau B2W Indonesia.
Gerakan tersebut mendorong masyarakat menggunakan sepeda untuk pergi bekerja. Bahkan hingga sekarang, B2W masih aktif menyuarakan penggunaan sepeda sebagai moda transportasi harian.
Baca juga: Studi ungkap manfaat bersepeda jangka panjang untuk kesehatan lansia
Pada peringatan Hari Sepeda Sedunia 2026, misalnya, B2W Indonesia kembali mengkampanyekan sepeda sebagai alat transportasi yang dapat membantu mengurangi emisi dan mendorong kualitas udara yang lebih baik. Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Pusat juga mencatat B2W sebagai gerakan nasional yang mengampanyekan penggunaan sepeda untuk pergi bekerja dan beraktivitas.
Artinya, kultur bersepeda di Indonesia sejak awal tidak hanya berkaitan dengan olahraga. Ada pula gagasan mengenai bagaimana sepeda dapat menjadi bagian dari kehidupan kota.
Seiring berkembangnya minat terhadap sepeda, komunitas menjadi salah satu bagian penting dari skena tersebut.
Kegiatan bersepeda tidak lagi harus dilakukan sendirian. Pesepeda bisa bergabung dengan kelompok berdasarkan jenis sepeda, wilayah tempat tinggal, tujuan perjalanan maupun gaya bersepeda.
Ada komunitas road bike, mountain bike, sepeda lipat, sepeda fixie hingga kelompok yang lebih fokus pada bike to work.
Perbedaan tersebut membuat kultur sepeda di Indonesia menjadi cukup berwarna. Bahkan satu komunitas bisa memiliki agenda yang berbeda-beda, mulai dari gowes santai, touring, kegiatan sosial sampai perjalanan ke luar kota.
ANTARA pada 2025 juga menyoroti bagaimana aktivitas bersepeda dapat menjadi rutinitas yang berlangsung selama bertahun-tahun. Salah satunya melalui kisah pesepeda yang telah menjalani bike to work sejak 2006, jauh sebelum tren bersepeda kembali ramai di media sosial.
Hal ini menunjukkan bahwa tren sepeda mungkin datang dan pergi, tetapi kultur komunitasnya sudah berkembang jauh lebih lama.
Baca juga: Panduan aman bersepeda di jalan raya
Salah satu perubahan menarik dalam skena sepeda adalah bergesernya cara orang menikmati perjalanan.
Dulu, ukuran keberhasilan bersepeda mungkin lebih banyak dikaitkan dengan jarak atau kecepatan. Sekarang, pengalaman selama perjalanan juga menjadi bagian penting.
Ada yang memilih rute dengan pemandangan menarik. Ada yang sengaja mencari jalur baru. Ada pula yang menjadikan perjalanan bersepeda sebagai kesempatan untuk berhenti di tempat makan, menikmati kopi atau bertemu komunitas lain.
Dengan kata lain, gowes tidak selalu memiliki tujuan untuk mencapai performa olahraga tertentu.
Perjalanan itu sendiri menjadi pengalaman.
Tren tersebut juga terlihat dari berkembangnya kegiatan yang menggabungkan sepeda dengan pariwisata. Pada Juli 2026, misalnya, Fun Bike Tanjung Lesung di Pandeglang, Banten, diikuti ratusan peserta dengan rute 18 kilometer dan direncanakan menjadi agenda wisata olahraga tahunan. Kegiatan tersebut juga melibatkan komunitas sepeda dan diarahkan untuk mendukung promosi destinasi serta UMKM lokal.
Kultur sepeda juga ikut berubah ketika bertemu dengan media sosial dan aplikasi digital.
Pesepeda kini dapat merekam rute, jarak, kecepatan dan berbagai data perjalanan melalui aplikasi. Rute yang dilewati bahkan bisa menjadi bagian dari konten.
Salah satu fenomena yang menarik adalah Strava Art, yaitu aktivitas merancang rute perjalanan sehingga membentuk gambar tertentu ketika ditampilkan di peta digital.
Tren tersebut hadir dalam kegiatan komunitas sepeda di Indonesia pada 2026. Kompetisi Strava Art yang digelar dalam rangka perjalanan 21 tahun B2W Indonesia memperlihatkan bagaimana aktivitas bersepeda dapat bertemu dengan kreativitas digital dan media sosial.
Baca juga: 7 manfaat bersepeda untuk kesehatan, jaga jantung dan berat badan
Dari sini terlihat bahwa sepeda tidak hanya menjadi alat untuk berpindah tempat. Rute perjalanan juga bisa menjadi bentuk ekspresi.
Perkembangan komunitas sepeda kemudian ikut membawa pembicaraan mengenai ruang jalan.
Semakin banyak orang menggunakan sepeda berarti semakin besar pula kebutuhan terhadap fasilitas yang aman, seperti jalur sepeda, parkir sepeda dan koneksi dengan transportasi umum.
Di Jakarta, persoalan tersebut masih menjadi pembahasan. Pada Agustus 2026, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyatakan masih menerima masukan dari komunitas mengenai kondisi dan pengelolaan jalur sepeda. Pemerintah juga mengakui adanya persoalan seperti jalur yang tidak terhubung, tidak terawat atau digunakan kendaraan lain.
Sementara itu, B2W Indonesia pada Agustus 2026 mendorong agar jalur sepeda yang sudah tersedia dapat terhubung dengan kawasan permukiman, perkantoran dan stasiun transit. Mereka juga mendorong penyediaan fasilitas pendukung bagi pesepeda.
Pembahasan tersebut menunjukkan bahwa kultur sepeda tidak hanya tumbuh di komunitas, tetapi juga bersinggungan langsung dengan bagaimana sebuah kota dirancang.
Perkembangan skena sepeda juga membuat kegiatan bersepeda semakin dekat dengan industri pariwisata.
Berbagai daerah mulai melihat komunitas sepeda sebagai salah satu potensi untuk mendatangkan pengunjung. Rute bersepeda dapat dikembangkan melewati kawasan wisata, pedesaan, pegunungan, pantai maupun destinasi budaya.
Fun Bike Tanjung Lesung 2026 menjadi salah satu contoh. Kegiatan tersebut dirancang tidak hanya sebagai acara olahraga, tetapi juga sebagai agenda sport tourism yang memperkenalkan kawasan wisata kepada komunitas pesepeda.
Baca juga: Apakah bersepeda bisa menurunkan berat badan? Ini faktanya
Model seperti ini membuat perjalanan bersepeda memiliki dimensi baru. Pesepeda tidak hanya mengejar garis finis, tetapi juga menikmati tempat yang dilewati.
Jika melihat perkembangannya, kultur sepeda di Indonesia sebenarnya tidak memiliki satu bentuk.
Sepeda bisa menjadi alat transportasi seperti yang didorong komunitas bike to work. Bisa pula menjadi olahraga, sarana rekreasi, aktivitas keluarga, kegiatan komunitas, hingga cara menjelajahi destinasi wisata.
Bahkan, pada 2026, kampanye keselamatan bersepeda di Bandung melibatkan komunitas B2W dan Persib Bandung Bermartabat melalui kegiatan bersepeda keliling kota. Kegiatan tersebut membawa isu keselamatan dan ruang jalan yang lebih aman bagi seluruh pengguna jalan.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa skena sepeda tidak hanya berbicara mengenai jenis sepeda atau perlengkapan yang digunakan. Ada persoalan komunitas, kesehatan, lingkungan, mobilitas, kreativitas dan ruang publik yang ikut tumbuh di dalamnya.
Pada akhirnya, kultur bersepeda di Indonesia berkembang mengikuti kebutuhan dan cara masyarakat menikmati sepeda.
Ada yang mengayuh untuk bekerja, ada yang mengejar kebugaran, ada yang mencari teman, ada pula yang sekadar ingin menikmati perjalanan tanpa terburu-buru.
Dan mungkin justru di situlah menariknya dunia sepeda. Satu benda yang sama bisa memiliki arti berbeda bagi setiap orang, tetapi semuanya bertemu pada satu aktivitas sederhana, yaitu mengayuh dan menikmati perjalanan.
Baca juga: 7 manfaat bersepeda bagi tubuh, baik untuk fisik dan mental
Baca juga: Bersepeda bukan cuma olahraga, kini jadi bagian gaya hidup
Pewarta: Raihan Fadilah
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.