kingsheadwye.com

Malaysia Geger Muncul 'Kampung Israel', Berdiri di Kota Hantu

Jakarta, CNBC Indonesia - Warga Malaysia resah. Hal ini terkait berdirinya "kampung Israel" di sebuah komplet kawasan pemukiman di Johor.

Pemerintah negara bagian pun memerintahkan penyelidikan. Hal ini terkait komunitas startup yang beroperasi di kawasan Forest City bernama Network School.

Awalnya dilaporkan bahwa sejumlah warga negara Israel mengikuti program tersebut menggunakan paspor dari negara lain. Warga Israel sendiri tak bisa masuk Malaysia karena kedua negara tak memiliki hubungan diplomatik.

Pilihan Redaksi

  • Rumah Anggota Dewan Digerebek, Sempak-Bra Emas & Rp 1,03 T Ditemukan
  • Timteng Makin Ngeri, Potret Houthi Yaman Bombardir Bandara Saudi
  • Pejabat Partai Dipecat, Terjerat Korupsi Keluarga hingga Skandal Seks
  • Kepala Pria Nyangkut di Jendela Pesawat saat Terbang, Ini Kronologinya
  • Kenapa Trump 'Jilat Ludah Sendiri' Pungut Biaya 20% di Selat Hormuz?

Melansir Channel News Asia (CNA), Menteri Besar Johor Onn Hafiz Ghazi mengatakan pemerintah daerah telah menerima berbagai laporan dan kekhawatiran publik. Hal ini mengenai aktivitas sebuah komunitas yang mengusung konsep tempat tinggal sekaligus pusat pembelajaran bagi pendiri startup, pekerja jarak jauh (remote worker), dan kreator konten.

"Kami tidak akan membiarkan pihak mana pun menggunakan Johor sebagai basis untuk menyebarkan ideologi atau gerakan yang bertentangan dengan hukum, kedaulatan, dan kepentingan Johor maupun Malaysia," kata Onn Hafiz dalam pernyataan resmi, Selasa (14/7/2026).

Paspor Kedua

Onn Hafiz mengatakan dirinya telah meminta Kementerian Dalam Negeri, Departemen Imigrasi, Kepolisian, Bea Cukai, serta berbagai lembaga keamanan lainnya untuk menyelidiki identitas dan kewarganegaraan para peserta maupun penyelenggara Network School. Penyelidikan juga mencakup dugaan penggunaan paspor kedua oleh individu yang memiliki keterkaitan dengan Israel untuk memasuki Malaysia.

Selain itu, pemerintah ingin memastikan apakah tujuan kedatangan mereka sesuai dengan aktivitas yang dijalankan di Forest City. Tak hanya aspek keimigrasian, Kementerian Pendidikan Tinggi, Kementerian Digital, serta sejumlah regulator lainnya juga diminta memeriksa status hukum Network School, termasuk apakah program yang dijalankan telah memperoleh izin sesuai peraturan Malaysia.

Di tingkat daerah, Dewan Kota Iskandar Puteri bersama Kantor Pertanahan Johor akan mengaudit kepatuhan terhadap izin usaha, Penggunaan bangunan, status lahan, hingga aktivitas bisnis yang dilakukan komunitas tersebut juga akan diselidiki.

"Jika ditemukan pelanggaran hukum, penyalahgunaan paspor, pelanggaran izin maupun unsur yang mengancam kepentingan negara dan keamanan nasional, kami meminta tindakan tegas tanpa kompromi," tegas Onn Hafiz.

Kenapa ke Malaysia?

Network School sebelumnya sempat menjadi sorotan pada Oktober 2025 setelah kreator konten asal Israel Nuseir Yassin, yang dikenal sebagai Nas Daily, mengunggah video promosi mengenai komunitas tersebut dari Johor. Video yang menampilkan sejumlah ikon Johor dan panorama Singapura itu kemudian dihapus.

Network School didirikan pada 2024 oleh pengusaha teknologi asal Amerika Serikat sekaligus mantan Chief Technology Officer (CTO) Coinbase, Balaji Srinivasan. Melalui situs resminya, Network School menyebut dirinya sebagai komunitas bagi para "techno-optimists" yang menggabungkan hunian, ruang kerja bersama (co-working space), pusat kebugaran, serta kegiatan pembelajaran.

Biaya keanggotaan dimulai dari US$1.500 per bulan, termasuk akomodasi, makan, dan berbagai fasilitas lainnya. Konsep tersebut merupakan bagian dari gagasan "network state" yang dipopulerkan Srinivasan, yakni membangun komunitas digital yang pada akhirnya berkembang menjadi permukiman fisik dengan sistem sosial dan ekonomi sendiri.

Kasus ini kembali menempatkan Forest City, proyek kota pintar senilai miliaran dolar di Johor yang berada di dekat Singapura, dalam sorotan publik. Pemerintah Malaysia kini berupaya memastikan seluruh aktivitas di kawasan tersebut tetap sejalan dengan hukum nasional serta tidak mengganggu keamanan dan kedaulatan negara.

Perlu diketahui Forest City sendiri sempat dicap kota hantu di Malaysia di 2023, oleh banyak media barat, termasuk BBC International. Hal ini karena minimnya okupansi di wilayah itu.

(sef/sef)

Add

as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]