Menelusuri asal muasal simfoni "Ekkek-Keuling" - ANTARA News Megapolitan
Bandung (ANTARA) - Jauh sebelum suara kendaraan memecah kesunyian atau keriuhan wisatawan memenuhi jalan raya Cibodas, Cianjur, Jawa Barat, hutan di kawasan itu memiliki simfoninya sendiri.
Pada 1950, Jurnal Ornitologi Kolonial Limosa merekam suara-suara burung yang menjadi bagian dari orkestrasi alam di tengah lebatnya hutan Cibodas. Catatan itu menggambarkan seekor burung yang keberadaannya lebih sering diketahui dari suaranya daripada dari tubuhnya yang bersembunyi di antara rimbunnya pepohonan.
Burung tersebut, menurut catatan jurnal tersebut, bukanlah pemandangan yang lazim dijumpai sepanjang tahun. Namun, secara berkala, ia dapat diamati setiap hari di hutan primer dekat dan di atas “Tjibodas”, nama Cibodas pada masa itu.
Biasanya, burung ini ditemukan dalam kelompok yang terdiri atas beberapa individu dan kerap bergerak bersama kawanan burung campuran. Habitatnya berada di tengah hutan lebat, tidak terlalu tinggi dari permukaan tanah.
Namun, ada satu hal yang membuat keberadaannya mudah dikenali, yaitu Suaranya.
“Biasanya dalam kelompok yang terdiri dari beberapa individu serta menyertai kawanan burung campuran. Burung ini umumnya terlihat di tengah hutan lebat dan tidak terlalu tinggi dari permukaan tanah, sering kali menarik perhatian melalui suara keras yang khas, yang mengungkap keberadaan mereka dari kejauhan,” demikian catatan jurnal tersebut.
Suara itu digambarkan kasar dan parau, seperti “ekkek” yang diulang-ulang. Ada pula bunyi “ekkek-keuling”. Dari suara terakhir inilah burung tersebut mendapatkan nama lokalnya.
Catatan itu juga merekam suara lain, seperti “hie-tie-tjiet” yang diulang beberapa kali dengan nada sangat keras, serta “truut-truut-truut” atau “ruut-uut”.
Bagi telinga manusia masa kini, mungkin bunyi-bunyi itu terdengar seperti sekadar rangkaian kata yang sulit dibayangkan. Namun, bagi hutan Gunung Pangrango dan kawasan Tatar Pasundan pada masa itu, bunyi tersebut merupakan bagian dari simfoni alam yang masih utuh.
Burung yang dimaksud adalah Ekek Keling Sunda, yang juga dikenal sebagai Ekek Geling Jawa, dengan nama ilmiah Cissa thalassina.
Jurnal Ornitologi Kolonial itu tidak hanya merekam suara dan kebiasaan burung tersebut, tetapi juga mencatat menu makanannya.
Ekek Keling Sunda diketahui memangsa belalang, serangga, ulat berukuran besar, tonggeret besar, hingga kumbang. Burung ini bahkan disebut sangat rakus karena mampu memakan hampir segala sesuatu yang berasal dari hewan selama masih sanggup ditelannya.
Sarangnya biasanya berada di hutan primer atau di tengah vegetasi yang lebat. Letaknya tidak terlalu tinggi dari permukaan tanah, sekitar tiga hingga enam meter, dan berada di dahan yang ramping.
Sarang tersebut cukup kokoh dan terbentuk dengan baik, menyerupai cawan dengan diameter sekitar 15–17 sentimeter dan tinggi 7–8 sentimeter.
Bagian dasar dan luarnya dibuat dari dedaunan kering, baik daun pohon maupun daun rotan atau tumbuhan sejenis. Bagian dalam cawan dilapisi bahan tanaman tipis berwarna gelap yang menyerupai akar halus, disertai tangkai daun, batang, dan material tumbuhan lainnya.
Dalam sekali bertelur, jumlahnya hanya dua butir.
“Musim kawin dari burung ini pada Januari, April, dan Desember,” tulis catatan tersebut.
Jauh sebelum catatan 1950 itu dibuat, arsip Natuurkundig tijdschrift voor Nederlandsch-Indie pada 1886 bahkan telah menyebut Ekek Keling Sunda sebagai salah satu burung paling indah di antara avifauna Jawa.
Keindahannya terletak pada perpaduan warna bulunya.
Bulu tubuhnya berwarna hijau-biru muda yang cerah, dengan pita hijau mencolok yang melintasi kepala, perut, dan sisi tubuh. Bulu penutup sayap bagian luar yang kecil berwarna biru-hijau kusam, sementara bagian yang lebih besar berwarna cokelat kemerahan cerah.
Hampir seluruh bulu terbangnya —kecuali dua bulu yang paling dalam— memiliki ujung berwarna zaitun kusam dengan tepi luar abu-abu kekuningan. Bagian lainnya berwarna cokelat kemerahan.
Dua bulu terbang terdalam memiliki corak berbeda. Bulu yang paling dalam berwarna hijau muda seperti warna kepala, dengan tepi luar gelap yang kusam. Bulu berikutnya memiliki warna seperti bulu terbang lainnya, tetapi dihiasi garis memanjang berwarna biru muda yang lebar pada helai bagian dalam.
Bulu ekornya berwarna biru kusam dengan tangkai bulu hitam.
Kemudian ada ciri yang membuat wajah burung ini semakin khas, yaitu sebuah garis hitam lebar yang bermula di dekat sudut mulut, melingkari area mata dan telinga, lalu perlahan menyempit dan memanjang hingga ke bagian belakang leher. Di sana, garis tersebut bertemu dengan garis dari sisi seberangnya.
Begitulah Ekek Keling Sunda digambarkan dalam catatan-catatan lama; burung yang indah, bersuara keras, hidup di hutan lebat, dan menjadi bagian dari kehidupan alam pegunungan Jawa.
Bagaimana nasibnya sekarang?
Tahun 1950 mungkin terasa seperti masa yang sangat jauh. Saat itu, hutan Cibodas masih cukup sunyi untuk membuat suara seekor burung Ekek Keling terdengar dari kejauhan.
Lalu, bagaimana dengan kondisinya saat ini di tahun 2026 atau 76 tahun kemudian?
Jawabannya miris: Ekek Keling Sunda nyaris punah.
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Barat mengingatkan bahwa burung endemik Jawa Barat itu berada dalam ancaman kepunahan akibat kerusakan habitat dan perburuan ilegal.
Manager Divisi Pendidikan WALHI Jawa Barat, M. Jefry Rohman, mengatakan keberadaan burung tersebut masih terpantau di sejumlah kawasan hutan. Namun, jumlahnya diperkirakan sangat terbatas.
“Kalau di Jawa Barat itu terpantau masih ada beberapa. Cuma sulit kalau kita menjelajah atau observasi, misalnya di Gunung Salak dan Gunung Gede Pangrango. Masih terkadang kita bisa melihat, cuma karena jumlahnya terbatas maka interaksinya susah,” ujar Jefry.
Berdasarkan perkiraan, populasi Ekek Keling Sunda yang masih bertahan di sejumlah kawasan hutan Jawa Barat berada pada kisaran 50 hingga 250 ekor.
Angka itu menunjukkan kondisi yang sangat mengkhawatirkan. Sebab, keberlangsungan populasi burung sangat bergantung pada habitat yang masih tersedia, pepohonan sebagai tempat hidup, serta sumber pakan yang cukup.
“Kalau wilayahnya kritis, sudah tidak ada pepohonan, sudah tidak ada tempat untuk mencari makan, ya mau di mana lagi?” katanya.
Menurut Jefry, deforestasi dan kerusakan lingkungan menjadi salah satu ancaman serius bagi keberadaan satwa endemik tersebut. Tekanan terhadap lingkungan di Jawa Barat, kata dia, tidak hanya berdampak pada satu jenis satwa, tetapi juga terhadap keseluruhan ekosistem.
“Jadi bukan hanya masalah dunia hewan, abiotik maupun biotik. Semuanya saling berhubungan. Ketika ruang hidupnya terganggu, mau tidak mau berimbas juga pada keberadaan hewan,” ujarnya.
Keprihatinan serupa disampaikan Anggota DPRD Jawa Barat, Daddy Rohanady. Menurut dia, kondisi Ekek Keling Sunda yang kritis dan hampir punah dari habitat aslinya merupakan persoalan yang memprihatinkan dan membutuhkan tanggung jawab pemerintah.
“Yang pertama, secara pribadi saya prihatin dengan kondisi ini. Karena Ekek Keling Sunda itu kan salah satu hewan yang merupakan entitas khusus Jawa Barat. Ini adalah pekerjaan rumah kita semua,” kata Daddy.
Dengan perkiraan jumlah yang tersisa hanya 50–250 ekor di seluruh Jawa Barat, Daddy mengingatkan masyarakat agar tidak berbesar hati. Angka tersebut justru menjadi pekerjaan rumah besar untuk memastikan kelestarian spesies yang tersisa melalui upaya pengembangbiakan.
Menurutnya, pemerintah, baik Pemerintah Provinsi Jawa Barat maupun 27 pemerintah kabupaten/kota, memiliki tanggung jawab besar untuk mengambil langkah tersebut.
Tanggung jawab ini terutama berada di tangan daerah-daerah yang menjadi habitat atau masih menyimpan jejak keberadaan Ekek Keling Sunda. Daerah-daerah tersebut berkewajiban menjaga kelestarian lingkungan yang ada, mendukung pengembangbiakan, hingga akhirnya melepaskan kembali burung tersebut ke alam bebas.
Sebab bagi Daddy, ada satu hal yang tak akan pernah bisa digantikan oleh sangkar, yakni suara burung yang berkicau bebas di habitat aslinya.
“Karena kalau kita mau dengar suara terindahnya ya suara ketika mereka (Ekek Keling Sunda) berbunyi di alamnya, di habitatnya. Sementara saat ini dengan memasukkannya ke kandang, manusia sudah jadi serakah dan tamak dengan hanya ingin mendengar suara kicauan untuk dirinya sendiri. Ini yang turut mereduksi jumlah burung itu di alam,” katanya.
Barangkali, suatu hari nanti, jalan raya Cibodas akan semakin ramai oleh kendaraan dan wisatawan. Tetapi di balik suara mesin dan percakapan manusia, ada sebuah simfoni lama yang perlahan menghilang.
Barangkali suatu hari nanti, jalan raya Cibodas akan makin sesak oleh lalu lalang kendaraan dan keriuhan wisatawan. Namun di balik raung mesin dan riuh percakapan manusia, ada sebuah simfoni purba yang perlahan lenyap ditelan waktu.
“Ekkek-keuling…”
Dahulu, suara itu sudah cukup untuk memaksa langkah terhenti dan mata menatap jauh ke kerimbunan rimba Cibodas.
Kini, kita mungkin harus berjalan makin jauh menembus belantara, hanya demi memeluk harapan semata untuk bisa mendengarnya sekali lagi.
Uploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.