Mengenal Muraqabah, Rem Batin yang Nyaris Dilupakan Umat Islam di Era Modern |Republika Online
Ilustrasi muraqabah.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Manusia bisa saja menyembunyikan perbuatan dari orang lain. Namun, tidak ada satu pun ucapan, tindakan, bahkan lintasan hati yang tersembunyi dari pengetahuan Allah SWT. Kesadaran inilah yang dalam tradisi tasawuf disebut "muraqabah".
Konsep tersebut menjadi salah satu pokok penting yang dikupas Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin Al Mustainiyyah Surakarta, KH Ahmad Muhammad Mustain Nasoha, dalam kajian Kitab Ihya' Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali di Masjid Agung Surakarta.
Menurut kiai muda yang akrab dipanggil Gus Mustain tersebut, muroqobah bukan sekadar mengetahui bahwa Allah SWT Maha Mengetahui dan Maha Mengawasi. Lebih jauh, pengetahuan itu harus berubah menjadi kesadaran batin yang membentuk perilaku.
"Orang yang memiliki muraqabah akan selalu menjaga lisan, hati, dan perilakunya karena meyakini bahwa tidak ada satu pun amal yang tersembunyi dari pengetahuan Allah SWT," ujar Gus Mustain dalam keterangan tertulis yang diterima Republika.co.id, Rabu (9/9/2026).
Kesadaran semacam itu, menurut dia, menjadi penting dalam kehidupan manusia. Sebab, seseorang yang merasa selalu berada dalam pengawasan Allah akan lebih berhati-hati ketika tidak ada orang lain yang melihatnya.
Dari sinilah muraqabah dapat menjadi semacam "rem batin". Ia mendorong seseorang untuk tetap jujur ketika berbohong mungkin tidak akan diketahui, menjaga lisan ketika tidak ada yang menegur, dan menghindari perbuatan tercela meskipun memiliki kesempatan untuk melakukannya.
Gus Mustain menjelaskan, Imam Al-Ghazali menempatkan muroqobah sebagai kesadaran spiritual yang harus berpengaruh terhadap kehidupan nyata. Ia tidak berhenti pada hafalan mengenai sifat-sifat Allah.
Kesadaran tersebut semestinya melahirkan keikhlasan, istiqamah, wara', serta kebiasaan melakukan "muhasabah" atau introspeksi diri.
Dengan demikian, kualitas keberagamaan seseorang tidak hanya terlihat ketika berada di masjid atau ketika menjalankan ritual ibadah.
Nilainya juga tercermin dari bagaimana seseorang bersikap ketika berhadapan dengan berbagai godaan dalam kehidupan sehari-hari.