Menkes: SATUSEHAT RME permudah pelayanan untuk genjot mutu faskes
Jakarta (ANTARA) - Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin mengatakan peluncuran SATUSEHAT Rekam Medis Elektronik (RME) untuk mempermudah layanan kesehatan melalui pencatatan data kesehatan individu agar fasilitas kesehatan dapat memberikan penanganan tepat, serta mengefisienkan proses klaim BPJS Kesehatan.
"Jadi, tujuan utama dari sistem SATUSEHAT ini supaya si pasien tau at any time kondisi kesehatannya. Syukur-syukur nanti kalau dia disambung sama AI bisa kasih rekomendasi. Kalau gini ketemu dokter paru, kalau gini cek puskesmas aja, kalau gini beli obat batuk, siapa tau ya," katanya.
Budi Gunadi di Jakarta, Selasa, mengatakan dengan SATUSEHAT RME orang bisa melihat rekam medisnya semudah melihat akun m-banking. Pihaknya berupaya mengintegrasikan data lengkap dari hampir 100 ribu fasilitas kesehatan di Indonesia, mulai dari diagnosis, data laboratorium, data radiologi.
Baca juga: Integrasi RME dengan SATUSEHAT fasilitasi perawatan yang lebih baik
"Sehingga, semua datanya masuk menjadi platform atau ekosistem data klinis 280 juta masyarakat Indonesia, termasuk data Cek Kesehatan Gratis (CKG) nanti, masukkan jadi satu," kata Budi.
Dengan SATUSEHAT RME, layanan oleh fasilitas kesehatan semakin mudah dan tepat. Dia mencontohkan ada yang sudah cek darah lengkap di klinik dan mau tindakan lebih lanjut di rumah sakit. Rumah sakit bisa memberikan layanan yang tepat berdasarkan hasil pengecekan itu, selama orang itu memberikan akses ke rekam medisnya.
"Kalau rumah sakit satu merujuk rumah sakit B, gak usah dibawa masing-masing, gak usah di-entry manual ke SISRUTE-nya kita. Karena otomatis datanya sudah nyambung, sehingga sebelum sampe pun dokter yang menerima di IGD itu udah tau kondisi kesehatannya seperti apa," katanya.
Dia menyebutkan SATUSEHAT RME juga memungkinkan regulator untuk memantau kualitas layanan kesehatan apabila terjadi perpindahan pasien.
SATUSEHAT RME, kata Budi, juga membantu BPJS Kesehatan dalam hal mengecek anomali dalam rujukan, sehingga klaim yang diajukan ke BPJS benar-benar untuk tindakan yang sesuai prosedur dan indikasinya.
"Itu kan dengan mudah BPJS bisa melihat anomali begini. Kenapa orang disesar tidak ada indikasi dari USG puskesmas seminggu yang lalu bahwa dia perlu operasi sesar? Semuanya itu nanti bisa digunakan oleh BPJS secara online untuk melihat apakah memang benar clinical pathway-nya sudah dijalankan dengan benar," katanya.
Budi mengatakan sistem ini merupakan salah satu upaya dalam agenda Transformasi Kesehatan, yakni pilar keenam, transformasi teknologi kesehatan.
Baca juga: Kemenkes luncurkan rekam medis elektronik (RME) terintegrasi SATUSEHAT
Baca juga: Kemarin, pendampingan anak berkonflik hukum hingga RME terintegrasi
Menkes akan berupaya mensosialisasikan SATUSEHAT RME ini ke rumah sakit agar mau terbuka pada sistem kesehatan berbasis hasil dan berani diukur berdasarkan kualitas layanan.
"Di luar negeri begitu. Kalau dia sakitnya parah nggak mungkin akan diregulasi, akan menghukum dia kalau memang sudah melakukannya sesuai dengan clinical pathway. Tapi, sudah dibedah, tiba-tiba seminggu kemudian readmisi, masuk ada kain kasa ketinggalan, ya kita tahu bahwa itu kan kejadian yang sering terjadi, dan itu salah. Seharusnya itu memang menjadi penalty dari clinical outcome-nya kita," katanya.
Pihaknya juga bekerja sama dengan Kementerian Dalam Negeri untuk ketepatan data individu, dan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) untuk memastikan keamanan data.
Pewarta: Mecca Yumna Ning Prisie
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.