kingsheadwye.com

Menyelamatkan Si Miskin dari muslihat jahat bandar judol

Jakarta (ANTARA) - Kemiskinan dan judi seolah menjalin persahabatan yang kian sulit dipisahkan. Di tengah tekanan ekonomi, penghasilan yang pas-pasan, serta kebutuhan hidup yang terus meningkat, tak sedikit masyarakat miskin mulai menaruh harapan pada jalan pintas yang ditawarkan ruang-ruang digital.

Iklan kemenangan instan, kisah keberuntungan yang berulang kali muncul di berbagai kanal media sosial, hingga janji memperoleh uang berlipat secara cepat, perlahan membangun ilusi bahwa perjudian online dapat menjadi jalan keluar dari himpitan hidup.

Padahal, di dibalik seluruh janji itu tersimpan tipu daya, jebakan yang justru menyeret si miskin semakin jauh ke dalam jurang kemiskinan, hidup pun kian melarat.

Harapan mengubah nasib dalam sekejap pada akhirnya hampir selalu berujung pada kekalahan yang berulang. Uang yang sedianya dialokasikan untuk membiayai pendidikan anak, merawat anggota keluarga lansia dan penyandang disabilitas, atau sekadar menjaga dapur tetap mengepul dengan hidangan enak layak gizi, sirna tak berbekas hanya dalam hitungan detik di hadapan pendar layar ponsel.

Kebingungan hebat pun melanda. Ketika kekalahan menerpa dan tabungan terkuras habis, pemenuhan kebutuhan dasar keluarga menjadi lumpuh total. Kondisi ini kian pelik lantaran mayoritas korban berada dalam jerat pengangguran atau kehilangan mata pencaharian.

Lingkaran itu terus berulang, hingga kemiskinan tidak lagi sekadar persoalan rendahnya pendapatan, tetapi berubah menjadi persoalan struktural yang semakin sulit diselamatkan.

Kini, fenomena suram tersebut bukan lagi sekadar rekaan sinetron televisi atau buah bibir di kedai-kedai kopi dan lorong kios pasar. Barangkali lima dari delapan orang kuli bangunan yang sedang memperbaiki rumah cluster atau tukang sapu halaman kantor kita upah-nya habis untuk berjudi.

Pemerintah secara gamblang membeberkan bukti mutakhir yang menyayat hati ini. Dana bantuan sosial yang disiapkan negara sebagai bantalan perlindungan ekonomi warga miskin, justru terdeteksi mengalir deras ke kanal-kanal transaksi judi online dari rekening penerimanya.

Kementerian Sosial bersama Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), bahkan menemukan persoalan ini membengkak jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf mengungkapkan keprihatinannya karena dalam rentang waktu setahun saja, jumlah rekening keluarga penerima manfaat program bantuan sosial yang terindikasi melakukan transaksi judi online bertambah secara signifikan.

Jika pada 2025 ditemukan sekitar 600 ribu, maka tahun ini, setidaknya sampai dengan triwulan kedua 2026, angka tersebut melonjak tajam hingga 1.494.652 keluarga penerima manfaat yang diindikasikan menggunakan uang bantuan untuk berjudi.

Dari angka hampir satu setengah juta itu, sebanyak 794.475 di antaranya merupakan penerima manfaat Program Keluarga Harapan (PKH), sedangkan sisanya merupakan penerima program Bantuan Pangan Nontunai (BPNT) atau bantuan sembako.

Sebagai gambaran, bila secara akumulatif perhitungan PPATK untuk periode 2025 nilai transaksi uang bantuan sosial dari rekening atau dompet digital para penerima manfaat yang dipakai berjudi jumlahnya lebih dari Rp500 miliar, maka dengan melonjaknya jumlah penerima manfaat tahun berjalan ini, nominal uang bantuan yang menguap di meja judi dipastikan mencapai angka yang amat fantastis.

Peta sebaran

Kondisi ini tidak jauh berbeda dari sebelumnya, sebaran persoalan ini, bahkan sudah hampir merata di berbagai daerah. Jawa Barat menjadi provinsi dengan jumlah penerima bantuan sosial yang teridentifikasi berjudi paling tinggi, nilai transaksinya mencapai ratusan miliar. Disusul Jawa Tengah, Jawa Timur, DKI Jakarta, Banten, dan Lampung dengan nilai transaksi lebih dari Rp80 miliar.

Pada tingkat kabupaten dan kota, Kabupaten Bogor di Jawa Barat menjadi wilayah dengan penerima bantuan sosial yang paling banyak teridentifikasi melakukan transaksi judi online dengan total nilai transaksi Rp22 miliar. Disusul Kota Surabaya di Jawa Timur dan Jakarta Pusat dengan nilai transaksi Rp9 miliar.

Editor: Masuki M. Astro
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.