kingsheadwye.com

Menyusuri Lorong Bawah Tanah MRT Jakarta

Liputan6.com, Jakarta - Ada suasana yang berbeda ketika memasuki proyek pembangunan MRT Jakarta. Bukan deru kereta yang terdengar, melainkan suara aktivitas konstruksi, langkah para pekerja, dan koordinasi yang terus berlangsung di antara lorong-lorong bawah tanah.

Di tempat itu, rompi, helm, dan sepatu keselamatan menjadi perlengkapan wajib. Stasiun ini merupakan bagian dari pembangunan MRT Fase 2A lintas utara-selatan.

Untuk sementara, area tersebut masih menjadi ruang kerja para pekerja. Namun beberapa waktu lagi, lorong-lorong yang kini dipenuhi material konstruksi itu akan berubah menjadi jalur pergerakan ribuan warga Jakarta.

Dikutip dari jakarta.go.id, siang itu, aktivitas di area konstruksi Stasiun MRT Monas berlangsung cukup sibuk. Para pekerja terlihat menyelesaikan berbagai tahapan pembangunan.

Sebagian mengerjakan instalasi mekanikal dan elektrikal, sementara pekerja lainnya menyempurnakan bagian plafon dan melakukan pengukuran di sejumlah titik.

Material konstruksi tersusun di beberapa bagian area proyek. Setiap pekerjaan dilakukan secara bertahap dan terkoordinasi untuk memastikan seluruh komponen stasiun dapat berfungsi sesuai standar keselamatan dan kenyamanan penumpang.

 pemandangan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa sebuah stasiun bawah tanah bukan hanya soal menggali ruang dan memasang rel. Di baliknya ada begitu banyak komponen yang harus dipertemukan agar kelak dapat bekerja sebagai satu sistem.

Dan pekerjaan itu kini sudah mendekati garis akhir.

Hingga 25 Juni 2026, progres konstruksi Stasiun MRT Jakarta Monas telah mencapai 93,50 persen.

Pekerjaan yang tersisa antara lain penyelesaian plafon, jalur landai atau ramp access, instalasi pipa mekanikal dan elektrikal atau Mechanical, Electrical, Plumbing (MEP), hingga penataan kembali trotoar di sekitar area proyek.

Segmen Bundaran HI-Monas sendiri ditargetkan mulai beroperasi pada akhir 2027.

Menjaga Monas Tetap Terlihat

Ada alasan mengapa Stasiun MRT Monas dirancang dengan pendekatan yang berbeda.

Stasiun ini berada di kawasan cagar budaya nasional. Karena itu, pembangunan fasilitas transportasi bawah tanah harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga karakter kawasan di atasnya.

Salah satunya terlihat dari rancangan pintu masuk utama stasiun.

Akses tersebut menggunakan konsep sunken entrance atau pintu masuk semi tenggelam. Desain ini membuat keberadaan bangunan stasiun tidak mendominasi kawasan sekaligus menjaga pandangan menuju Monumen Nasional atau Monas.

Menariknya, cahaya matahari juga tetap akan menemukan jalan masuk ke ruang bawah tanah.

Di bawah area pintu masuk terdapat skylight atau jendela atap berdiameter sekitar 10 meter. Cahaya alami dari luar akan masuk hingga ke area stasiun.

Kaca dengan material low-emissivity atau low-e digunakan untuk membantu mengurangi panas matahari sehingga kenyamanan tetap terjaga.

Dengan desain tersebut, ruang bawah tanah yang identik dengan kesan gelap dan tertutup diupayakan tetap mendapatkan sentuhan cahaya alami.