Merger 4 MI Danantara Diikuti Pembenahan SDM dan Teknologi
ILUSTRASI. Danantara - kontan kilas online (DANANTARA/KILAS)
Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Dina Hutauruk
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Merger empat perusahaan Manajer Investasi (MI) milik Danantara dipastikan akan diiringi dengan transformasi sumber daya manusia (SDM), penguatan tata kelola, pengembangan teknologi, serta peningkatan standar pengelolaan investasi.
Langkah tersebut ditujukan untuk meningkatkan standar pengelolaan investasi serta memperkuat daya saing perusahaan di tingkat regional dan global.
PT Danantara Asset Management (DAM) resmi menggabungkan empat MI pada 28 September 2026. Keempatnya adalah PT Mandiri Manajemen Investasi (MMI), PT BNI Asset Management (BNIAM), PT BRI Manajemen Investasi (BRIMI), dan PT PNM Investment Management (PNMIM).
Dalam merger tersebut, MMI ditetapkan sebagai perusahaan penerima penggabungan. Seluruh aset, liabilitas, hak, dan kewajiban ketiga perusahaan lainnya kini beralih ke MMI.
Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia Dony Oskaria mengatakan, merger empat perusahaan manajer investasi (MI) bertujuan menyatukan keahlian, kapabilitas investasi, dan jaringan distribusi untuk membangun institusi manajemen investasi nasional dengan skala usaha lebih besar.
Baca Juga: Dua MI Masuk Bisnis DPLK, Industri Dana Pensiun Makin Bergairah
Namun, menurut Dony, konsolidasi bisnis harus diikuti transformasi budaya kerja, peningkatan kompetensi, dan perbaikan kinerja. Perusahaan hasil merger juga perlu menerapkan sistem pengelolaan sumber daya manusia (SDM) yang profesional dan terukur, mulai dari evaluasi jabatan, penetapan jenjang jabatan, hingga penilaian kompetensi.
“Lakukan job evaluation, tentukan job sizing-nya, bikin grading system-nya, bikin competency matrix-nya, bikin job requirement-nya sehingga semua orang diperlakukan fair,” kata Dony dalam keterangannya, Selasa (20/10/2026).
Ia menambahkan, kesamaan prinsip, pola pikir, dan tujuan menjadi kunci keberhasilan transformasi pascamerger. Tanpa keselarasan tersebut, proses konsolidasi berisiko melenceng dari tujuan awal.
Dony menegaskan, merger tersebut merupakan awal dari proses transformasi jangka panjang yang membutuhkan kesamaan prinsip, pola pikir, dan tujuan agar berjalan sesuai arah yang ditetapkan.
Baca Juga: BRI Tuntaskan Divestasi 65% Saham BRI MI ke Danantara Asset Management
Selain aspek sumber daya manusia, konsolidasi juga diarahkan untuk memperkuat tata kelola, teknologi, dan standar pengelolaan investasi. Dengan skala yang lebih besar, perusahaan hasil penggabungan diharapkan mampu mengembangkan kapasitas dan daya saing di tingkat regional maupun global.
Seperti diberitakan, keempat perusahaan tersebut secara kolektif mencatatkan dana kelolaan atau Asset Under Management (AUM) lebih dari Rp 143 triliun per September 2026. Jumlah tersebut diperkirakan akan terus bertambah seiring peningkatan kesadaran masyarakat terhadap investasi dan peluncuran berbagai produk baru. Keempat perusahaan juga memiliki basis nasabah yang kuat, baik di segmen ritel maupun institusi.
Di segmen ritel, perusahaan hasil konsolidasi akan mengembangkan produk investasi tematik dan memperluas akses investasi melalui jaringan bank Himbara, seiring dengan pertumbuhan jumlah Single Investor Identification (SID) nasional yang telah melampaui 30 juta SID per 7 Agustus 2026. Sementara itu, di segmen institusi, perusahaan akan memperkuat kapabilitas pengelolaan investasi melalui perluasan basis investor serta penyediaan solusi investasi yang lebih komprehensif bagi berbagai lembaga domestik.
Dony menegaskan bahwa perusahaan hasil konsolidasi perlu memiliki ambisi untuk berkembang menjadi pemain global dengan memanfaatkan jaringan distribusi yang dimiliki. "Kita ingin menjadi global player. Masa perusahaan asing saja bisa hebat, kita tidak bisa hebat? Apalagi kita punya jangkauan distribusi yang banyak," pungkas Dony.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Tag
- merger
- Manajer investasi
- Danantara
- Danantara