kingsheadwye.com

Netanyahu Pasang Baliho Bergambar 4 Musuh Utama Israel, Siapa Saja?

Jakarta, CNN Indonesia --

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memasang baliho bergambar empat pemimpin yang dianggap sebagai musuhnya. Empat orang tokoh tersebut adalah Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei, pemimpin Hizbullah, dan Wali Kota New York Zohran Mamdani

Baliho dipasang jelang pemilihan umum yang akan digelar Oktober.

Baliho itu terpasang di jalan raya utama Tel Aviv sejak pekan lalu. Foto Erdogan yang disandingkan dengan Mojtaba disebut menunjukkan Netanyahu menempatkan Turki sebagai musuh Israel.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jangan biarkan mereka menang," demikian unggahan Netanyahu di X pada pekan lalu yang menyertakan billboard tersebut.

[Gambas:Twitter]

Billboard itu juga muncul saat pemilihan internal anggota Likud untuk calon legislatif Israel.

Posisi Turki sebagai musuh Israel sebetulnya sangat jelas dalam beberapa tahun terakhir.

Terbaru, tepatnya pada pekan lalu, Israel menggempur wilayah udara Abu Al Duhur di dekat Aleppo, Suriah. Pangkalan ini berjarak 70 km dari Turki. Ankara murka dan mengecam tindakan Tel Aviv.

Namun, Israel punya alasan sendiri. Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel Katz sama-sama mengatakan bahwa intelijen mengindikasikan Turki sedang bersiap menempatkan pasukan dan peralatan di pangkalan udara tersebut.

Sumber militer Israel juga mengatakan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) sudah mengumpulkan informasi intelijen tentang rencana Turki mengerahkan personel, drone, dan sistem pertahanan udara di lokasi tersebut.

Pengerahan semacam itu, kata dia, bisa membatasi kebebasan bertindak Israel di wilayah udara Suriah dan mengubah keseimbangan strategis di kawasan.

Turki menolak penjelasan Israel. Mereka balik menuduh Netanyahu mengejar "kebijakan ekspansionis dan destabilisasi di kawasan itu" menjelang pemilu Oktober.

Di saat yang sama, pemerintah Turki menyatakan akan terus bekerja sama dengan pemerintah Suriah "atas dasar yang sah untuk mewujudkan perdamaian, stabilitas, dan kemakmuran."

Jarak waktu pemilu Israel dengan serangan tersebut plus pesan kampanye permusuhan Netanyahu memicu perdebatan dalam dan luar negeri: "Apakah Netanyahu mengantisipasi ancaman strategis yang nyata atau justru memperkuat untuk meningkatkan popularitas di kotak suara?"

Sepanjang karier politiknya yang berlangsung selama beberapa dekade, Netanyahu menggambarkan dir sebagai "Tuan Keamanan," yang siap menghadapi ancaman apa pun yang dihadapi Israel. Ia juga seorang operator politik yang cerdas dengan rekam jejak panjang dalam memanfaatkan krisis untuk keuntungannya.

Utusan AS untuk Suriah sekaligus Duta Besar untuk Turki Tom Barrack mengisyaratkan motif politik Netanyahu.

"Langkah yang sangat agresif, tetapi mungkin akan diterima dengan baik menjelang pemilihan umum," kata dia saat diwawancara podcaster Mario Nawfal.

Sebetulnya dugaan motif politik jadi alasan Netanyahu disadari banyak pihak. Namun, alasan ini dibantah langsung oleh yang bersangkutan.

"Kami tidak akan mentolerir kehadiran militer Turki yang berakar di Suriah dan mengancam Israel," kata Netanyahu pekan lalu.

Di luar itu, rivalitas Netanyahu dan Erdogan juga kian runcing.

Netanyahu pernah menyebut Erdogan "tiran anti-semit" yang menindas rakyat Turki.

Erdogan juga pernah menyebut Netanyahu "penjahat perang" dan menyatakan Israel melakukan genosida di Jalur Gaza, Palestina. Imbas agresi pasukan Zionis ke wilayah itu Ankara tak segan mengecam bahkan memutus hubungan dagang dengan Tel Aviv.

Permusuhan Netanyahu ke Erdogan bisa saja diulur-ulur untuk memfabrikasi isu keamanan Israel.

Pakar keamanan di Israel Amos Harel mengatakan bahwa penjelasan keamanan dan politik sama-sama relevan.

"Sangat jelas Netanyahu sedang mengejar kebijakan agresif dan baru," kata Harel kepada CNN.

Dalam sejumlah jajak pendapat, popularitas dan kepercayaan publik Netanyahu dan blok politiknya merosot tajam.

Situasi itu memicu kekhawatiran baru bahwa krisis keamanan bisa secara fundamental mengubah lanskap politik dan membantunya mengendalikan agenda kampanye.

"Netanyahu dikenal percaya bahwa keadaan darurat keamanan adalah pilihan terakhir yang bisa mengubah keadaan dan meningkatkan peluangnya untuk bertahan dalam pemilihan ini," kata Harel.

Situasi itu kian mengkhawatirkan mengingat AS yang membatasi perang Israel terhadap Iran dan membatasi aksi militernya di Gaza dan Lebanon.

"Turki-Suriah menjadi potensi medan pertempuran. Ini setidaknya menimbulkan kecurigaan kuat bahwa pertimbangan politik juga terlibat," kata Harel.

(isa/sur)

placeholder