NTB punya modal sebagai pionir transisi energi bersih nasional
Mataram (ANTARA) - Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Surono menyebut Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) memiliki modal kuat untuk menjadi pionir transisi energi bersih melalui pengembangan berbagai potensi energi terbarukan yang dimiliki daerah tersebut.
"NTB dikaruniai Tuhan adalah energi terbarukan dan bisa juga menjadi pionir transisi energi bersih di Indonesia, membangun ketahanan energi dengan energi bersih," ucap dia saat ditemui seusai sosialisasi Kebijakan Energi Nasional di Universitas Mataram, Kota Mataram, NTB, Kamis.
Surono mengatakan karakter geologi NTB yang terdiri atas gunung-gunung berapi aktif membuat daerah itu tidak memiliki batu bara dan minyak bumi, tetapi menyediakan panas bumi dengan potensi besar mencapai 179 megawatt.
Keberadaan Gunung Rinjani dan Gunung Tambora yang pernah meletus dahsyat serta berdampak terhadap iklim global telah memberikan potensi besar bagi pengembangan energi panas bumi di Nusa Tenggara Barat.
Baca juga: Pemkab Lombok Tengah memperkuat pengamanan ruang siber
"Tambora dan Rinjani menyediakan kesuburan serta panas bumi sekitar 179 megawatt. Kalau (potensi) itu digunakan dan energi surya digunakan, maka bisa saja NTB menjadi daerah yang punya ketahanan energi yang dibangun dari energi bersih," kata pria yang akrab disapa Mbah Rono tersebut.
Dewan Energi Nasional mencatat akumulasi bauran energi baru terbarukan di Nusa Tenggara Barat pada tahun 2025 termasuk salah satu yang terbesar secara nasional dengan jumlah mencapai 25,07 persen atau seperempat dari keseluruhan energi di daerah tersebut.
Anggota DEN Sripeni Inten Cahyani menambahkan bahwa NTB juga memiliki potensi pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dan pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) hingga 80 megawatt, namun potensi itu baru dimanfaatkan sekitar 17 megawatt.
Potensi energi surya juga terhitung sangat besar dan dapat dikembangkan dengan memanfaatkan lahan yang kurang produktif untuk pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di bagian selatan Pulau Sumbawa.
Baca juga: Gubernur NTB dan Bali meninjau korban gempa NTT bentuk solidaritas
Sementara lahan yang subur perlu tetap dipertahankan untuk kawasan pertanian dan dikembangkan sebagai hutan tanaman energi.
Menurut Sripeni, optimalisasi berbagai potensi tersebut dapat menjadi bagian dari strategi Nusa Tenggara Barat membangun ketahanan energi sekaligus mempercepat peralihan menuju sistem energi yang lebih bersih.
Kolaborasi dengan berbagai sektor termasuk perguruan tinggi dapat membantu pengembangan berbagai potensi sumber energi terbarukan tersebut.
"Di Sumbawa pakai limbah jagung untuk biomassa dan itu sudah dipakai untuk PLTU (pembangkit listrik tenaga uap) sebagai co-firing. Universitas ikut berperan penting di dalam mendorong transisi energi," pungkas Sripeni.
Pewarta : Sugiharto Purnama
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026