Pementasan atraksi budaya NTB semarak
"Di Desa Pringgabaya, ada sebuah mata air yang kemudian sempat terputus relasinya dengan manusia. Kemudian, masyarakat menghubungkan kembali manusia dengan alam melalui sebuah ritual bernama perayaan Wulang Mali Molong Benjar yang setiap tahun digela
Mataram (ANTARA) - Pementasan Atraksi Budaya NTB yang digelar oleh Dinas Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) bersama Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia pada Sabtu, (17/10) di Teater Tertutup Taman Budaya NTB berlangsung semarak.
Di tengah keragaman atraksi seni tiga suku besar NTB, Sasak, Samawa, dan Mbojo alunan musik yang membawakan narasi hubungan manusia dengan alam menjadi salah satu sorotan utama.
Pementasan ini menegaskan bahwa karya musik tradisional modern tidak sekadar hadir sebagai sarana hiburan, melainkan sebagai instrumen edukasi dan pesan pelestarian lingkungan hidup.
Inspirasi karya musik tersebut berakar kuat pada ritus adat bernama Wulang Mali yang hingga kini masih terus dilestarikan oleh masyarakat di Desa Pringgabaya, Kabupaten Lombok Timur.
Ritus adat ini menjadi simbol hubungan spiritual dan ekologis warga setempat dalam menjaga keseimbangan alam sekitar.
"Kita tahu ada hari baik dan hari kurang baik untuk kerja, misalnya melaut atau berhutan begitu. Itu tanda bahwa kita tidak boleh mengeksploitasi hutan di hari-hari tertentu. Itu juga mungkin masih relevan dengan saat ini," kata musisi yang pentas.
Jalinan ritus tersebut erat kaitannya dengan sejarah pelestarian mata air setempat yang sempat mengalami perenggangan hubungan dengan kehidupan warga. Sebagaimana dijelaskan dalam narasi pertunjukan.
"Di Desa Pringgabaya, ada sebuah mata air yang kemudian sempat terputus relasinya dengan manusia. Kemudian, masyarakat menghubungkan kembali manusia dengan alam melalui sebuah ritual bernama perayaan Wulang Mali Molong Benjar yang setiap tahun digelar di bulan Juni," katanya.
Kisah pemulihan hubungan ekologis itulah yang melahirkan karya lagu berjudul Wulang Mali sebagai nomor pamungkas dalam pementasan.
"Kami terinspirasi dari sana, maka kami membuat sebuah lagu untuk mengingatkan kita bersama akan pentingnya menjaga mata air," ujar musisi di atas panggung saat memperkenalkan karya lagu terakhir mereka di atas panggung.
Tidak hanya urusan mata air, pandangan hidup warga lokal terhadap pembacaan tanda-tanda alam juga turut disuarakan melalui alunan melodi dan tuturan lirik.
Pesan moral dan ekologis dari Lombok ini berpadu serasi dengan representasi kebudayaan Samawa (Sumbawa) yang mengusung nilai "Kuat dalam Budaya" serta Mbojo (Bima-Dompu) dengan kearifan tradisinya. Perpaduan nilai-nilai dari ketiga suku tersebut semakin memperkaya khazanah pertunjukan malam hari yang berlangsung meriah dari pukul 19.00 hingga 22.00 WITA.
"Kami terinspirasi dari sana, maka kami membuat sebuah lagu untuk mengingatkan kita bersama akan pentingnya menjaga mata air.," katanya.
Melalui keharmonisan musik dan ritus tradisi yang ditampilkan, Dinas Kebudayaan Provinsi NTB berharap pesan pelestarian mata air dan alam dari Desa Pringgabaya ini mampu menggugah kesadaran masyarakat luas.
Karya seni yang berakar pada tradisi ini diharapkan terus bertumbuh dan membuahkan kesadaran kolektif demi mewujudkan NTB yang makmur, lestari, serta mendunia.
Pewarta : Taufan Fadlan
Editor:
Agus Setiawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026