Pemkab Buol perkuat strategi jaga stabilitas harga pangan daerah
Pemkab Buol perkuat strategi jaga stabilitas harga pangan daerah
Sabtu, 10 Oktober 2026 11:59 WIB
Wakil Bupati Buol Moh. Nasir Dj Daimaroto saat memimpin pertemuan dengan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah. (ANTARA/HO-Diskominfo Buol)
Buol (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buol, Sulawesi Tengah (Sulteng), memperkuat strategi pengendalian inflasi di daerah tersebut dengan menjaga ketersediaan, keterjangkauan harga pangan, kelancaran distribusi, serta penguatan kerja sama antardaerah.
"Jadi berdasarkan pemantauan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kabupaten Buol pada akhir September 2026, Indeks Perkembangan Harga (IPH) meningkat 6,8 persen, terutama dipengaruhi kenaikan harga cabai rawit Rp120 ribu per kilogram, dan cabai keriting Rp70 ribu per kilogram," kata Wakil Bupati Buol Moh Nasir Dj Daimaroto di Biau, Buol, Sulteng, Sabtu.
Ia mengatakan pemerintah daerah sudah menyiapkan berbagai langkah dalam pengendalian inflasi itu seperti pemantauan harga harian, gerakan pangan murah, pasar murah, pengawasan harga beras SPHP, serta penyediaan cadangan pangan pemerintah sebesar 18,5 ton beras.
"Tentunya ketersediaan 12 komoditas pangan utama juga tetap surplus hingga Desember mendatang dengan dukungan produksi lokal dan pasokan dari luar daerah," ujar dia.
Menurut dia, untuk sektor pertanian terdapat bantuan dari APBN guna pengembangan 55 hektare cabai rawit berupa bibit, mulsa dan pupuk yang telah disalurkan kepada kelompok tani di wilayah Lakea dan sekitarnya.
Sementara itu, kebutuhan bahan baku untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) saat ini masih mengalami kendala dan pasokan bahan baku lokal.
"Keterbatasan air bersih dan pasokan bahan baku lokal menjadi kendala operasional SPPG. Jadi untuk satu SPPG kebutuhan harian mencapai 150 hingga 250 kilogram beras, 190 sampai 200 ekor ayam ras, 90 sampai 100 rak telur dan 90 hingga 100 kilogram daging sapi," katanya menambahkan.
Ia mengemukakan tingginya kebutuhan tersebut menjadi faktor yang perlu diperhatikan dalam menjaga stabilitas harga komoditas di pasar lokal.
"Untuk pertumbuhan ekonomi di Buol meningkat dari 2,17 persen pada triwulan I menjadi 3,98 persen pada triwulan II 2026. Capaian itu menjadi salah satu dasar untuk terus memperkuat kebijakan ekonomi daerah berbasis data, sekaligus mendorong investasi dan penguatan sektor pangan," kata dia.
Pewarta : Moh Salam
Editor:
Andriy Karantiti
COPYRIGHT © ANTARA 2026