Pemkab Gorontalo Utara edukasi peternak untuk tingkatkan populasi sapi - ANTARA News Gorontalo
Gorontalo (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo melalui Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan setempat, terus berupaya meningkatkan populasi ternak sapi di wilayah tersebut.
"Populasi ternak sapi di daerah ini tersebar di 11 wilayah kecamatan, mencapai 20.846 ekor," kata Medik Veteriner Ahli Muda Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Gorontalo Utara drh Yeni Retno Wati di Gorontalo Utara, Senin.
Edukasi kepada peternak di seluruh wilayah terus dilakukan sebagai upaya meningkatkan populasi ternak sapi, seiring tingginya permintaan ternak sapi potong dari Pasar Nusantara.
Ada 11 wilayah kecamatan, yaitu di Kecamatan Atinggola populasi ternak sapi mencapai 1.931 ekor, Kecamatan Gentuma 777 ekor, Kecamatan Kwandang 5.365 ekor, Kecamatan Tomilito 2.068 ekor.
Kecamatan Ponelo Kepulauan 256 ekor, Kecamatan Anggrek 4.718 ekor, Kecamatan Monano 1.769 ekor, Kecamatan Sumalata 1.181 ekor, Kecamatan Sumalata Timur 356 ekor, Kecamatan Biau 633 ekor, serta Kecamatan Tolinggula 1.791 ekor.
Jumlah tersebut belum signifikan jika dibandingkan dengan potensi ketersediaan lahan, potensi pakan dan pola peternakan dengan sistem kandangan atau sapi dipelihara dalam kandang sehingga dengan bobot terjaga, pasti memiliki nilai jual yang sangat tinggi atau potensial mencapai minimal Rp30 juta per ekor.
Disamping upaya pemerintah daerah mendorong terwujudnya program satu orang memiliki satu ekor ternak sapi, yang sangat potensial dikembangkan di daerah ini.
Oleh karena itu, untuk terus berupaya meningkatkan populasi ternak sapi di daerah ini, kondisi paling prioritas kata Yeni, adalah mempertahankan kualitas hidup ternak sapi yang dimiliki.
Saat musim kemarau ini, pakan dan minum ternak harus menjadi prioritas, agar sapi tetap gemuk dan berproduksi, serta tidak mudah diserang penyakit.
"Paling penting, ternak harus terlindung dari paparan sinar matahari yang dapat mempengaruhi kondisi kesehatan," katanya.
Di musim kemarau, ternak sapi yang digembalakan berisiko keracunan daun ketumbar atau penyakit bali zidkte.
Peternak harus tahu mengidentifikasi daun ketumbar, agar saat mencari pakan, sapi tidak makan daun ini dalam jumlah banyak sebab dampaknya membahayakan.
"Jika keracunan daun ketumbar, dapat menyebabkan kulit sapi yang terkena sinar matahari terkelupas. Bahasa lokal disebut panas dalam," katanya.
Dalam kondisi kulit masih dapat kering, tentu dapat menyelamatkan hidup sapi namun jika lambat ditangani, pasti sangat mengancam kehidupannya.
Sejauh ini kata Yeni, pihaknya banyak menerima laporan dari peternak terkait kondisi tersebut.
"Seringkali kami beri edukasi, serta memberi suntikan antibiotik dan antialergi pada ternak sapi, sebab kondisi tersebut membuat gatal pada sapi," katanya pula.
Pihaknya terus melakukan pendampingan, penyuluhan dan memberi edukasi kepada para peternak, dalam menjalankan usaha ternak yang dimiliki meski musim kemarau melanda.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Pemkab Gorontalo Utara edukasi peternak untuk tingkatkan populasi sapi
Pewarta: Susanti Sako
Editor : Debby H. Mano
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.