kingsheadwye.com

Perang Iran Jadi Bumerang ke Trump, Dikepung Risiko dari Segala Arah

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali menghadapi dilema besar dalam konflik dengan Iran. Setelah lebih dari lima bulan perang, ruang gerak Washington dinilai semakin sempit, sementara setiap opsi yang tersedia berpotensi memicu biaya politik, ekonomi, dan militer yang lebih besar.

Pemerintahan Trump menegaskan jeda serangan udara selama tiga malam terakhir dimaksudkan untuk membuka peluang diplomasi, namun tetap bersiap menghadapi kemungkinan eskalasi baru. Duta Besar AS untuk PBB Mike Waltz menegaskan pemerintah tidak mengesampingkan langkah militer.

"Rezim tersebut harus percaya kepada presiden ketika dia mengatakan, 'kami siap tempur' dan semua opsi ada di atas meja," ujar Waltz dalam wawancara dengan CBS, dikutip Senin (27/7/2026).

Pilihan Redaksi

  • Tarif Dagang Baru Trump ke RI Cs Digugat, Terancam Batal
  • Adik Perempuan Kim Jong Un Ngamuk, Sebut Negara ASEAN Bodoh
  • Bom Meledak di Manila Filipina, 20.000 Polisi Turun 'Kepung' Ibu Kota
  • Update Perang Timteng: AS Setop Serangan, Iran Kembali Nego Damai?

Di sisi lain, sinyal diplomasi masih sangat terbatas. Iran mengonfirmasi telah menggelar pembicaraan dengan Oman di tingkat wakil menteri luar negeri, tetapi belum menunjukkan indikasi akan mengubah tuntutan utamanya terkait kendali atas lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz. Waltz tetap optimistis posisi Washington lebih kuat.

"Iran terisolasi secara diplomatik, terisolasi secara ekonomi, dan hancur secara militer. Mereka belum pernah selemah ini dan kami bernegosiasi dari posisi yang kuat," katanya kepada NBC.

Meski demikian, strategi Trump dinilai belum menghasilkan perubahan signifikan. Serangan militer yang lebih intens belum mampu memaksa Teheran mengubah sikapnya.

Pilihan untuk meningkatkan operasi hingga melibatkan pasukan darat memang tersedia. Tetapi langkah tersebut berisiko menimbulkan korban besar di pihak AS dan memicu penolakan publik terhadap perang yang semakin tidak populer.

Tekanan juga datang dari sisi ekonomi. Kenaikan harga minyak beberapa waktu lalu meningkatkan kekhawatiran terhadap lonjakan harga bahan bakar di AS, meski harga minyak Brent sempat terkoreksi lebih dari 5%.

Ancaman terhadap jalur pelayaran alternatif di Laut Merah oleh kelompok Houthi yang didukung Iran, ditambah persediaan minyak global yang semakin menipis, memperbesar risiko krisis energi sekaligus menjadi beban politik bagi Trump menjelang pemilu paruh waktu.

Di internal pemerintahan sendiri muncul keraguan terhadap strategi eskalasi. Wakil Presiden JD Vance dan Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine dilaporkan menyampaikan kekhawatiran dalam rapat Gedung Putih mengenai dampak perang yang semakin meluas, termasuk terhadap stok amunisi AS.

Penilaian CIA dan Badan Intelijen Pertahanan AS juga menyebut serangan terbaru kemungkinan besar tidak akan mengubah posisi negosiasi Iran. Opsi lain yang dipertimbangkan adalah memperketat blokade ekonomi terhadap kapal dan pelabuhan Iran guna memutus sumber pendanaan pemerintah Teheran.

Namun kebijakan tersebut diperkirakan membutuhkan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan untuk memberikan hasil. Sementara Iran diperkirakan akan membalas dengan meningkatkan serangan terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz sehingga memperbesar dampak terhadap ekonomi global.

Alternatif berikutnya ialah menghidupkan kembali nota kesepahaman dan mendorong gencatan senjata sementara. Namun peluangnya dinilai kecil karena Iran diperkirakan hanya bersedia jika memperoleh hak mengatur sekaligus mendapatkan manfaat ekonomi dari lalu lintas di Selat Hormuz.

Konsesi semacam itu berpotensi memicu kritik keras terhadap Trump dari kalangan politik domestik AS. Dilema tersebut turut tercermin dalam jajak pendapat terbaru CBS News/YouGov.

Hanya 31% warga AS yang mengaku memahami situasi di Selat Hormuz, 40% menilai AS berada di posisi unggul, sementara 76% percaya perang melawan Iran berlangsung jauh lebih sulit dibandingkan perkiraan awal pemerintahan Trump. Kondisi itu memperlihatkan bahwa hingga kini Washington belum menemukan jalan keluar yang mampu memenuhi tujuan strategisnya tanpa memperbesar risiko konflik.

(tfa/sef)

Add

as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]