Peringatan 50 Tahun Menegaskan Semakin Besarnya Kepercayaan Internasional Terhadap Prinsip TAC
Bagikan:
JAKARTA - Peringatan 50 tahun Treaty of Amity and Cooperation in Southeast Asia atau Perjanjian Persahabatan dan Kerja Sama di Asia Tenggara (TAC) menegaskan semakin besarnya kepercayaan internasional terhadap prinsip-prinsip TAC.
Filipina akan menggelar peringatan 50 tahun TAC dalam rangkaian Pertemuan '59th ASEAN Ministerial Meeting and Post-Ministerial Conferences' (AMM/PMC) dan pertemuan-pertemuan terkait yang digelar sejak awal pekan pada Hari Jumat (24/7). Empat negara akan bergabung menandatangani aksesi TAC, sehingga total nantinya akan ada 63 negara, sejak TAC kali pertama ditandatangani pada tahun 1976.
"Selama lima dekade terakhir, TAC menjadi salah satu instrumen kunci ASEAN dalam menjaga stabilitas dan perdamaian di kawasan, yang mengedepankan dialog, membangun kepercayaan, dan penyelesaian konflik secara damai," kata Juru Bicara I Kementerian Luar Negeri RI Yvonne Mewengkang kepada VOI.id, seperti dikutip Jumat (24/7).
"Peringatan 50 Tahun TAC juga menegaskan semakin besarnya kepercayaan internasional terhadap prinsip-prinsip TAC, sebagaimana tercermin dari terus bertambahnya High Contacting Parties," tandasnya.
Sementara itu, berbicara dalam keterangan pers di International Media Center, Manila pada Kamis malam, Menteri Luar Negeri Filipina Maria Theresa P. Lazaro mengungkapkan ada empat negara yang akan menandatangani aksesi TAC pada hari ini.
"Besok (hari ini), kita akan memperingati ulang tahun ke-50 Perjanjian Persahabatan dan Kerja Sama di Asia Tenggara. Kami akan menyambut empat negara anggota baru yang memiliki tingkat kesepakatan tinggi, yaitu Swedia, Polandia, Rumania, dan Lituania yang diwakili oleh menteri luar negeri masing-masing, dan mengadakan konferensi tingkat tinggi perdana negara-negara anggota, pertemuan pertama sejak Perjanjian ditandatangani pada tahun 1976," kata Menlu Lazaro.
Diketahui, TAC pertama kali ditandatangani oleh Presiden Indonesia Soeharto, Presiden Filipina Ferdinand Marcos, Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew, Perdana Menteri Malaysia Tun Hussein Onn dan Perdana Menteri Thailand Kukrit Pramoj di Bali pada 24 Februari 1976.
Seiring Waktu, TAC mengalami tiga kali amandemen melalui protokol untuk membuka diri bagi pihak di luar ASEAN untuk bergabung, yakni Protokol Pertama (1987) membuka kesempatan negara di luar Kawasan Asia Tenggara ikut mendatangani dan meratifikasi TAC, Protokol Kedua (1998) mengizinkan organisasi regional beranggotakan negara berdaulat bergabung, serta Protokol Ketiga (2010) memberikan penyesuaian terkait aksesi untuk negara non-regional.
BACA JUGA:
Prinsip-prinsip yang terkandung dalam TAC yakni, Saling Menghormati; Non-intervensi; Penyelesaian Sengketa Damai; Penolakan Ancaman atau Penggunaan Kekerasan; serta Kerja Sama Efektif.
Sejauh ini sebanyak 59 negara sudah menandatangani TAC, dengan terakhir Uzbekistan pada November tahun lalu. Jumlah ini akan bertambah dengan bergabungnya empat negara pada hari ini. Selain, seluruh negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB (P5), Amerika Serikat, Rusia, China, Inggris dan Prancis juga telah menandatangani aksesi TAC.
"Indonesia mendorong seluruh High Contracting Parties untuk terus menjunjung tinggi prinsip-prinsip TAC dan menjadikannya sebagai landasan bagi kerja sama yang nyata dan langkah-langkah konkret dalam menjawab tantangan global saat ini," pungkas Yvonne.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+