Matthew Nainggolan : Perputaran Uang di Tengah Booming AI - Opini Katadata.co.id
Sepanjang tahun ini, bursa saham dunia berulang kali mencetak rekor tertinggi. Sebagian besar ditopang oleh optimisme terhadap kecerdasan buatan. Belanja modal untuk membangun pusat data, cip, dan infrastruktur komputasi tumbuh dengan kecepatan yang belum pernah terjadi pada teknologi mana pun sebelumnya.
Namun di balik angka-angka pertumbuhan yang mengesankan itu, muncul pertanyaan yang semakin sulit dihindari: seberapa besar permintaan yang mendorong pertumbuhan ini benar-benar datang dari pasar yang luas? Seberapa besar yang sebenarnya diciptakan oleh segelintir perusahaan yang saling membiayai satu sama lain?
Pada September tahun lalu, sebuah perusahaan pembuat cip grafis mengumumkan rencana investasi hingga US$100 miliar ke sebuah laboratorium kecerdasan buatan terkemuka. Perusahaan tersebut sekaligus akan memasok cip untuk pusat data laboratorium itu.
Di atas kertas, ini terlihat seperti kepercayaan investor terhadap masa depan teknologi. Namun belum genap setahun berjalan, rencana investasi sebesar itu dilaporkan terhenti.
Sebagian kalangan di internal perusahaan cip tersebut meragukan kelayakan kesepakatan. Skemanya kemudian dirombak menjadi kucuran dana puluhan miliar dolar lewat putaran pendanaan biasa. Dengan syarat yang sama, laboratorium itu tetap membelanjakan sebagian dana tersebut untuk membeli cip dari investornya sendiri.
Pola ini tidak berhenti di satu transaksi. Laboratorium yang sama menandatangani kontrak komputasi awan senilai US$300 miliar dengan sebuah penyedia layanan cloud, untuk durasi lima tahun mulai 2027. Guna memenuhi kontrak sebesar itu, penyedia cloud tersebut harus membeli lebih banyak cip—dari produsen cip yang sama, yang juga menjadi salah satu investor terbesarnya.
Uang bergerak dari satu neraca ke neraca lain, lalu kembali lagi ke titik awal. Di setiap perhentian ia tercatat sebagai pendapatan atau bukti permintaan baru.
Skala komitmen ini sempat disebut pucuk pimpinan laboratorium tersebut mencapai US$1,4 triliun. Awal tahun ini angka itu direvisi turun menjadi sekitar US$600 miliar hingga 2030. Namun, dinaikkan lagi menjadi sekitar US$750 miliar hanya lima bulan kemudian, seiring pendapatan tahunannya yang tercatat sekitar US$25 miliar pada pertengahan tahun ini.
Angka komitmen yang berubah-ubah dalam hitungan bulan ini menjadi sinyal betapa sulitnya menakar kebutuhan riil di balik belanja sebesar itu. Kerugian yang diproyeksikan tahun ini pun masih sekitar US$14 miliar.
Pola serupa terulang di pasangan lain. Produsen cip pesaing menggandeng laboratorium AI yang sama lewat kesepakatan yang memberi opsi kepemilikan hingga 10% sahamnya. Ini sebagai imbalan komitmen pembelian enam gigawatt kapasitas cip dalam beberapa tahun ke depan.
Produsen cip itu bahkan berkomitmen menyuntikkan dana hingga US$5 miliar ke laboratorium AI lain, yang sebelumnya juga menerima suntikan dana gabungan US$15 miliar dari raksasa perangkat lunak dan produsen chip terbesar dunia. Dengan imbalan komitmen belanja US$30 miliar untuk memakai layanan komputasi awan milik salah satu investornya sendiri.
Sebuah studi lembaga konsultan global memperkirakan industri kecerdasan buatan membutuhkan pendapatan tahunan sekitar US$2 triliun pada 2030. Ini digunakan untuk membiayai seluruh infrastruktur yang telah dijanjikan. Sementara lintasan pendapatan saat ini diperkirakan meleset sekitar US$800 miliar dari kebutuhan tersebut.
Pembela skema pembiayaan melingkar ini punya argumen yang masuk akal: membangun infrastruktur kecerdasan buatan membutuhkan biaya sangat besar. Cip tercanggih masih langka. Alhasil, mengunci pasokan lewat kombinasi komitmen pembelian jangka panjang dan pembiayaan sekaligus, bukan sesuatu yang aneh dalam industri padat modal.
Namun argumen itu tidak serta-merta menghapus tiga risiko yang mulai mengganggu tidur banyak analis pasar belakangan ini.
Risiko pertama ada di ranah akuntansi. Ketika uang yang sama tercatat sebagai pendapatan di beberapa perusahaan sekaligus—sebagai investasi di satu neraca, lalu sebagai penjualan di neraca lainnya—investor kesulitan membedakan mana permintaan yang benar-benar datang dari luar ekosistem ini.
Begitu juga mana yang sekadar transaksi antarpihak yang kepentingannya sudah saling terikat sejak awal.
Kekhawatiran ini bahkan datang dari dalam. Laporan media menyebut direktur keuangan salah satu laboratorium AI tersebut secara internal mengaku cemas. Pendapatan perusahaan tidak akan tumbuh cukup cepat untuk menutup seluruh kontrak komputasi yang sudah diteken.
Risiko kedua adalah konsentrasi. Nasib segelintir perusahaan ini kini saling terikat begitu erat sehingga guncangan pada satu pihak berpotensi menjalar ke seluruh lingkaran. Pasar sebenarnya sudah mulai menghargai kekhawatiran ini.
Pada pertengahan tahun ini, saham penyedia cloud yang paling terekspos ke salah satu kesepakatan ini mencatat pekan terburuknya sejak kejatuhan dot-com pada 2001. Hal ini seiring investor mempertanyakan apakah pendapatan yang dijanjikan benar-benar akan terealisasi secepat komitmen belanjanya.
Risiko ketiga menyangkut valuasi yang mulai dianggap terlalu panas. Dana Moneter Internasional, dalam pembaruan World Economic Outlook Juli 2026, secara eksplisit memperingatkan bahwa valuasi ekuitas yang terlalu tinggi. Ini khususnya di negara-negara pengekspor teknologi AI dan pasar dengan konsentrasi tinggi pada saham teknologi. Valuasi berpotensi terkoreksi tajam jika ekspektasi pertumbuhan yang sudah tertanam di harga saham ternyata tidak terpenuhi.
Sejarah bahkan sudah memberi sinyalnya sendiri secara harfiah. Penurunan tajam saham penyedia cloud tersebut disamakan langsung dengan kejatuhan dot-com dua dekade lalu.
Ketika itu perusahaan telekomunikasi saling membiayai pembelian peralatan jaringan satu sama lain untuk mempercepat pembangunan infrastruktur internet. Namun, permintaan riil dari konsumen tidak pernah menyusul secepat janji belanjanya. Akibatnya, miliaran dolar pinjaman vendor berakhir tak tertagih.
Bedanya, skala pembiayaan melingkar kali ini jauh lebih besar. Adapun yang menopang rekor tertinggi bursa saham dunia hari ini bukan cuma optimisme. Melainkan, juga belanja modal yang sebagian dibiayai oleh lingkarannya sendiri.
Pertanyaannya bukan lagi soal seberapa besar kecerdasan buatan akan mengubah dunia. Karena hal itu sudah menjadi konsensus yang jarang diperdebatkan lagi.
Pertanyaan yang lebih penting, dan justru lebih jarang dijawab dengan jujur, adalah: seberapa besar dari pertumbuhan yang kita rayakan hari ini benar-benar datang dari luar lingkaran itu? Lalu, seberapa besar yang sebenarnya hanya uang yang sama, berputar lebih cepat, lalu dihitung berkali-kali?
Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke [email protected] disertai dengan CV ringkas dan foto diri.