kingsheadwye.com

Mourinho Kembali, Mbappe Makin Tajam: Seberapa Kuat Real Madrid Musim 2026-27?

Real Madrid 2026-2027

Kembalinya Jose Mourinho membuat musim baru Real Madrid langsung punya cerita besar. Pelatih asal Portugal itu kembali ke Santiago Bernabeu 13 tahun setelah meninggalkan klub, dengan tugas yang tidak ringan: membawa Madrid merebut kembali dominasi di Spanyol sekaligus memperbaiki performa mereka di Liga Champions.

Madrid juga datang dengan sejumlah perubahan besar. Vinicius Junior sudah memperpanjang kontraknya, Kylian Mbappe baru saja menjadi pencetak gol terbanyak Piala Dunia 2026 dengan 10 gol bersama Prancis, sementara Yan Diomande datang dari RB Leipzig dengan biaya transfer yang dilaporkan mencapai sekitar Rp2,52 triliun.

Ada banyak alasan untuk optimistis. Tapi Madrid tetap punya sejumlah pertanyaan yang belum terjawab.

Bisakah Mourinho kembali menemukan sentuhannya?

Mourinho pernah membawa Real Madrid menjadi juara La Liga pada musim 2011-12. Itu bukan sekadar gelar biasa.

Madrid mengumpulkan 100 poin, memenangkan 32 pertandingan liga dan mencetak 121 gol dalam 38 laga. Jumlah kemenangan tandang mereka mencapai 16, sebuah rekor La Liga yang masih bertahan.

Namun, periode pertama Mourinho di Madrid sebenarnya tidak dipenuhi trofi sebanyak yang mungkin dibayangkan. Dalam tiga musim, ia memenangkan Copa del Rey, La Liga dan Supercopa de España.

BACA JUGA:

Kini ia datang kembali setelah perjalanan karier yang tidak selalu mulus. Mourinho tetap meraih trofi UEFA Conference League bersama Roma, tetapi periode bersama Tottenham, Roma, Fenerbahce dan Benfica juga menunjukkan bahwa kejayaan masa lalu tidak otomatis bisa diulang.

Musim lalu, Benfica asuhannya bahkan mengalahkan Madrid 4-2 di Lisbon dalam pertandingan Liga Champions. Gol keempat yang dicetak kiper Anatoliy Trubin membantu Benfica lolos ke babak play-off. Madrid kemudian membalas dengan kemenangan agregat 3-1.

Benfica juga tidak terkalahkan sepanjang Primeira Liga 2025-26. Masalahnya, mereka terlalu sering bermain imbang. Sebanyak 11 hasil seri membuat mereka hanya finis di posisi ketiga di belakang Porto dan Sporting CP.

Di Madrid, Mourinho akan memiliki pemain dengan kualitas yang jauh lebih tinggi di lini depan. Itu bisa mengubah banyak hal.

Trio Vinicius, Mbappe dan Diomande harus menemukan keseimbangan
Real Madrid sudah memiliki Vinicius dan Mbappe. Sekarang mereka menambahkan Yan Diomande.

Pemain asal Pantai Gading itu datang dari RB Leipzig dengan biaya sekitar Rp2,52 triliun dan diproyeksikan mengisi ruang di sisi kanan serangan setelah Rodrygo mengalami cedera, Franco Mastantuono dipinjamkan ke Fiorentina dan Arda Guler lebih sering dimainkan sebagai gelandang tengah.

Diomande tampil produktif musim lalu dengan 13 gol dan sembilan assist untuk Leipzig. Ia juga sangat berbahaya ketika membawa bola. Hanya Lamine Yamal yang mencatat lebih banyak dribel sukses di lima liga top Eropa musim lalu.

Yamal menyelesaikan 133 dribel, sedangkan Diomande berada di angka 118.

Bukan cuma soal menyerang. Diomande juga agresif ketika Madrid kehilangan bola. Ia tercatat 27 kali memenangkan penguasaan bola di sepertiga akhir lapangan, hanya kalah dari sembilan pemain di lima liga top Eropa.

Vinicius sendiri bertahan di Madrid setelah sempat dikaitkan dengan Arsenal dan kemudian menandatangani kontrak baru. Musim lalu ia mencetak 22 gol di semua kompetisi. Mbappe bahkan lebih produktif dengan 42 gol.

Angka tersebut sebenarnya sudah sangat tinggi. Persoalannya, keduanya dinilai belum selalu cocok di lapangan, terutama dalam pertandingan besar.

Mourinho punya pengalaman mengatasi masalah semacam ini. Pada musim 2011-12, ia berhasil memaksimalkan Cristiano Ronaldo, Gonzalo Higuain dan Karim Benzema dalam tim yang mencetak 121 gol di La Liga.

Sekarang tugasnya serupa, hanya nama pemainnya berbeda.

Vinicius, Mbappe dan Diomande.

Bellingham harus kembali ke level terbaik

Ada satu pemain lain yang bisa membuat serangan Madrid jauh lebih berbahaya: Jude Bellingham.

Bellingham menjalani Piala Dunia 2026 dengan sangat baik. Ia mencetak tujuh gol dan membantu Inggris finis di posisi ketiga di Amerika Utara.

Performa itu menghidupkan kembali gambaran Bellingham yang pernah begitu dominan di Madrid.

Musim lalu, kontribusinya memang menurun. Ia hanya mencetak delapan gol dan lima assist dalam 40 pertandingan untuk Madrid. Sebagai perbandingan, pada musim pertamanya di Spanyol ia menghasilkan 23 gol dan 13 assist. Musim berikutnya, catatannya mencapai 14 gol dan 13 assist.

Ada kemungkinan posisi menjadi salah satu penyebabnya.

Bersama Inggris di bawah Thomas Tuchel, Bellingham dimainkan sebagai gelandang serang di belakang Harry Kane. Hasilnya sangat bagus. Ia punya kebebasan untuk bergerak dan lebih sering masuk ke area berbahaya.

Di Madrid musim 2025-26, ia justru menghabiskan lebih banyak menit sebagai gelandang tengah. Ia hanya bermain lebih dekat dengan striker dalam 28 persen menitnya di La Liga, dibandingkan 71 persen saat tampil di Piala Dunia.

Mourinho punya pilihan untuk mengubahnya.

Bayangkan Bellingham berada di belakang trio Vinicius, Mbappe dan Diomande dalam kondisi terbaiknya.

Itu bisa menjadi salah satu kekuatan terbesar Madrid.

Rekrutan baru memberi Mourinho banyak pilihan

Diomande menjadi pembelian paling mencolok, tetapi Madrid tidak berhenti di sana.

Marc Cucurella datang setelah membantu Spanyol menjuarai Piala Dunia. Denzel Dumfries juga bergabung dari Inter. Bernardo Silva dan Ibrahima Konate didatangkan dengan status bebas transfer dari klub-klub Premier League.

Cucurella memberikan agresivitas dari sisi kiri. Musim lalu, hanya Moises Caicedo yang membuat lebih banyak tekel untuk Chelsea di Premier League dibandingkan Cucurella. Ia mencatat 55 tekel.

Bek kiri tersebut juga menghasilkan 37 peluang dari permainan terbuka. Hanya Enzo Fernandez dan Pedro Neto yang lebih banyak di Chelsea.

Dumfries menjadi tambahan menarik di sisi kanan. Kedatangannya bahkan membuat masa depan Trent Alexander-Arnold di starting XI Madrid semakin tidak pasti setelah musim debutnya di Spanyol dinilai kurang meyakinkan.

Bernardo Silva membawa pengalaman besar dengan enam gelar Premier League bersama Manchester City.

Konate juga memiliki pengalaman sebagai juara Inggris bersama Liverpool. Musim lalu memang tidak mudah baginya, tetapi ia tetap sangat kuat dalam duel udara. Persentase kemenangan duel udara Konate mencapai 71,3 persen, hanya kalah dari Virgil van Dijk di antara pemain yang memenuhi batas minimal 150 duel udara.

Madrid juga mendatangkan Carlos Espi dari Levante untuk menjadi pelapis Mbappe. Penyerang berusia 21 tahun itu mencetak 11 gol dalam 25 pertandingan La Liga musim lalu.

Banyak pilihan tersedia.

Sekarang pertanyaannya adalah bagaimana Mourinho merangkainya menjadi satu tim yang seimbang.

Apakah Madrid benar-benar membutuhkan pengganti Rodri?

Satu nama yang belum berhasil didapat Madrid adalah Rodri.

Gelandang Manchester City tersebut sudah lama dikaitkan dengan Madrid, tetapi kini justru disebut menuju Barcelona. Jika itu terjadi, situasinya tentu menjadi pukulan ganda bagi Los Blancos.

Namun, Madrid mungkin tidak harus panik.

Mereka sudah memiliki Aurélien Tchouameni, Federico Valverde, Bernardo Silva, Arda Guler dan Eduardo Camavinga. Ada pula Thiago Pitarch yang sangat diharapkan berkembang.

Bahkan ketika dibandingkan menggunakan profil permainan, Tchouameni menjadi pemain kedua yang paling mirip dengan Rodri di antara pemain lima liga top Eropa musim lalu. Pemain yang paling dekat adalah Elliot Anderson, rekrutan baru Manchester City.

Manuel Locatelli dan Nico Gonzalez berada setelah mereka dalam daftar tersebut.

Jadi, Madrid sebenarnya sudah memiliki opsi yang cukup masuk akal.

Tchouameni mungkin tidak bisa menjadi Rodri. Tidak ada pemain yang benar-benar bisa menggandakan profil pemain seperti Rodri. Tetapi Madrid bisa memberinya dukungan dengan Valverde, Silva, Guler, Camavinga dan Pitarch.

Opini Gilabola.com

Kembalinya Mourinho membuat Real Madrid terasa seperti tim yang sedang mencoba menemukan kembali identitasnya.

Masalah terbesar mereka bukan kekurangan pemain. Justru sebaliknya. Mourinho mendapatkan terlalu banyak pemain berkualitas dan harus menemukan kombinasi yang tepat.

Trio Vinicius, Mbappe dan Diomande bisa menjadi senjata luar biasa, tetapi keberhasilan Madrid tidak hanya ditentukan oleh jumlah gol ketiganya. Bellingham juga harus dikembalikan ke area yang membuatnya paling berpengaruh.

Di situlah keputusan Mourinho akan sangat penting.

Kami juga melihat Tchouameni sebagai solusi yang cukup masuk akal untuk persoalan gelandang bertahan. Madrid memang tidak memiliki Rodri, tetapi mereka punya kedalaman lini tengah yang sulit dianggap remeh.

Kalau Mourinho mampu membuat lini depan lebih padu, mengembalikan Bellingham ke level terbaik dan menjaga keseimbangan di tengah, Madrid punya modal besar untuk kembali menekan Barcelona.

Yang paling menarik justru bukan apakah Madrid punya pemain untuk memenangkan trofi.

Mereka jelas punya.

Pertanyaannya, apakah Mourinho bisa membuat semua kepingan itu bekerja bersama?

  • Tag
  • Jose Mourinho
  • Real Madrid