kingsheadwye.com

Pramono ungkap alasan rekayasa cuaca belum dapat dilakukan di Jakarta

Jakarta (ANTARA) - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengungkapkan alasan operasi modifikasi cuaca (OMC) pada musim kemarau saat ini belum dapat dilakukan karena tidak ada awan.

“Karena sampai dengan hari ini, awannya itu tidak ada. Berkali-kali saya sudah memerintahkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah untuk segera melakukan modifikasi cuaca,” kata Pramono di Balai Kota, Jakarta, Rabu.

Menurut dia, rekayasa cuaca dapat dilakukan dalam kondisi terdapat awan.

“Selama ada awannya, pasti akan segera kami lakukan (OMC),” ujar Pramono.

Sebelumnya, dia mengatakan OMC dapat dilakukan saat kemarau.

Baca juga: Pramono setuju modifikasi cuaca dilakukan dua kali sepekan

Biasanya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta melakukan rekayasa cuaca dengan mendorong air hujan ke laut. Kali ini sebaliknya, OMC dilakukan dengan mendorong hujan ke daratan Jakarta.

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan OMC merupakan intervensi untuk meningkatkan potensi hujan dengan cara menyemai garam atau Natrium Klorida (NaCl) ke dalam gumpalan awan dengan menggunakan pesawat khusus.

Salah satu syarat utama penyemaian garam tersebut, yaitu terbentuknya awan konvektif.

Saat ini, BMKG mencatat fenomena El Nino 2026 telah aktif dan berpotensi mencapai level sangat kuat.

Kondisi tersebut diprediksi memicu musim kemarau yang lebih kering dan berdurasi lebih panjang di sebagian besar wilayah Indonesia, sehingga meningkatkan risiko kekeringan serta berbagai dampak pada sektor strategis.

Untuk itu, diperlukan penguatan langkah mitigasi dan kesiapsiagaan secara nasional.

Baca juga: Modifikasi cuaca di Jakarta dimungkinkan saat kemarau

Baca juga: OMC tak berdampak negatif pada kesehatan warga Jakarta

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Rr. Cornea Khairany
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.