Purbaya Yakin Kredit Perbankan Bisa Tembus 20 Persen, SAL Pemerintah Jadi Pengungkit
Warta Ekonomi, Jakarta -
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melihat pertumbuhan kredit perbankan masih punya ruang untuk melaju lebih tinggi. Ia bahkan memperkirakan pertumbuhan kredit bisa menembus 20 persen apabila likuiditas di sistem keuangan tetap terjaga melalui penempatan Saldo Anggaran Lebih (SAL) pemerintah.
Optimisme tersebut cukup jauh dibandingkan kondisi pertumbuhan kredit saat ini yang berada di angka 13,8 persen. Menurut Purbaya, keberadaan dana pemerintah di sistem keuangan justru dapat memberikan ruang lebih besar bagi perbankan untuk menyalurkan kredit ke sektor swasta.
"Itu (SAL) kalau ditahan terus ke depan, cukup menciptakan pertumbuhan kredit di atas 20 persen. Data terakhir kan kredit 13,8 persen, meningkat dibanding sebelumnya karena pengaruh likuiditas di sistem keuangan kita tadi," kata Purbaya kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu.
Purbaya mengatakan pemerintah telah memperpanjang penempatan SAL hingga Juli 2027. Kebijakan tersebut dinilai memberikan waktu lebih panjang bagi likuiditas yang tersedia untuk memberikan dampak terhadap aktivitas perbankan dan perekonomian.
Ia menilai penempatan dana pemerintah di perbankan tidak serta-merta mengganggu likuiditas bank. Sebaliknya, dana tersebut dapat membantu menciptakan kondisi likuiditas yang lebih baik sehingga bank memiliki ruang untuk meningkatkan penyaluran kredit.
Dalam membaca kondisi likuiditas, Purbaya mengatakan dirinya lebih mengandalkan perkembangan base money atau M0. Ia tidak menjadikan rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) sebagai satu-satunya ukuran untuk melihat kondisi likuiditas sistem keuangan.
Menurut Purbaya, base money pada Juli 2026 tumbuh 18,3 persen. Pertumbuhan tersebut diperkirakan masih berada di kisaran 18 persen pada Agustus 2026.
Purbaya juga menekankan pentingnya koordinasi antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia (BI). Menurut dia, koordinasi yang lebih baik dengan bank sentral akan membuka ruang bagi pemerintah untuk menjaga likuiditas perbankan sekaligus mendorong pertumbuhan sektor swasta.
"Dengan koordinasi yang lebih baik antara keuangan dengan bank sentral, ruang bagi kita untuk menciptakan kondisi likuiditas yang bagus untuk perbankan terbuka lebar. Sektor swasta itu bisa tumbuh lebih baik dibanding tahun sebelumnya," ujarnya.
Purbaya bahkan optimistis dampak kebijakan tersebut tidak hanya terlihat pada kredit perbankan. Ia memperkirakan perekonomian nasional juga memiliki peluang tumbuh lebih tinggi dari 6 persen.
Baca Juga: Utang Whoosh Masuk Kemenkeu, Purbaya Siapkan 2 SMV yang Identitasnya Masih Dirahasiakan
"Itu, kalau pemerintah malas saja bisa tumbuh 6 persen ekonominya. Kan sekarang pemerintah rajin, jadi akan signifikan di atas 6 persen," kata Purbaya.
Meski demikian, pemerintah tetap harus menjaga fleksibilitas penggunaan SAL apabila sewaktu-waktu dana tersebut dibutuhkan. Purbaya memastikan penarikan dana akan dikomunikasikan dengan BI agar tidak menimbulkan gangguan terhadap kondisi base money.
"Nanti kalau terpaksa narik pun, SAL itu kan nggak dipakai sebelum dapat prosedur DPR. Sebagian taruh di BI, sebagian taruh di sistem perbankan sesuai dengan kebutuhan manajemen arus kas kita. Kebetulan berdampak positif ke perbankan," jelasnya.
Ia menambahkan, koordinasi dengan bank sentral diperlukan apabila pemerintah nantinya harus menggunakan SAL. Dengan cara tersebut, pemerintah berharap penyaluran kredit tetap memiliki ruang untuk tumbuh tanpa mengganggu stabilitas likuiditas dalam sistem keuangan.
Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama