Putin perketat kerahasiaan data energi Rusia untuk hambat sanksi Barat
Istanbul (ANTARA) - Presiden Rusia Vladimir Putin, Senin (28/9), menandatangani dekrit yang semakin membatasi pengungkapan informasi mengenai produk energi dan minyak, sebagai upaya untuk menyulitkan penegakan sanksi yang dijatuhkan oleh AS dan negara-negara Barat lainnya.
Menurut dokumen yang diterbitkan di portal informasi hukum resmi, langkah tersebut diambil "karena perlunya tindakan segera sebagai tanggapan atas tindakan tidak bersahabat yang bertentangan dengan hukum internasional oleh Amerika Serikat serta negara-negara asing dan organisasi internasional yang bergabung dengannya."
Berdasarkan dekrit tersebut, "informasi mengenai volume pengolahan dan hasil produksi suatu badan hukum, yaitu kilang minyak Rusia," dimasukkan ke dalam daftar informasi yang aksesnya dibatasi.
Dekrit tersebut juga melarang penyebaran informasi mengenai nama, kuantitas, dan harga produk energi yang diekspor; identitas penjual, pembeli, dan perantara; penyelesaian pembayaran; tanggal dan waktu pengiriman; sarana transportasi; serta rute, terminal, dan fasilitas penyimpanan, termasuk koordinat geografisnya.
"Statistik pabean agregat" dan data mengenai "rencana volume penjualan" untuk produk minyak dan produk energi juga diklasifikasikan sebagai informasi yang dibatasi.
Dekrit tersebut juga melarang penyebaran informasi semacam itu melalui media dan internet, kecuali informasi yang diungkapkan oleh perusahaan mengenai kegiatan mereka sendiri.
Akses dapat diberikan dengan persetujuan pemilik data, sementara instansi pemerintah dapat mengakses informasi tersebut dalam lingkup wewenang hukum mereka.
Pemerintah diberi waktu 10 hari untuk menetapkan kode produk yang tercakup dalam pembatasan tersebut dan menyetujui aturan mengenai pemrosesan data secara otomatis dari sistem negara.
Sumber: Anadolu
Baca juga: Moskow dukung gagasan AS terkait gencatan energi Rusia-Ukraina
Baca juga: Zelenskyy peringatkan Rusia soal balasan jika targetkan energi Ukraina
Penerjemah: Cindy Frishanti Octavia
Editor: Primayanti
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.