kingsheadwye.com

Ratusan hotspot terpantau, Satgas Karhutla Kotim tetap utamakan pengecekan lapangan

Ratusan hotspot terpantau, Satgas Karhutla Kotim tetap utamakan pengecekan lapangan

Jumat, 14 Agustus 2026 11:16 WIB

Image Print

Personel Satgas Karhutla Kotim saat berjuang memadamkan kebakaran lahan belum lama ini. ANTARA/HO-BPBD Kotim

Sampit (ANTARA) - Jumlah titik panas (hotspot) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, dalam beberapa hari terakhir tembus ratusan titik per hari, namun Satuan Tugas Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan (Satgas Karhutla) menilai angka tersebut tidak berbanding lurus dengan jumlah kejadian kebakaran sehingga pengecekan lapangan tetap diutamakan.

“Kalau hotspot itu berdasarkan pemantauan satelit. Memang beberapa hari terakhir ini hotspot kita cukup tinggi, bahkan kemarin tembus 300 lebih. Tapi sebenarnya untuk kejadian karhutla tidak sebanyak itu,” kata Wakil Koordinator III Satuan Tugas (Satgas) Karhutla Kotim Rihel di Sampit, Kamis.

Rihel menjelaskan, ada beberapa macam satelit yang memantau titik panas atau hotspot, sementara ini yang menjadi acuan pihaknya adalah Sistem Pemantauan Kebakaran Hutan dan Lahan atau Sistem Informasi Peringatan Dini Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) milik Kementerian Kehutanan.

Berdasarkan laporan harian yang dirangkum oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim per 12 Agustus 2026, sebanyak 325 hotspot terdeteksi.

Dari jumlah tersebut, 26 titik masuk kategori tingkat kepercayaan tinggi yang mengindikasikan kemungkinan terjadinya kebakaran, 286 titik berada pada tingkat kepercayaan menengah, sedangkan 13 titik memiliki tingkat kepercayaan rendah.

Angka tersebut menjadi yang tertinggi dalam sepekan terakhir. Pada 5 Agustus tercatat 159 titik, kemudian 85 titik pada 6 Agustus, 114 titik pada 7 Agustus, 204 titik pada 8 Agustus, 274 titik pada 9 Agustus, 237 titik pada 10 Agustus dan 296 titik pada 11 Agustus.

Sementara itu, secara kumulatif, sejak Januari hingga 12 Agustus 2026 tercatat 2.252 hotspot di Kotim, dengan 1.735 titik di antaranya terdeteksi hanya dalam periode 1-12 Agustus.

Satelit pada dasarnya mendeteksi pantulan panas, bukan menghitung jumlah kebakaran secara langsung. Satelit terus berotasi sehingga data hotspot tersebut diperbaharui setiap beberapa jam. Dalam satu hamparan lahan, pantulan panas dari area yang sama dapat menghasilkan beberapa titik deteksi.

“Misalnya dalam satu hamparan lahan seluas 10 hektare, bisa saja nanti satelit itu menemukan sampai 20-30 titik. Padahal, sebenarnya ada perpindahan saja, tetapi lokasi tidak jauh berbeda karena yang dipantau adalah pantulan panas,” ujarnya.

Baca juga: Dari aroma parfum ke energi hijau dan air bersih desa

Ia melanjutkan, sebagian hotspot yang muncul dalam laporan harian juga bukan selalu merupakan titik baru.

Sebagian merupakan lokasi yang sebelumnya telah terdeteksi, kemudian kembali tertangkap oleh satelit pada hari berikutnya karena kondisi panas di lokasi masih terpantau.

Misal, kebakaran di hari sebelumnya yang belum sepenuhnya padam akan kembali terdeteksi pada hari berikutnya sebagai hotspot.

Selain itu, titik panas juga tidak otomatis menunjukkan adanya kobaran api. Pantulan panas dari permukaan tertentu dapat terbaca sebagai hotspot, termasuk atap seng yang terkena panas matahari, aktivitas pembakaran kelapa untuk menghasilkan arang, maupun permukaan danau dalam kondisi tertentu.

“Hotspot itu tidak mutlak ada api. Beberapa kali kami pernah ada kejadian atap seng itu terpantau menjadi hotspot. Kemudian orang membakar kelapa untuk arang, danau pun biasa terpantau,” ungkap Rihel.

Ia menyebutkan, data hotspot juga diklasifikasikan berdasarkan tingkat kepercayaannya, yakni rendah, sedang dan tinggi, yang mengindikasikan potensi kebakaran di lokasi hotspot tersebut.

Namun, karena sifatnya sebagai hasil penginderaan jauh, kepastian kondisi di lokasi tetap membutuhkan verifikasi. Persoalannya, sebagian hotspot berada di wilayah yang jauh dari pusat kota umumnya sulit dijangkau melalui jalur darat.

“Untuk memastikan 100 persen bahwa di lokasi itu kebakaran, kita harus punya alat tersendiri dan survei ke lapangan. Sementara hotspot itu sendiri lokasinya cukup jauh dari ibu kota kabupaten maupun kecamatan dan kadang berada di pelosok,” jelasnya.

Baca juga: DLH Kotim perkenalkan inovasi SIGAP Mentaya pemantau kualitas air sungai berbasis geospasial

Di tengah tingginya hotspot, jumlah kejadian karhutla di lapangan jauh lebih rendah. Rihel menyebut rata-rata Satgas menangani tiga sampai lima kejadian karhutla setiap hari. Pada kondisi tertentu jumlahnya dapat meningkat hingga 13 kejadian dalam sehari.

“Memang untuk beberapa hari terakhir ini hotspot kita cukup tinggi, kemarin bahkan 300 titik lebih. Tapi sebenarnya untuk kejadian karhutla tidak sebanyak itu, rata-rata tiga sampai lima kejadian dan paling banyak bisa sampai 13 kejadian,” sebutnya.

BPBD Kotim mencatat hingga 12 Agustus 2026 telah terjadi 277 kejadian karhutla dengan luas lahan terbakar lebih dari 472 hektare yang tersebar di sejumlah kecamatan. Kecamatan Mentawa Baru Ketapang tercatat sebagai salah satu wilayah dengan luasan terbakar terbesar, yakni lebih dari 125 hektare.

Jika dibandingkan dengan jumlah hotspot, angka tersebut memperlihatkan bahwa ratusan deteksi satelit tidak dapat langsung dikonversi menjadi ratusan kejadian karhutla.

Data satelit lebih tepat diposisikan sebagai sistem deteksi awal yang membantu menentukan lokasi yang perlu ditelusuri lebih lanjut.

“Namun, jumlah hotspot ini tetap menjadi perhatian kita. Karena tingginya hotspot ini menjadi gambaran meningkatnya aktivitas panas di permukaan lahan selama periode kering yang sejalan dengan meningkatnya potensi kebakaran,” demikian Rihel.

Baca juga: Korem 102/Pjg dan insan pers perkuat kolaborasi informasi publik

Baca juga: KSOP Sampit imbau tingkatkan kewaspadaan cegah kebakaran di atas kapal

Baca juga: Fraksi PKB Kotim dorong peningkatan sarpras pemadaman karhutla

Pewarta : Devita Maulina
Uploader: Admin 2
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.