Riset Terbaru Economist Enterprise Soroti Pentingnya Integrasi "Self-Care" ke Sistem Kesehatan
Bagikan:
JAKARTA – Riset terbaru dari Economist Enterprise mengungkapkan jika Self-care secara efektif terintegrasi ke sistem kesehatan, terbukti dapat meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, memperluas akses ke layanan kesehatan, serta mengurangi beban pada sistem layanan medis yang saat ini sudah sangat terbebani.
Riset yang didukung oleh Bayer berjudul "Making self-care work: integrating self-care into health systems" ini mengutip berbagai data yang memperkirakan praktik perawatan diri mampu memberikan manfaat ekonomi tahunan hingga sekitar 179 miliar dollar AS sekaligus membantu banyak negara dalam mewujudkan Cakupan Kesehatan Semesta (Universal Health Coverage/UHC).
Di tengah tekanan sistem layanan kesehatan yang semakin berat akibat populasi lansia kian bertambah, penyakit kronis, kekurangan tenaga medis, dan ketidakmerataan akses, self-care kini semakin diakui sebagai salah satu jalan untuk meningkatkan luaran klinis (health outcomes), memperluas akses, serta mewujudkan penyediaan layanan kesehatan yang lebih berkelanjutan.
Riset ini menekankan self-care akan bekerja secara optimal bila terintegrasi dengan baik ke dalam sistem kesehatan formal, dengan didukung oleh informasi yang terpercaya, keterjangkauan, dan sistem rujukan yang jelas.
Dalam riset tersebut, scientist dari The Department of Sexual, Reproductive, Maternal, Child, Adolescent Health and Ageing, World Health Organization (WHO), Dr Manjulaa Narasimhan mengatakan Self-care adalah garda terdepan untuk semua perawatan kesehatan.
"Dengan adanya bukti klinis, kebijakan yang mendukung, serta tenaga kesehatan dan perawatan yang terlatih, perawatan diri dapat berkontribusi besar dalam meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan bagi semua orang," kata Dr Manjulaa.
Riset Economist Enterprise menyebutkan Self-care didefinisikan secara luas oleh WHO sebagai kemampuan individu, keluarga, dan komunitas untuk mengelola kesehatan dan kesejahteraannya, perawatan kesehatan diri mencakup area yang sangat luas, mulai dari perilaku hidup sehat sehari-hari dan praktik pencegahan penyakit, hingga pemanfaatan perangkat digital, pemantauan kesehatan diri, dan penggunaan obat-obatan bebas (over-the-counter /tanpa resep dokter).
Akan tetapi, definisi yang luas ini juga menghadirkan tantangan tersendiri, terutama dalam hal tata kelola, tolak ukur, dan konsistensi integrasinya di seluruh sistem kesehatan.
Riset ini memaparkan self-care berfungsi maksimal sebagai bagian yang didukung oleh sistem kesehatan, bukan sebagai penggantinya.
Self-care yang didukung dengan baik lewat informasi tepercaya, akses yang terjangkau, dan jalur rujukan yang jelas mampu memperluas akses ke layanan kesehatan, memperkuat langkah pencegahan dan intervensi dini, mendorong pasien agar lebih berdaya, mandiri, dan aktif berperan dalam merawat kesehatan mereka sendiri, dan mengurangi beban dan tekanan pada sistem kesehatan.
“Solusi self-care, termasuk penggunaan perangkat digital, obat bebas yang aman dan terjangkau, suplemen nutrisi, serta informasi edukatif, merupakan hal yang fundamental untuk mengatasi kesenjangan layanan kesehatan global. Hal ini merupakan lini pertahanan pertama bagi masyarakat dan sistem kesehatan,” ujar Julio Triana, Member of the Bayer Board of Management and President Consumer Health dalam wawancara terpisah dengan Economist Enterprise terkait masa depan self-care.
"Kami ingin memberdayakan masyarakat agar memiliki kemampuan dan mengambil keputusan yang tepat bagi kesehatan mereka sendiri, mengambil kendali penuh atas kesejahteraan mereka, serta berperan aktif dalam upaya pengobatan dan pencegahan. Self-care yang kredibel dapat membantu memperluas akses dan memperkuat sistem kesehatan, tetapi ini harus didukung oleh informasi berbasis bukti, standar yang ketat, serta jalur rujukan yang jelas menuju perawatan profesional," ungkapnya.
Riset tersebut menyebut ada tiga prioritas krusial untuk menjadikan self-care sebagai bagian yang lebih efektif dari layanan kesehatan arus utama. Pertama, mewujudkan komitmen kebijakan menjadi tindakan nyata seiring dengan semakin diakuinya self-care, setiap negara memerlukan struktur tata kelola dan pembagian tanggung jawab yang tegas, serta koordinasi pemangku kepentingan yang lebih kuat untuk menerjemahkan visi kebijakan menjadi implementasi praktis.
Kedua, memperluas akses melalui dukungan tepercaya dan merata seperti produk dan layanan yang terjangkau, informasi yang andal, mekanisme pembiayaan yang tepat, serta sistem dukungan yang relevan secara budaya, sangat penting untuk memastikan perawatan diri dapat memperluas akses tanpa memperlebar kesenjangan kesehatan yang sudah ada.
Ketiga, memperkuat landasan bukti, pengukuran, dan akuntabilitas, mengingat praktik self-care semakin umum dilakukan di rumah, apotek, maupun platform digital, sistem kesehatan akan membutuhkan mekanisme yang lebih kuat untuk mengukur hasil akhir (outcomes), memantau keselamatan pasien, dan menghasilkan data yang valid untuk memandu arah kebijakan maupun keputusan investasi di masa depan.
Riset ini juga menemukan sejumlah negara telah menunjukkan bagaimana self-care dapat disematkan ke dalam sistem pemberian layanan kesehatan yang lebih luas. Jerman, misalnya, menerapkan "resep hijau" (green prescriptions), yang memungkinkan Dokter untuk meresepkan obat bebas secara formal sebagai bagian dari terapi diri dengan panduan medis.
Di Indonesia, Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) secara aktif mempromosikan gaya hidup sehat, sanitasi, serta edukasi kesehatan mandiri termasuk penggunaan obat yang bertanggung jawab di lingkungan sekolah, tempat kerja, dan masyarakat.
Bicara tentang hubungan yang saling melengkapi antara perawatan diri dan fasilitas kesehatan institusional, Director General, Global Self-Care Federation, Greg Perry, mengatakan self-care bukan bermaksud mengalihkan tanggung jawab dari sistem kesehatan.
Sebaliknya, layanan, produk self-care berbasis bukti, serta obat-obatan tanpa resep yang dilengkapi dengan informasi tepercaya, justru akan memberikan keleluasaan kapasitas (headroom) bagi jalur rujukan, sehingga pasien bisa mendapatkan perawatan medis di fasilitas kesehatan secara tepat waktu saat mereka benar-benar membutuhkannya.
"Self-care tidak bertujuan melepaskan tanggung jawab sistem kesehatan. Sebaliknya, produk dan layanan self-care berbasis bukti serta obat bebas yang dilengkapi oleh informasi akurat justru menciptakan ruang kapasitas (headroom) bagi jalur rujukan. Dengan begitu, pasien dapat memperoleh penanganan medis di fasilitas kesehatan secara tepat waktu saat benar-benar membutuhkannya," katanya.
Temuan dari riset Economist Enterprise menyimpulkan jika tata kelola, pembiayaan, akuntabilitas, serta sistem dukungannya diperkuat, self-care dapat menjadi titik awal yang sangat hemat biaya dan saling melengkapi guna menciptakan sistem kesehatan yang lebih preventif dan proaktif.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+