kingsheadwye.com

Serial Merdeka Finansial (III): Kelas Menengah Yang Kerap Dipaksa Jadi Mesin Pertumbuhan Tanpa Sempat Membangun Neraca Keuangan

"Itu sebabnya pertumbuhan ekonomi sekitar 5 persen dapat berjalan bersamaan dengan rasa tidak aman finansial yang cukup luas," ujar Josua kepada Akurat.co, Senin (10/8/2026).

Baca Juga: Serial Merdeka Finansial (II): Di Balik Sinyal Ekonomi Makro, Mengapa Menabung Kini Menjadi Barang Mewah?

Kerapuhan kelas menengah ini, lanjut Josua, dipicu struktur ekonomi dan desain kelembagaan di Indonesia yang secara nyata menghasilkan kelas menengah yang rapuh.

Masalah utamanya adalah pertumbuhan ekonomi tidak lagi diterjemahkan sekuat sebelumnya menjadi pertumbuhan pendapatan pekerja. Pertumbuhan upah riil turun dari sekitar 6,3% pada 2009–2016 menjadi hanya sekitar 2% pada 2017–2025, padahal pertumbuhan ekonomi tetap berada di sekitar 5%.

Pada saat yang sama, jumlah kelas menengah turun dari sekitar 57 juta orang pada 2019 menjadi 47 juta pada 2025, sedangkan calon kelas menengah meningkat dari sekitar 129 juta menjadi 142 juta.

Ini penting karena secara ideal kelas menengah seharusnya menjadi tangga mobilitas sosial. Pendapatan naik, surplus pendapatan disimpan, tabungan berubah menjadi uang muka rumah atau investasi, aset menghasilkan pendapatan tambahan, lalu keluarga naik ke kelompok berpendapatan lebih tinggi.

Yang terjadi di Indonesia, rantai tersebut sering terputus pada tahap pertama karena pendapatan riil tumbuh lambat dan pekerjaan berkualitas masih terbatas.

Pada Mei 2026, sekitar 87,88 juta orang atau 59,30% pekerja masih berada dalam kegiatan informal, sedangkan pekerja formal baru 40,70%. Pekerjaan informal tak selalu berarti berpendapatan rendah, tetapi secara umum pendapatan, perlindungan kerja, pensiun, dan akses pembiayaannya lebih tidak pasti sehingga jauh lebih sulit membangun kekayaan secara teratur.

Tekanan tersebut semakin berat karena pendapatan yang benar-benar dapat digunakan rumah tangga setelah dikurangi untuk memenuhi berbagai kewajiban juga semakin terbatas.

Kajian Permata Institute for Economic Research (PIER) menunjukkan pertumbuhan upah riil perkotaan cenderung stagnan pada 2023–2025, tapi porsi pendapatan yang dapat digunakan untuk konsumsi dan tabungan terhadap PDB turut menyusut. Saat konsumsi tetap harus dipertahankan, penyesuaiannya akhirnya terjadi lewat pengurangan tabungan.

Data yang sama menunjukkan kecenderungan turunnya tabungan swasta ketika konsumsi rumah tangga relatif bertahan, sehingga muncul fenomena makan tabungan.

Jadi persoalannya bukan masyarakat kelas menengah tidak disiplin menabung. Banyak dari mereka tidak mempunyai surplus pendapatan yang cukup besar dan stabil untuk diubah menjadi kekayaan.

"Dalam kondisi seperti itu, kelas menengah lebih sering menjadi bantalan terhadap guncangan ekonomi daripada menjadi mesin mobilitas menuju kelompok berpendapatan tinggi," ujar Josua.

Tak Cukup Miskin Untuk Perlinsos Tapi Tak Mampu Meleverage Aset

Terdapat bukti terbaru bahwa daya tahan kelas menengah terlalu tipis. Dari 2024 ke 2025, jumlah calon kelas menengah meningkat dari sekitar 140 juta menjadi 142 juta orang, sedangkan kelas menengah turun dari sekitar 49 juta menjadi 47 juta.

Perubahan satu tahunnya penting, tetapi gambaran yang jauh lebih mengkhawatirkan terlihat sejak 2019: kelas menengah kehilangan sekitar 10 juta orang, sementara calon kelas menengah bertambah sekitar 13 juta dan kelompok rentan juga meningkat cukup besar. Dengan kata lain, masalahnya lebih bersifat struktural selama beberapa tahun, bukan kejadian satu tahun.

Bukti kedua terlihat dari pola konsumsi. Pengeluaran per kapita nominal memang meningkat dari sekitar Rp1,17 juta per bulan pada 2019 menjadi Rp1,57 juta pada 2025. Namun, porsi pengeluaran bukan makanan hampir tidak berubah, dari sekitar 50,86% menjadi 50,58%.

Artinya, kenaikan pengeluaran nominal sebagian besar habis untuk mengimbangi kenaikan harga, bukan menghasilkan lompatan konsumsi yang biasanya terjadi ketika kesejahteraan riil meningkat.

Di dalam pengeluaran bukan makanan juga terjadi pergeseran ke kebutuhan yang sulit dihindari. Porsi barang tahan lama turun, pakaian turun, sedangkan pajak, asuransi, perumahan, dan kebutuhan rumah tangga menyerap porsi lebih besar. Ini menggambarkan kelas menengah yang masih berbelanja, tetapi ruang untuk membangun aset semakin kecil.

Bukti ketiga bahkan terlihat langsung dari rekening bank. Untuk rekening dengan saldo paling banyak Rp100 juta, rata-rata saldo pada Juni 2026 hanya sekitar Rp1,70 juta per rekening.

Perbaikan pada Maret–April terutama terkait THR dan kenaikan kembali pada Juni juga banyak terkait pembayaran musiman, sehingga belum menunjukkan pemulihan kemampuan menabung yang permanen.

Sebaliknya, rekening di atas Rp5 miliar mempunyai saldo rata-rata sekitar Rp35 miliar. Saldo rata-rata kelompok bawah kembali sekitar Rp1,68 juta, sementara kelompok berdeposito besar terus mengakumulasi dana lebih cepat

Ketimpangan pengeluaran menguatkan kesimpulan tersebut. Antara September 2025 dan Maret 2026, pangsa pengeluaran 40% kelompok menengah turun dari 35,92% menjadi 35,44%, penurunan 0,48 poin%tase. Pangsa kelompok 20% teratas justru naik dari 44,80% menjadi 45,34%. Jadi persoalan yang muncul bukan hanya kemiskinan.

"Ada kelompok besar di tengah yang tidak cukup miskin untuk menerima seluruh perlindungan sosial, tetapi juga belum cukup kaya untuk mempunyai pendapatan aset dan cadangan keuangan yang kuat," ungkap Josua.