kingsheadwye.com

Spanyol Kirim Militer ke Ceuta Usai Ribuan Migran Menyeberang dari Maroko

Situasi di perbatasan Spanyol dan Maroko memanas setelah jumlah migran yang berusaha mencapai wilayah kecil tersebut melonjak pada Rabu (29/7). Sebagian besar dari mereka mencoba masuk dengan berenang.

Pemerintah Maroko belum memberikan pernyataan terbuka mengenai penyeberangan tersebut. Namun, Kementerian Dalam Negeri Spanyol mengatakan Pemerintah Maroko bekerja sama secara erat dengan Spanyol untuk menangani situasi ini. Polisi Maroko dilaporkan telah menghentikan banyak orang yang berusaha menyeberangi perbatasan.

Kedua negara disebut telah sepakat bekerja sama untuk secepat mungkin memulangkan semua orang yang memasuki Ceuta secara ilegal.

Sebelumnya, Kementerian Dalam Negeri Spanyol menyatakan akan menjamin keselamatan warga serta keutuhan perbatasan negara.

Namun, pemerintah pusat tidak dapat menetapkan keadaan darurat nasional akibat persoalan migrasi, seperti yang diminta pemerintah daerah Ceuta.

Kekacauan di Ceuta menimbulkan dampak hingga ke Italia, negara lain yang menjadi salah satu tujuan utama migran.

Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni mengancam akan menangguhkan kebijakan perbatasan terbuka Schengen dengan Spanyol untuk mempertahankan perbatasan negaranya dan menjamin keselamatan warganya, meskipun kedua negara tidak berbatasan langsung.

Pemerintah Ceuta sebelumnya mengaitkan lonjakan jumlah migran dengan putusan Mahkamah Agung Spanyol pada awal bulan ini.

Putusan itu melarang pihak berwenang langsung memulangkan migran yang tiba melalui laut tanpa terlebih dahulu menjalani proses hukum.

Aturan tersebut tidak berlaku bagi migran yang memasuki Spanyol melalui jalur darat, termasuk dengan memanjat pagar perbatasan.

Namun, sejumlah aktivis di Maroko meragukan bahwa putusan pengadilan itu menjadi penyebab lonjakan penyeberangan. Mereka menilai sebagian besar migran kemungkinan tidak mengetahui keputusan hukum tersebut.

Spanyol merupakan salah satu pintu masuk utama ke Eropa bagi migran yang mencari peluang ekonomi lebih baik atau melarikan diri dari kekerasan di negara asal mereka.

Untuk mencapai Ceuta yang berada di pesisir utara Afrika, para migran kerap berenang dari Kota Fnideq di Maroko. Mereka harus menempuh jarak sekitar lima kilometer untuk mencapai wilayah Spanyol.

Sebagian lainnya mencoba menyeberang dari Kota Belyounech yang berada tidak jauh dari sana karena jaraknya lebih pendek.

Pemandangan orang-orang yang berbondong-bondong menyeberangi perbatasan mengingatkan pada krisis Mei 2021, ketika lebih dari 8.000 migran memasuki Ceuta hanya dalam dua hari.

Saat itu, Maroko dituduh melonggarkan pengawasan perbatasan dan membiarkan para migran menyeberang ke Ceuta setelah Spanyol mengizinkan pemimpin Front Polisario, Brahim Ghali, menjalani perawatan di sebuah rumah sakit di negara tersebut.

Keputusan itu memicu krisis diplomatik antara Rabat dan Madrid.

Front Polisario yang memperjuangkan kemerdekaan selama puluhan tahun mengklaim sebagai perwakilan sah masyarakat Sahrawi di Sahara Barat. Sementara itu, Maroko menganggap Sahara Barat sebagai bagian dari wilayahnya.