Strategi Jitu Investasi Valas Saat Rupiah Tembus Rp18 Ribu
Jakarta, CNN Indonesia --
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus melemah hingga menembus level Rp18 ribu. Pada penutupan perdagangan Jumat (16/10) sore, mata uang Garuda tercatat merosot 89 poin atau 0,50 persen ke posisi Rp18.027 per dolar AS dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Bank Indonesia (BI) menjelaskan pelemahan ini dipicu oleh sentimen global yang menekan pasar keuangan domestik. Selain itu, arus modal keluar dari aset portofolio dalam negeri juga diproyeksikan masih akan berlanjut.
"Bank Indonesia berkomitmen untuk terus hadir di pasar guna menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah sesuai fundamentalnya dan memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik," ujar Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea dalam keterangan tertulis pada Jumat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perencana Keuangan Advisors Alliance Group Indonesia Dandy menyebut pergerakan rupiah saat ini belum bisa dikatakan stabil. Namun, Dandy menilai angka Rp18 ribu per dolar AS merupakan level psikologis yang cukup penting.
Jika rupiah mampu bertahan di area tersebut tanpa terkoreksi terlalu agresif, hal ini bisa menjadi indikasi tekanan pasar mulai terkendali.
"Namun, terlihat juga rupiah masih tertekan dengan besarnya pengaruh dari arah dolar AS, kebijakan The Fed (Bank Sentral AS) dan Bank Indonesia, geopolitik, serta foreign flow," ujar Dandy ketika dihubungi CNNIndonesia.com.
Di tengah situasi ini, muncul pertanyaan apakah berinvestasi pada instrumen valuta asing (valas) masih menarik untuk dilakukan saat kurs sudah terlanjur tinggi?
Diversifikasi Aset
Dandy menilai investasi kurs masih sangat menarik untuk diversifikasi aset. Namun, untuk kondisi sekarang, valas lebih cocok dimanfaatkan sebagai pelindung nilai (currency hedging) ketimbang untuk mencari keuntungan modal (capital gain).
"(Investasi di valas) akan lebih cocok untuk mereka yang punya kebutuhan dolar seperti untuk kuliah, bisnis, atau investasi dalam dolar," ujar Dandy.
Masuk Bertahap Demi Tekan Risiko
Investor sebaiknya memperhatikan tujuan keuangan, jangka waktu (time horizon), profil risiko, serta indikator makro seperti inflasi, kebijakan suku bunga, dan stabilitas politik.
Untuk meminimalisir risiko kerugian, Dandy menyarankan investor menggunakan metode dollar cost averaging (DCA), yakni masuk atau membeli valas sedikit demi sedikit secara berkala.
Dandy mengingatkan agar investor hanya menggunakan sebagian porsi investasinya dan menghindari pemakaian dana kebutuhan jangka pendek untuk berspekulasi.
"Kalau masuk sekarang, harga sudah relatif tinggi. Kalau memang ada kebutuhan untuk pakai dolar, maka saran saya masuk bertahap daripada menebak kapan titik terendah," ujar Dandy.
Sesuaikan Investasi Valas dengan Profil Risiko
Dandy memberikan rekomendasi terkait pilihan mata uangbagi mereka yang ingin merambah valas.
Bagi investor konservatif, Dandy menyarankan USD, SGD, atau mata uang safe haven seperti CHF (Franc Swiss) yang fungsinya lebih untuk wealth preservation dan diversifikasi.
Bagi investor dengan profil moderat, jangkauannya bisa diperluas ke mata uang GBP dan JPY.
Sementara untuk kategori agresif, Dandy menilai sejumlah pasangan mata uang (currency pair) seperti GBP/USD, USD/JPY, USD/CHF, dan GBP/JPY layak dipantau.
"Layak dipantau karena pergerakannya dipengaruhi oleh perbedaan kebijakan suku bunga, data ekonomi, serta perubahan sentimen risiko global," ujar Dandy.
Investasi Jangka Menengah-Panjang
Sementara itu, Perencana keuangan Andy Nugroho menilai investasi valas saat ini bisa menjadi pilihan yang menguntungkan, asalkan ditujukan untuk rentang waktu menengah hingga panjang atau minimal tiga tahun.
Menurut Andy, Investor bisa meraup untung jika rupiah terus melemah terhadap dolar AS, tetapi harus bersiap menghadapi potensi kerugian apabila rupiah ternyata berbalik menguat.
Opsi Investasi Lain
Andy juga menyarankan investor untuk tak hanya terpaku pada valas dan memperhatikan instrumen lain dengan memperhatikan profil risiko.
Untuk kategori risiko tinggi (high risk), pasar saham bisa menjadi pilihan.
Namun, mengingat anjloknya IHSG pada perdagangan Jumat yang efeknya dinilai bisa terasa hingga beberapa waktu ke depan, Andy menyarankan investor saham untuk super ekstra hati-hati atau bahkan menahan diri sementara waktu.
"Alternatif lain bisa masuk pasar derivatif yang risiko dan modalnya lebih tinggi dan besar lagi," ujar Andy dihubungi terpisah.
Di level risiko moderat, Andy merekomendasikan Obligasi Ritel Negara (SBN) atau reksa dana pendapatan tetap. Sementara untuk level konservatif, pilihannya adalah logam mulia atau reksa dana pasar uang.
[Gambas:Video CNN]
(sfr)