Tak Hanya Makan Bergizi, Ini Kunci Tumbuh Kembang Anak yang Optimal
Bagikan:
JAKARTA - Momen Hari Anak Nasional mengingatkan bahwa tumbuh kembang anak adalah tanggung jawab bersama. Mulai dari keluarga, tenaga medis, akademisi, pemerintah, hingga industri pangan. Data Statistik Konsumsi Pangan 2025 dari Kementerian Pertanian RI (berdasarkan Susenas BPS) menjadi salah satu acuan untuk memantau kondisi gizi masyarakat.
dr. Kanya Ayu Paramastri, Sp.A., Dokter Spesialis Anak, menekankan tumbuh kembang anak butuh perhatian menyeluruh. Bukan cuma makanan, tapi juga kebiasaan makan yang baik, aktivitas fisik, tidur berkualitas, dan stimulasi yang tepat.
"Membangun seorang anak itu seperti membangun sebuah rumah. Fondasinya adalah nutrisi, mulai dari makronutrien hingga mikronutrien, semuanya harus terpenuhi dengan baik," kata dr. Kanya di Central Park, Jakarta pada Minggu, 2 Agustus 2026.
"Dindingnya adalah stimulasi, kasih sayang, dan interaksi. Sementara atapnya adalah imunisasi. Percuma bangunannya megah kalau tidak dilengkapi atap imunisasi, karena anak akan mudah terpapar penyakit," lanjutnya.
dr. Kanya menambahkan nutrisi yang tidak terpenuhi bisa berdampak jangka panjang pada anak.
"Fondasi dasarnya pasti nutrisi. Makronutrien dan mikronutrien semuanya harus benar, karena itu modal dasar untuk imun juga. Kalau itu tidak terpenuhi, akan berdampak jangka panjang. Mulai dari daya pikir yang kurang optimal sampai risiko stunting, yang juga berdampak pada IQ anak dan masa depannya," beber dr. Kanya.
dr. Kanya juga menyarankan orang tua memperhatikan kandungan nutrisi, kalori, dan gula saat memilih produk susu, semakin lengkap gizinya (termasuk probiotik dan vitamin), maka semakin baik untuk tumbuh kembang anak.
Prof. Dr. Ir. Epi Taufik, Guru Besar Bidang Ilmu dan Teknologi Susu, Fakultas Peternakan IPB University, menjelaskan bahwa susu adalah sumber protein hewani penting bagi anak. Ia juga meluruskan makna label "tanpa tambahan gula".
"Maksud dari 'tanpa tambahan gula' adalah tidak ada penambahan gula pasir di luar gula alami yang memang sudah terkandung dalam bahan itu sendiri, misalnya laktosa pada susu atau fruktosa pada madu. Jadi, rasa manisnya murni berasal dari gula alami, bukan dari gula tambahan," tutur Prof. Epi.
Prof. Epi mengingatkan bahaya asupan gula berlebih, sehingga BPOM sudah mengatur batasan asupan gula, garam, dan lemak. Ia juga menyoroti kesenjangan produksi susu nasional.
"Kebutuhan susu nasional per tahun, jika disetarakan dengan susu segar, sekitar 4,7 miliar liter. Sementara produksi peternak kita baru sekitar 800 ribu ton atau setara 200 juta liter, jauh dari kebutuhan. Permintaan susu naik sekitar 6 persen per tahun, sementara produksi hanya naik 1 persen, sehingga kesenjangannya semakin lebar," ungkap Prof. Epi.
Momen ini dimanfaatkan OT Group untuk memperkenalkan Susu Tango Kido Full Cream, berbahan susu sapi segar tanpa tambahan gula/sukrosa, dalam acara "Kreasi Anak untuk Negeri" di Tribeca, Central Park, Jakarta—bagian dari kampanye "Temani Tumbuh Kembangnya, Rayakan Setiap Langkahnya!".
"Pemenuhan gizi anak merupakan tanggung jawab bersama. Sejalan dengan hal tersebut, kami terus berupaya menghadirkan produk yang memperhatikan standar dan kebutuhan nutrisi anak," pungkas Johan Lianto, Managing Director Dairy & Bread OT Group.
BACA JUGA:
"Susu Tango Kido Full Cream berbahan Fresh Milk (susu sapi segar) tanpa tambahan gula/sukrosa telah memenuhi spesifikasi teknis susu sebagaimana ditetapkan dalam Keputusan Kepala Badan Gizi Nasional Nomor 63426.2 Tahun 2026. Kami juga percaya bahwa tumbuh kembang anak tidak hanya ditentukan oleh asupan, tetapi juga oleh kehadiran orang tua dalam setiap prosesnya." lanjutnya.
Para ahli sepakat bahwa tumbuh kembang anak adalah perjalanan panjang yang butuh dukungan menyeluruh. Bukan hanya soal nutrisi, tapi juga kehadiran dan pendampingan orang tua di setiap tahap belajar, bermain, dan bertumbuh anak.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+