Tekstil Bangkit dari Kubur, RI Banjir Cuan Lagi
Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
01 September 2026 18:21
Jakarta, CNBC Indonesia - Industri tekstil Indonesia yang cukup lama tertekan mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan.
Perbaikan tersebut terjadi ketika neraca perdagangan Indonesia kembali mencatatkan surplus setelah dua bulan berturut-turut berada di zona defisit.
Rilis terbaru Badan Pusat Statistik (BPS), Selasa (1/9/2026), menunjukkan neraca perdagangan Indonesia membukukan surplus sebesar US$120 juta pada Juli 2026. Capaian tersebut membalikkan keadaan setelah terjadi defisit US$450 juta pada Juni dan US$1,61 miliar pada Mei 2026.
Nilai ekspor Indonesia pada Juli 2026 mencapai US$26,22 miliar, sedangkan impor tercatat sebesar US$26,09 miliar.
Secara bulanan, ekspor tumbuh 2,98%, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan impor sebesar 0,72%. Kenaikan ekspor terutama berasal dari komoditas nonmigas.
Nilai ekspor nonmigas meningkat dari US$24,39 miliar pada Juni menjadi US$25,43 miliar pada Juli 2026 atau tumbuh sekitar 4,26%.
Pada saat yang sama, impor migas turun 17,3%, dari US$4,56 miliar menjadi US$3,77 miliar. Penurunan tersebut membuat defisit perdagangan migas menyusut dari US$3,49 miliar pada Juni menjadi US$2,98 miliar pada Juli.
Sementara itu, perdagangan nonmigas membukukan surplus sebesar US$3,10 miliar, sedikit meningkat dari US$3,04 miliar pada bulan sebelumnya.
Meski demikian, secara tahunan impor masih tumbuh lebih cepat dibandingkan ekspor. Ekspor Juli 2026 naik 6,05% dibandingkan Juli 2025, sedangkan impor melonjak 27,02%.
Industri Tekstil Topang Devisa RI
Di tengah membaiknya neraca perdagangan, industri tekstil ikut menyumbang penerimaan devisa dari ekspor nonmigas nasional.
Pada satu bulan perdagangan saja, yakni di Juli, nilai ekspor industri tekstil ini berhasil menembus US$329,20 juta atau sekitar Rp 5,83 triliun (US$1= Rp 17.710). Nilainya berhasil mengalami peningkatan sebesar 11,99% dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar US$293,97 juta.
Jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun lalu yang sebesar US$289,08 juta, ekspor industri tekstil bahkan tumbuh lebih pesat 13,88%.
Pencapaian tersebut menjadi sinyal positif bagi industri tekstil yang dalam beberapa waktu terakhir menghadapi tekanan dan berbagai dinamika pasar. Nilai ekspornya sempat turun hingga US$232,01 juta pada Maret 2026.
Setelah itu, ekspor tekstil mulai pulih menjadi US$290,65 juta pada April, sempat turun menjadi US$278,23 juta pada Mei, kemudian kembali meningkat menjadi US$293,97 juta pada Juni dan US$329,20 juta pada Juli 2026.
Kinerja tersebut membuat industri tekstil seolah mulai "bangkit dari kubur" setelah cukup lama menghadapi tekanan. Namun, jalan menuju pemulihan masih panjang karena berbagai tantangan yang membayangi sektor ini belum sepenuhnya mereda.
Beratnya tekanan terhadap industri tekstil nasional tercermin dari kondisi sejumlah pemain besar. PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex), misalnya, dinyatakan pailit hingga harus menghentikan kegiatan operasional dan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal.
Tekanan juga dialami PT Pan Brothers Tbk (PBRX). Perusahaan ini sempat menjalani proses Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) dan merestrukturisasi utangnya, sebelum akhirnya lolos dari ancaman pailit setelah perjanjian perdamaian disahkan melalui homologasi.
Benang Pintal Jadi Motor Ekspor Tekstil
Dalam klasifikasi BPS, industri tekstil mencakup 9 jenis. Mulai dari benang pintal, serat stapel buatan, kain tenunan, barang tekstil lainnya, serat atau benang filamen buatan, kain rajutan, serat tekstil, kain sulaman atau bordir, serta sutra. Industri pakaian jadi tidak masuk dalam kelompok tersebut karena dicatat secara terpisah.
Dari berbagai komoditas tersebut, benang pintal menjadi penyumbang terbesar dengan nilai ekspor US$106,54 juta pada Juli 2026. Jumlah tersebut setara dengan 32,4% dari keseluruhan ekspor industri tekstil.
Serat stapel buatan berada di posisi berikutnya dengan nilai US$79,68 juta, disusul kain tenunan US$54,45 juta dan barang tekstil lainnya US$50,38 juta. Jika digabungkan, keempat komoditas tersebut menguasai sekitar 88,4% ekspor industri tekstil.
Dominasi benang pintal tidak hanya terlihat dari besarnya nilai ekspor. Komoditas ini juga menjadi penyumbang utama kenaikan secara bulanan setelah nilainya bertambah US$17,11 juta dibandingkan Juni 2026. Jumlah tersebut mencakup hampir separuh dari total kenaikan ekspor tekstil yang mencapai US$35,23 juta.
Tambahan ekspor juga berasal dari barang tekstil lainnya sebesar US$6,11 juta, kain tenunan US$5,51 juta, dan kain rajutan US$4,71 juta.
Bersama benang pintal, keempat barang tersebut menyumbang hampir 95% dari kenaikan ekspor tekstil pada Juli 2026.
Jika dilihat berdasarkan persentase, kain rajutan justru mencatatkan pertumbuhan bulanan paling tinggi sebesar 35,74%. Benang pintal menyusul dengan kenaikan 19,13%, kemudian barang tekstil lainnya 13,80% dan kain tenunan 11,26%.
Namun, perbaikan belum terjadi pada seluruh komoditas. Ekspor serat tekstil turun 6,28% secara bulanan menjadi US$3,67 juta, sedangkan kain sulaman atau bordir menyusut 13,11% menjadi sekitar US$481.000.
Perbaikan industri tekstil tidak hanya terlihat dari sisi ekspor. Aktivitas produksinya juga menunjukkan penguatan pada kuartal II-2026.
Berdasarkan data BPS, PDB industri tekstil dan pakaian jadi tumbuh 6,36% secara tahunan pada kuartal II-2026. Laju tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 4,86% pada kuartal sebelumnya.
Kinerja industri tekstil dan pakaian jadi bahkan melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 5,29%. Kelompok industri ini menyumbang 5,04% terhadap PDB industri manufaktur serta memberikan andil 0,34 poin persentase terhadap pertumbuhan sektor manufaktur pada kuartal II-2026.
CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]
(evw/evw)