kingsheadwye.com

Tim PKM ULM kenalkan pengolahan limbah kulit nanas jadi pupuk organik cair dan aktivator kompos - ANTARA News Kalimantan Selatan

Jadi, limbah yang satu ini benar-benar kami manfaatkan habis tidak hanya menjadi satu produk, tetapi juga bisa terus dikembangkan menjadi produk-produk turunan lain yang bermanfaat bagi pertanian warga,”

Marabahan (ANTARA) - Universitas Lambung Mangkurat (ULM) melalui Program Kemitraan Masyarakat (PKM) BIMA 2026 melaksanakan rangkaian pelatihan pengolahan limbah kulit nanas menjadi ecoenzim, pupuk organik cair (POC), dan aktivator kompos di Desa Mekarsari, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan.

Kegiatan yang dimulai sejak bulan Mei 2026 ini dilaksanakan secara bertahap sebagai bagian dari program pemberdayaan masyarakat.

Program tersebut menjadi salah satu upaya ULM untuk mendorong pemanfaatan limbah kulit nanas secara lebih produktif dan berkelanjutan. 

Selain membantu mengurangi limbah organik, kegiatan ini juga diarahkan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam mengembangkan produk yang bermanfaat bagi lingkungan dan kegiatan pertanian.

Pemaparan materi diikuti antusias warga. (ANTARA/Firman)

Rangkaian kegiatan diawali dengan pemaparan materi pelatihan di Kantor Kecamatan Mekarsari yang dihadiri puluhan peserta, mulai dari kalangan ibu-ibu PKK, Dharma Wanita Persatuan (DWP), hingga para kader desa.

Sekretaris Camat Mekarsari Aniswati menyambut baik dan mengapresiasi kehadiran tim ULM. 

Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan solusi alternatif terhadap persoalan limbah kulit nanas yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat.

“Selama ini, kulit nanas hanya menjadi tumpukan sampah di halaman atau di jalan. Kami sangat berterima kasih ULM mau turun langsung mengajari warga cara mengolahnya menjadi sesuatu yang bermanfaat,” ujar Aniswati.

Setelah mengikuti pemaparan materi, para peserta melakukan praktik langsung pembuatan ecoenzim dengan memanfaatkan limbah kulit nanas, gula merah, dan air bersih. 

Dalam kegiatan tersebut, peserta memperoleh pendampingan mengenai proses penyiapan bahan, pencampuran, hingga tahap fermentasi.

Praktik pembuatan ecoenzim hingga pengembangan produk turunan. (ANTARA/Firman)

Ketua tim PKM ULM Drs Parham Saadi, M.Si menjelaskan antusiasme warga telah terlihat sejak sesi praktik pertama. 

Menurutnya, program tahun ini merupakan pengembangan dari kegiatan PKM yang telah dilaksanakan sebelumnya di wilayah tersebut.

Dia menjelaskan program ini sebenarnya kelanjutan dari kegiatan PKM tahun lalu, ketika warga sudah diperkenalkan dengan ecoenzim berbahan limbah kulit nanas untuk dijadikan deterjen ramah lingkungan. 

Tahun ini pihaknya mengembangkan lagi potensinya. Eco enzim yang sama dihilirisasi menjadi produk baru, yaitu pupuk organik cair dan aktivator kompos. 

"Jadi, limbah yang satu ini benar-benar kami manfaatkan habis tidak hanya menjadi satu produk, tetapi juga bisa terus dikembangkan menjadi produk-produk turunan lain yang bermanfaat bagi pertanian warga,” ujar Parham Saadi.

Praktik pembuatan ecoenzim hingga pengembangan produk turunan. (ANTARA/Firman)

Selain Parham Saadi, tim pelaksana yang beranggotakan Drs. H. Mahdian, M.Si., dan Rizal Iskandar, S.Pd., M.Pd., bersama tiga mahasiswa FKIP ULM turut mendampingi warga dalam proses pengembangan POC melalui pengayaan menggunakan air leri dan air kelapa, serta pembuatan aktivator kompos untuk membantu mempercepat proses pengomposan bahan organik.

Salah seorang peserta, Ria, mengaku baru mengetahui limbah kulit nanas yang selama ini dianggap sebagai sampah ternyata dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat untuk kegiatan pertanian.

“Biasanya kulit nanas cuma numpuk dan bau. Sekarang saya sudah bisa membuat POC sendiri untuk kebun, jadi tidak perlu terus membeli pupuk kimia. Kalau nanti bisa dijual juga, tentu jadi tambahan penghasilan buat keluarga,” tuturnya.

Pelatihan tersebut tidak hanya memberikan pengetahuan baru mengenai pengelolaan limbah, tetapi juga membuka wawasan masyarakat tentang potensi pengembangan produk berbasis sumber daya lokal yang ke depan dapat memiliki nilai ekonomi.

Hingga tahap pelaksanaan saat ini, tim PKM ULM bersama masyarakat telah memulai rangkaian pengolahan limbah kulit nanas menjadi pupuk organik cair dan aktivator kompos.

Proses produksi dan pendampingan terus dilakukan secara bertahap sebagai bagian dari rangkaian program PKM BIMA 2026.

Foto bersama Tim PKM ULM dan warga peserta pelatihan. (ANTARA/Firman)

Selain kegiatan produksi, program ini juga diarahkan pada pembentukan dan penguatan Kelompok Usaha Bersama (KUB) sebagai wadah bagi masyarakat untuk mengembangkan kegiatan produksi dan pemasaran secara berkelanjutan.

Pada tahapan selanjutnya, tim PKM ULM akan mendampingi masyarakat dalam proses pengemasan, pelabelan, serta penentuan harga jual produk.

Pendampingan tersebut diharapkan dapat meningkatkan keterampilan warga sekaligus mempersiapkan produk agar memiliki nilai tambah dan berpeluang dipasarkan di tingkat lokal.

Dengan demikian, rangkaian kegiatan tidak berhenti pada pelatihan pembuatan produk, tetapi berlanjut melalui pendampingan secara bertahap yang mencakup proses produksi, penguatan kelompok usaha, pengemasan, pelabelan, hingga persiapan pemasaran.

Foto bersama Tim PKM ULM dan warga peserta pelatihan. (ANTARA/Firman)

Melalui program yang dilaksanakan di Desa Mekarsari, salah satu wilayah penghasil nanas di Kabupaten Barito Kuala, ULM berupaya mendorong penerapan konsep ekonomi sirkular (circular economy) di tingkat masyarakat.

Limbah kulit nanas yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal diarahkan menjadi bahan baku untuk menghasilkan berbagai produk yang bermanfaat. 

Pendekatan tersebut diharapkan tidak hanya membantu mengurangi persoalan limbah organik, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi sumber daya lokal yang tersedia di masyarakat.

ULM berharap rangkaian PKM BIMA 2026 ini mampu membekali masyarakat dengan pengetahuan dan keterampilan yang dapat terus diterapkan secara mandiri setelah seluruh tahapan program selesai dilaksanakan.

Ke depan, model pemberdayaan berbasis pemanfaatan limbah kulit nanas tersebut juga diharapkan dapat dikembangkan di wilayah penghasil nanas lainnya di Kabupaten Barito Kuala sehingga memberikan manfaat yang lebih luas bagi pengelolaan lingkungan, pertanian berkelanjutan, serta pengembangan ekonomi masyarakat.

Pewarta: Firman
Editor : Sukarli

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.