Tips mencegah kebakaran di rumah dan lingkungan
Jakarta (ANTARA) - Cuaca panas dan kering yang masih melanda sejumlah wilayah Indonesia meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan, lahan, maupun permukiman. Masyarakat perlu meningkatkan langkah pencegahan, terutama di daerah yang mengalami musim kemarau panjang.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya memprediksi puncak musim kemarau 2026 berlangsung pada Juli hingga September. Sebagian besar wilayah juga diperkirakan mengalami musim kemarau yang lebih kering dan lebih panjang dibandingkan kondisi normal.
Memasuki awal September, kondisi panas dan kering masih terjadi di sejumlah wilayah. BMKG mencatat titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi masih ditemukan, terutama di Kalimantan dan Sumatra. Pada 2 September 2026, tercatat 463 titik panas di Kalimantan dan 264 titik panas di Sumatra.
Kondisi tersebut membuat potensi kebakaran hutan dan lahan perlu mendapat perhatian. Cuaca kering menyebabkan vegetasi dan material mudah terbakar menjadi lebih kering sehingga api dapat lebih cepat menyebar apabila terjadi pembakaran yang tidak terkendali.
Baca juga: 5 kebiasaan di dapur yang harus dihentikan untuk cegah kebakaran
Baca juga: Pakar: Cegah karhutla bantu hindari krisis ganda asap dan COVID-19
Jangan membakar sampah sembarangan
Salah satu langkah sederhana untuk mengurangi risiko kebakaran adalah menghindari pembakaran sampah di ruang terbuka, terutama ketika angin cukup kencang dan kondisi lingkungan sangat kering.
Api dari pembakaran sampah dapat dengan mudah menjalar ke rumput, semak, lahan kosong, atau material lain yang mudah terbakar. Jika pembakaran memang dilakukan, masyarakat perlu memastikan api benar-benar padam dan tidak meninggalkan bara.
Namun, pada periode dengan risiko kebakaran tinggi, pembakaran terbuka sebaiknya dihindari.
Pastikan sumber api di rumah aman
Potensi kebakaran tidak hanya berasal dari lahan. Rumah juga perlu mendapat perhatian, khususnya pada penggunaan kompor, listrik, lilin, obat nyamuk bakar, dan peralatan lain yang menghasilkan panas atau api.
Sebelum meninggalkan rumah, pastikan kompor telah dimatikan. Peralatan listrik yang tidak digunakan juga sebaiknya dicabut untuk mengurangi risiko korsleting.
Kabel listrik yang rusak atau terkelupas sebaiknya segera diperbaiki. Hindari pula menumpuk barang mudah terbakar di dekat sumber panas.
Bersihkan area yang dipenuhi material kering
Rumput kering, daun, ranting, dan sampah yang menumpuk di sekitar rumah dapat menjadi bahan bakar ketika terkena api.
Masyarakat dapat membersihkan material tersebut secara rutin, terutama pada halaman, lahan kosong, maupun area yang berbatasan langsung dengan vegetasi.
Langkah ini penting untuk mengurangi bahan yang dapat mempercepat penyebaran api apabila terjadi kebakaran.
Baca juga: Kelurahan Cikini latih puluhan relawan cegah dan tangani kebakaran
Hindari aktivitas yang dapat memicu percikan api
Masyarakat yang berada di kawasan hutan atau lahan kering juga perlu lebih berhati-hati saat melakukan aktivitas yang dapat menghasilkan api atau percikan.
Membuang puntung rokok sembarangan, menyalakan api unggun tanpa pengawasan, atau menggunakan peralatan yang menghasilkan percikan di dekat material kering dapat meningkatkan risiko kebakaran.
Karena itu, aktivitas yang berpotensi menghasilkan api sebaiknya dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi cuaca dan lingkungan sekitar.
Pantau informasi cuaca dan titik panas
Masyarakat juga dapat memantau informasi cuaca dan kondisi lingkungan melalui kanal resmi BMKG serta informasi kebencanaan pemerintah.
BMKG menyebut kondisi kering pada awal September masih perlu diwaspadai karena titik panas dan sebaran asap masih terpantau di sejumlah wilayah. Sebaran asap juga dapat meluas mengikuti arah angin.
Informasi tersebut penting terutama bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan dan lahan gambut atau wilayah yang memiliki riwayat kebakaran.
Segera laporkan jika melihat kebakaran
Apabila menemukan asap atau api di kawasan hutan, lahan, maupun permukiman, masyarakat sebaiknya segera melaporkannya kepada petugas pemadam kebakaran, BPBD, atau aparat setempat.
Pelaporan sedini mungkin dapat membantu petugas melakukan penanganan sebelum api meluas.
Kewaspadaan juga semakin penting karena BMKG memperkirakan fenomena El Niño 2026 dapat bertahan hingga awal kuartal pertama 2027. Kondisi tersebut berpotensi membuat musim kemarau lebih kering dan meningkatkan risiko kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan.
Di tengah kondisi tersebut, pencegahan kebakaran tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan petugas pemadam. Masyarakat juga memiliki peran penting dengan tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu api, menjaga lingkungan tetap bersih dari material mudah terbakar, serta segera melaporkan apabila menemukan tanda-tanda kebakaran.
Dengan kewaspadaan dan tindakan pencegahan sejak dini, risiko kebakaran akibat kondisi panas dan kering dapat ditekan, terutama selama periode kemarau masih berlangsung di sejumlah wilayah Indonesia.
Baca juga: Langkah primer, sekunder, tersier cegah risiko paparan asap karhutla
Baca juga: Legislator usul pasang hidran di daerah padat untuk cegah kebakaran
Baca juga: Gulkarmat DKI tingkatkan mitigasi untuk cegah kebakaran
Pewarta: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.