Trump Janji Tak Serang Iran, Suahasil Bakal Buka-Bukaan APBN Hari Ini
- Pasar keuangan RI ditutup kompak melemah dari IHSG, Rupiah, maupun SBN
- Wall Street berakhir beragam, Nasdaq jatuh
- Penjualan eceran RI dan perkembangan perang akan menjadi penggerak utama pasar pada hari ini
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia berakhir beragam pada perdagangan terakhir kemarin, Kamis (8/10/2026). Bursa saham, Rupiah, dan obligasi pemerintah ditutup kompak melemah
Sentimen pasar kemarin masih dibayangi perkembangan konflik di Timur Tengah serta rilis data perekonomian dalam maupun luar negeri yang masih sulit diprediksi arahnya.
Pasar keuangan Indonesia diharapkan kompak menguat pada perdagangan hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tertekan cukup dalam pada akhir perdagangan Kamis (8/10/2026). Hingga akhir sesi II, IHSG berada di level 6.031,28, turun 115,44 poin atau 1,88%.
Total volume transaksi tercatat 63,2 miliar lot dengan nilai transaksi mencapai Rp12,8 triliun serta frekuensi sebesar 1,9 juta kali.
Pada awal perdagangan kemarin sekitar pukul 09.00 WIB, IHSG dibuka menguat di 6.154,97 dan sempat menyentuh level tertinggi harian di 6.179,09. Namun, penguatan tersebut tidak bertahan lama.
Tekanan jual muncul dan menyeret indeks turun ke area 6.120 sebelum pukul 10.00 WIB. Setelah sempat rebound terbatas ke kisaran 6.130 pada sekitar pukul 10.00 WIB, IHSG kembali bergerak melemah secara bertahap.
Memasuki sesi kedua, tekanan jual semakin kuat. IHSG jatuh menembus level psikologis 6.100 dan terus turun ke area 6.060 hingga 6.080. Menjelang sore, sekitar pukul 15.00 WIB, indeks bergerak di kisaran 6.040 hingga 6.060, sebelum akhirnya terperosok ke level terendah harian di 6.031,28 pada akhir periode yang terpantau.
Dengan pola tersebut, rentang pergerakan IHSG kemarin, level tertinggi berada di level 6.179,09 hingga terendah 6.031,28.
Pelemahan IHSG kemarin disebabkan oleh 497 saham melemah, 119 saham tak bergerak, dan hanya 171 saham yang menguat.
Dari segi perdagangan foreign, terpantau di all market bursa mengalami net foreign outflow sebesar Rp 867,27 miliar sementara di pasar reguler tercatat juga mengalami net foreign outflow sebesar Rp 848,28 miliar.
Sehingga apabila dijumlah dalam kurun waktu year to date atau sejak awal tahun 2026, all market terpantau mengalami net foreign outflow sebesar Rp 84,47 triliun sementara di reguler juga terpantau net outflow sebesar Rp 111,13 triliun.
Mengutip Refinitiv, penyebab IHSG parkir di zona merah antara lain, sektor infrastruktur yang anjlok 5%, disusul oleh sektor energi yang anjlok 2,7%, dan sektor material dasar yang turun 2,6%.
Adapun saham-saham yang membebani IHSG antara lain, PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), PT. Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN), PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), PT. Barito Renewables Energy Tbk. (BREN), dan PT. Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS).
Sementara saham-saham penopang koreksi IHSG antara lain, PT. Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT), PT. Kalbe Farma Tbk. (KLBF), PT. Astra International Tbk. (ASII), PT. Global Digital Niaga Tbk. (BELI), dan PT. Apollo Global Interactive Tbk. (APOL).
Sementara itu, rupiah gagal mempertahankan penguatannya terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (8/10/2026). Sempat terapresiasi pada awal perdagangan, mata uang Garuda justru berbalik arah dan ditutup melemah, sekaligus mengakhiri tren positif selama dua hari terakhir.
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah ditutup di level Rp17.890/US$, melemah 0,08% dibandingkan penutupan Rabu (7/10/2026) di Rp17.875/US$.
Pada pembukaan perdagangan, rupiah sempat menguat 0,11% ke posisi Rp17.855/US$. Namun, penguatan tersebut terkikis sepanjang perdagangan hingga rupiah berakhir di zona merah.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, terpantau menguat 0,06% ke posisi 102,302 pada pukul 15.00 WIB.
Pergerakan rupiah sepanjang hari turut dibayangi sejumlah sentimen domestik dan global.
Dari domestik, Bank Indonesia (BI) melaporkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) September 2026 sebesar 118,1, turun tipis dibandingkan bulan sebelumnya. Meski demikian, indeks tersebut masih berada di atas level 100, yang menunjukkan keyakinan konsumen tetap berada di zona optimistis.
"Berdasarkan kelompok pengeluaran, keyakinan konsumen pada September 2026 tetap optimis pada seluruh kelompok pengeluaran," ungkap BI dalam laporan Survei Konsumen yang dirilis Kamis (8/10/2026).
Penurunan IKK tercermin dari Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) yang melemah menjadi 107,5. Sebaliknya, Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) meningkat menjadi 128,7.
Lanjut ke pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun terpantau mengalami perubahan cukup signifikan pada perdagangan kemarin dengan naik ke posisi 7,236% dari hari sebelumnya di 7,168%.
Hal ini mengindikasikan bahwa pasar obligasi tersebut lebih didominasi oleh aksi penjualan ketimbang dengan pembelian pada pasar sekunder.