UI ajak siswa disabilitas kenali dunia kerja lewat program bintang - ANTARA News Megapolitan
Depok (ANTARA) - Lima mahasiswa Universitas Indonesia (UI) membuka program "BINTANG" (Belajar Interaksi dan Temu Tamu Tunagrahita), yakni ruang belajar yang mengenalkan dunia kerja dengan siswa penyandang disabilitas.
“Kami ingin memberikan kesempatan kepada para siswa penyandang disabilitas untuk merasakan secara langsung bagaimana berinteraksi dengan pengunjung dan menjalankan tugas pelayanan sederhana. Pengalamam seperti ini diharapkan dapat membantu mereka lebih siap mengenal lingkungan kerja,” ujar Ketua Tim PKM-PM BINTANG Devika Bunga Ramadhani di Kampus UI Depok, Jumat.
Dalam kegiatan yang merupakan Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) itu, mereka mengajak siswa SLB Insan Mandiri Depok merasakan langsung pengalaman melayani pengunjung sebagai Visitor Assistant Helper (VAH) di Museum Nasional Indonesia (MNI), dengan pendekatan Behavioral Skills Training (BST).
Di bawah bimbingan Prof. Farida Kurniawati pembelajaran dirancang untuk memperkuat keterampilan kerja dasar dan komunikasi yang telah diperoleh siswa di sekolah.
Sebelum praktik, siswa mengikuti tahap Pra-BINTANG melalui sosialisasi dan pembelajaran interaktif. Materi disampaikan dengan bantuan video edukasi, flash card, buku aktivitas, majalah, dan pop-up book. Selanjutnya, siswa berlatih melalui empat tahapan BST, yakni instruksi, demonstrasi, praktik, dan evaluasi.
Delapan siswa yang mengikuti kegiatan, terdiri atas lima siswa tunagrahita, satu siswa tunagrahita dengan disabilitas fisik, dan dua siswa tunarungu. Didampingi lima mahasiswa UI dan tiga guru SLB Insan Mandiri, siswa bergantian menjalankan tugas di dua titik pelayanan.
Dengan berbekal papan petunjuk arah, siswa berlatih menyambut pengunjung, menyapa, serta memberikan informasi sederhana. Ketika mendapat pertanyaan di luar informasi yang dikuasai, mereka diarahkan untuk membantu pengunjung menuju pusat informasi.
Pola itu memberi ruang bagi siswa untuk menjalankan tugas sesuai kemampuan sekaligus membangun kepercayaan diri dalam berinteraksi di ruang publik.
Pengalaman tersebut dilengkapi dengan kunjungan ke sejumlah ruang museum, seperti Sejarah Awal, Ruang Arca, dan Ruang ImersifA. Kegiatan ini membantu siswa mengenali lingkungan museum sekaligus memahami konteks tempat mereka menjalankan peran sebagai VAH.
Selama pelaksanaan program BINTANG, MNI mendukung penuh melalui pendampingan selama kunjungan, akses masuk tanpa biaya, dan fasilitasi dokumentasi.
Kepala MNI, M. Rasyid Ridha, berharap kolaborasi serupa dapat dikembangkan secara berkelanjutan.
“Harapannya, akan ada program berkelanjutan, misalnya sebulan sekali atau dua bulan sekali. Tidak hanya saat ini, harus
terbina secara berkelanjutan dan harus ada regenerasinya,” ujarnya.
Ia menyampaikan keterbukaan MNI terhadap program yang mendukung partisipasi anak penyandang disabilitas di ruang publik.
“Kami sangat terbuka terkait hal-hal yang mendukung kegiatan ini, program untuk anak disabilitas. Terima kasih teman-teman UI atas gagasan yang luar biasa. Semoga program ini dapat menjadi kegiatan yang permanen,” kata Rasyid.
Dari sisi sekolah, program itu dinilai memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengembangkan keterampilan di lingkungan publik. Kepala SLB Insan Mandiri Depok, Yosie Nurfirdausy, mengatakan,"kami ingin mengembangkan keterampilan pelayanan dasar bagi anak-anak,".
"Terima kasih kepada Kakak-Kakak PKM-PM, sudah membersamai anak-anak mulai dari sesi
pembelajarannya sampai praktik. Semoga kedatangan kami bisa membuka peluang untuk anak-anak,” ujarnya.
Pewarta: Feru Lantara
Uploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.