UNP kembangkan sistem pengendalian DBD berbasis zona mikro blok rumah di Nagari Pakandangan
Padang (ANTARA) - Upaya memperkuat pencegahan dan pengendalian Demam Berdarah Dengue (DBD) di tengah masyarakat terus dilakukan Universitas Negeri Padang (UNP).
Melalui Program Pengabdian UNP Berdampak tahun 2026, tim pengabdi UNP mengimplementasikan Sistem Pengendalian Risiko DBD Berbasis Zona Mikro Blok Rumah di Nagari Pakandangan, Kecamatan Enam Lingkung, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat.
Program yang diketuai Dr. Armaita, S.KM., S.Kep., M.Si., bersama anggota Dr. Ns. Linda Marni, S.Pd., S.Kep., M.M.Kes. dan Dr. Erpita Yanti, S.K.M., M.M.Kes., melibatkan mahasiswa serta Pemerintah Nagari Pakandangan sebagai mitra.
Kegiatan yang diadakan pada (25/8) lalu, diarahkan untuk memperkuat keterlibatan masyarakat dan kader jumantik dalam melakukan pemantauan, serta pengendalian risiko DBD secara lebih terarah.
Nagari Pakandangan memiliki sekitar 4.800 jiwa dan 1.086 kepala keluarga. Berdasarkan laporan program, sejumlah kondisi lingkungan seperti genangan air, permukiman yang relatif rapat, serta tempat penampungan air yang tidak tertutup menjadi faktor yang perlu mendapat perhatian dalam upaya mencegah berkembangnya nyamuk Aedes aegypti.

Selama ini berbagai kegiatan pencegahan DBD seperti pemantauan jentik, penyuluhan, pemberian media edukasi, abatesasi, hingga fogging telah dilakukan.
Namun, masih diperlukan sistem yang mampu mengintegrasikan data pemantauan dengan kondisi risiko lingkungan sehingga tindakan pengendalian dapat dilakukan secara lebih spesifik sesuai kondisi wilayah.
Pemetaan risiko hingga tingkat rumah
Inovasi utama dalam program ini adalah penggunaan pendekatan zona mikro blok rumah. Wilayah sasaran dipetakan berdasarkan tingkat risiko menjadi zona merah, kuning, dan hijau.
Pemetaan tersebut, diharapkan dapat menjadi dasar bagi kader dan masyarakat dalam menentukan prioritas tindakan pengendalian.
Dengan pendekatan ini, pengendalian DBD tidak hanya dilakukan secara umum, tetapi diarahkan pada wilayah yang membutuhkan perhatian lebih besar.
Kader dapat memanfaatkan informasi tersebut untuk melakukan kunjungan rumah, pemantauan jentik, pemberantasan sarang nyamuk (PSN), gotong royong, serta edukasi kepada masyarakat.
Kader jumantik menjadi garda terdepan
Program ini juga menempatkan kader jumantik sebagai salah satu unsur penting dalam keberhasilan sistem.
Kader diberikan penguatan kapasitas dalam pemeriksaan jentik, pencatatan data rumah, serta monitoring berbasis blok.
Pelaksanaan kegiatan dirancang melalui beberapa tahapan, mulai dari koordinasi dengan pemerintah nagari dan puskesmas, sosialisasi, pelatihan kader, pengumpulan data dan pemetaan rumah, penyusunan peta zona risiko, monitoring berkala, hingga aksi pengendalian pada wilayah dengan risiko tinggi.
Melalui sistem tersebut, data yang dikumpulkan kader diharapkan tidak berhenti sebagai catatan administratif, tetapi dapat digunakan sebagai dasar untuk menentukan tindakan pengendalian di lapangan.
Target program antara lain mencakup pemetaan minimal 80 persen rumah sasaran, peningkatan kemampuan kader dalam melakukan pencatatan dan pembaruan data, tersusunnya peta zona risiko DBD, serta pelaksanaan aksi pengendalian pada zona dengan risiko tinggi.
Edukasi dan Pemberdayaan Masyarakat
Selain pemetaan, kegiatan juga menekankan aspek edukasi dan pemberdayaan masyarakat.
Masyarakat tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi diharapkan berperan aktif dalam pemantauan dan pengendalian lingkungan di sekitar rumah.
Pendekatan tersebut penting karena pengendalian DBD membutuhkan upaya yang dilakukan secara rutin dan berkelanjutan.
Pemberantasan tempat-tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk, pemantauan jentik, menjaga tempat penampungan air, serta melakukan gotong royong menjadi bagian dari aksi yang dapat dilakukan bersama.
Laporan pengabdian juga memuat evaluasi pengetahuan peserta melalui pretest dan posttest.
Data yang tercantum menunjukkan adanya peningkatan skor pengetahuan dari rata-rata 6,63 menjadi 9,17.
Namun, tim pengabdi menegaskan bahwa data tersebut masih perlu diverifikasi dengan data lapangan sebelum digunakan sebagai hasil resmi program.
Menuju Sistem Pengendalian yang Berkelanjutan
Program pengabdian UNP ini tidak berhenti pada pelaksanaan kegiatan awal.
Tahap berikutnya diarahkan pada pemutakhiran data pemantauan jentik, pembaruan peta zona risiko, pendampingan kader, pelaksanaan aksi pengendalian pada zona risiko tinggi, evaluasi capaian, serta penguatan keberlanjutan bersama pemerintah nagari dan puskesmas.
Tim pengabdi merekomendasikan agar pemantauan jentik dilakukan secara berkala dan data risiko pada tingkat rumah maupun mikro blok terus diperbarui. Kader juga diharapkan mampu melakukan pencatatan, pembaruan data, serta interpretasi zona risiko secara mandiri.
Peta zona risiko selanjutnya dapat digunakan sebagai dasar untuk menentukan prioritas kegiatan PSN, gotong royong, kunjungan rumah, dan edukasi masyarakat. Evaluasi ke depan juga diarahkan tidak hanya pada pengetahuan, tetapi mencakup perubahan perilaku pengendalian, cakupan pemantauan rumah, dan indikator entomologis.
Melalui inovasi berbasis zona mikro blok rumah ini, UNP berupaya memperkuat sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah nagari, kader jumantik, puskesmas, dan masyarakat dalam menghadapi risiko DBD.
Program tersebut sekaligus menjadi bentuk nyata kontribusi perguruan tinggi dalam menghadirkan pendekatan berbasis data dan pemberdayaan masyarakat untuk mendukung upaya pencegahan penyakit di tingkat komunitas.
Kegiatan pengabdian ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, terutama poin 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera, melalui upaya pencegahan dan pengendalian penyakit DBD berbasis data, penguatan kapasitas kader jumantik, serta pemberdayaan masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang sehat dan berkelanjutan.
