Wakil Ketua MPR dukung langkah wujudkan lingkungan pendidikan nyaman - ANTARA News Ambon, Maluku
Jakarta (ANTARA) - Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mendukung komitmen dan langkah nyata berbagai pihak terkait untuk mewujudkan lingkungan pendidikan yang aman dan nyaman.
"Sebuah gerakan untuk mewujudkan lingkungan pendidikan yang aman dan nyaman harus mendapat dukungan penuh dari pihak-pihak yang terkait, termasuk dari keluarga dan masyarakat," kata Mbak Rerie, sapaan akrab Lestari Moerdijat, dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.
Dia menyoroti upaya pemerintah memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam mewujudkan pesantren dan madrasah ramah anak melalui Gerakan Nasional #RuangAmanNyamanAnak (Gernas RANA) yang diluncurkan pada Minggu (12/7).
Rerie berharap gerakan yang diluncurkan Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Pratikno itu dapat menghadirkan ekosistem pendidikan yang aman, nyaman, inklusif, dan bebas dari segala bentuk kekerasan terhadap anak.
Gerakan tersebut menargetkan 42 ribu pondok pesantren dan 80 ribu madrasah di seluruh Indonesia untuk menerapkan penguatan regulasi, pencegahan kekerasan, penyediaan sarana aman, layanan pengaduan berpihak korban, serta kolaborasi lintas sektor.
Rerie mengapresiasi Gernas tersebut. Kendati demikian, ia mengingatkan bahwa keberhasilan gerakan bergantung pada komitmen kuat semua pihak untuk menjadikan perlindungan anak sebagai prioritas utama.
Dia mengatakan langkah segera untuk mewujudkan target yang dicanangkan harus menjadi pemahaman dan komitmen bersama para penyelenggara pendidikan, pengelola pondok pesantren dan madrasah, serta masyarakat.
Menurut dia, upaya percepatan pencegahan dan penanganan kekerasan di lingkungan pendidikan mendesak dilakukan.
Komnas Perempuan mencatat sepanjang tahun 2025 terjadi 475 kasus kekerasan berbasis gender di lingkungan pendidikan dengan korban mencapai 972 orang. Khusus di lingkungan pesantren, tercatat ada laporan 17 kasus sepanjang 2020–2024.
Selain itu, Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) juga mencatat tren peningkatan kasus kekerasan di lingkungan pendidikan, yakni dari 15 kasus pada 2023 meningkat menjadi 36 kasus pada 2024 dan bertambah menjadi 60 kasus sepanjang 2025.
Meningkatnya ancaman kekerasan itu, ucap Rerie, harus direspons dengan segera dalam bentuk langkah antisipasi yang tepat.
Dia menambahkan upaya mencegah perundungan di lingkungan pendidikan perlu diimbangi dengan pembangunan sikap dan budaya toleransi di sekolah dan masyarakat, selain dengan sosialisasi antikekerasan.
Upaya pencegahan, imbuh dia, tidak cukup hanya bertumpu pada kesiapan tenaga pendidik, tetapi juga memerlukan peran aktif masyarakat dan keluarga dalam membentuk karakter anak sejak dini.
Pewarta: Fath Putra Mulya
Uploader : Moh Ponting
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.