Wall Street Tertekan Kabar OpenAI, Saham Oracle Ambles Lebih dari 5% - Bursa Katadata.co.id
Bursa saham Wall Street Amerika Serikat (AS) ditutup bervariasi pada perdagangan Kamis (8/10). Fluktuasinya bursa AS imbas kekhawatiran investor terhadap informasi terbaru mengenai OpenAI, sehingga menekan saham-saham sektor akal imitasi (AI).
Indeks Nasdaq yang didominasi saham teknologi turun 1,25% ke level 27.193,34. S&P 500 juga melemah 0,47% menjadi 7.765,36. Sebaliknya, Dow Jones Industrial Average menguat 51,77 poin atau 0,1% ke level 51.231,64.
Tekanan terhadap saham teknologi muncul setelah muncul informasi bahwa pendapatan tahunan OpenAI di bawah perkiraan. Saham Oracle langsung merosot lebih dari 5%. Begitu juga saham produsen cip Nvidia turun hampir 3% dan Advanced Micro Devices (AMD) 4%.
Sentimen pasar juga dipengaruhi lonjakan harga minyak di tengah memanasnya konflik AS dan Iran. Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak ingin mencapai kesepakatan dengan Iran untuk mengakhiri perang. Di sisi lain, laporan menyebut AS tengah mempersiapkan serangan bom besar-besaran di Timur Tengah.
Namun, Trump kemudian menyatakan AS tidak akan menyerang Iran sebelum pemilihan sela pada awal bulan depan. Pernyataan ini mendorong harga minyak turun dari level tertingginya.
Meski begitu, minyak mentah Brent tetap naik 4,07% menjadi US$ 104,28 per barel. Kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) juga menguat 3,64% dan ditutup pada US$ 91,49 per barel.
Investor juga mencermati pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury. Imbal hasil Treasury tenor 10 tahun dan 30 tahun sebelumnya mencapai level tertinggi dalam 24 tahun pada pekan ini.
Pada perdagangan Kamis (9/10), imbal hasil (yield) Treasury tenor 10 tahun turun 5 basis poin menjadi 5,227%. Imbal hasil tenor 30 tahun terkoreksi 6 basis poin menjadi 5,601%. Penurunan itu setelah Departemen Keuangan AS menggelar lelang obligasi tenor 30 tahun yang mendapat respons kuat dari investor.
Ahli Strategi Investasi Baird, Ross Mayfield menilai tekanan inflasi, terutama akibat kenaikan harga energi, telah memengaruhi perubahan sikap Federal Reserve dan mendorong pergerakan imbal hasil obligasi tenor panjang.
“Serta harga minyak turun dari US$ 90 per barel menjadi US$ 70 per barel, imbal hasil obligasi akan turun secara signifikan,” kata Mayfield dikutip CNBC International, Jumat (9/10).
Pergerakan imbal hasil obligasi dan harga minyak belakangan ini memicu volatilitas di pasar saham. Investor khawatir kenaikan harga energi akan menjaga inflasi tetap tinggi dan mendorong Federal Reserve kembali menaikkan suku bunga.
Mayfield menilai pasar saham secara keseluruhan masih cukup tangguh menghadapi tekanan tersebut. Terlebih, indeks S&P 500 dan Nasdaq sempat mencetak rekor tertinggi baru pada pekan ini.
Namun, Mayfield mewanti-wanti kenaikan kecil imbal hasil obligasi tenor panjang dapat memberikan tekanan lebih besar terhadap saham. Ia memperkirakan imbal hasil obligasi dapat stabil di kisaran 5% hingga 6%. “Pasar sedang menyesuaikan diri dengan tingkat imbal hasil yang baru ini,” ujar Mayfield.
Menurutnya, imbal hasil yang lebih tinggi mencerminkan pertumbuhan nominal lebih kuat dan inflasi yang sedikit meningkat. Apabila tren tersebut berlanjut, kondisi suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama atau normal for longer kemungkinan tetap bertahan.
Mayfield juga memproyeksikan kondisi tersebut berpotensi berubah jika terjadi resesi besar yang mendorong The Fed memangkas suku bunga hingga mendekati nol.
Di tengah tekanan pasar, saham Palantir Technologies justru menguat 2% pada perdagangan Kamis (8/10). Kenaikan ini setelah Goldman Sachs menaikkan peringkat saham perusahaan tersebut.
Goldman Sachs memperkirakan saham Palantir masih memiliki ruang untuk menguat. Peralihan menuju AI berdaulat (sovereign AI) dan pengembangan aplikasi khusus dinilai berpotensi membuka peluang pertumbuhan pasar yang lebih besar bagi perusahaan tersebut.