kingsheadwye.com

BNPB: Evakuasi warga saat bencana wajib cepat sebelum banyak korban

...Peringatan harus menjadi trigger untuk bertindak sebelum dampak terjadi

Jakarta (ANTARA) - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menegaskan pentingnya mengubah pola penanganan bencana di Indonesia dari reaktif menjadi antisipatif dengan memastikan puncak (peak) evakuasi warga dapat dilakukan lebih awal sebelum jatuhnya korban jiwa.

Deputi Bidang Pencegahan BNPB Abdul Muhari dalam rangkaian Emergency Disaster Reduction and Rescue (EDRR) 2026 di Jakarta, Kamis, mengatakan bahwa sistem peringatan dini selama ini masih diwarnai jeda respons (response latency) di mana warga baru mengungsi setelah dampak bencana terjadi.

"Kalau bicara efektif peringatan dini dan Aksi Merespons Peringatan Dini (AMPD), peak evakuasi harus berada di depan peak korban," kata dia.

Menurut dia, kurva kejadian bencana menunjukkan bahwa peningkatan angka korban jiwa sering kali terjadi lebih cepat dibandingkan pergerakan pengungsian warga yang baru masif beberapa hari pascabencana.

Baca juga: BNPB sarankan peta risiko bencana jadi acuan tata ruang daerah

Direktorat Pengendalian Operasi BNPB mencatat secara akumulatif, seluruh bencana sepanjang tahun 2025 telah mengakibatkan lebih dari 850 orang meninggal dunia dan hilang, dengan jumlah terbesar berasal dari musibah banjir bandang di Sumatera.

Selain itu, dampaknya juga menyebabkan lebih dari 4,2 juta jiwa menderita dan mengungsi, serta merusak puluhan ribu rumah dan fasilitas publik di tanah air

Kondisi tersebut, kata Abdul menandakan bahwa evakuasi kerap dianggap sebagai dampak atau konsekuensi bencana padahal evakuasi seharusnya diposisikan sebagai tindakan pencegahan utama sebelum risiko bencana terealisasi.

"Peringatan dini tidak boleh berhenti sebagai informasi. Peringatan harus menjadi trigger untuk bertindak sebelum dampak terjadi," cetusnya.

Baca juga: BNPB siagakan operasi darat dan OMC di 6 provinsi rawan karhutla

Ia menambahkan bahwa keberhasilan sistem peringatan dini nasional tidak lagi diukur dari seberapa cepat stasiun pemantau merilis data, melainkan dari seberapa cepat informasi tersebut diterjemahkan menjadi aksi penyelamatan di tingkat komunitas lokal.

Guna mendukung percepatan aksi dini tersebut, BNPB berkolaborasi dengan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang menerapkan Prakiraan Berbasis Dampak (Impact-Based Forecast/IBF) untuk memetakan wilayah rawan serta menentukan waktu krusial bagi warga untuk melakukan evakuasi secara mandiri.

"Forum ini juga menjadi bagian dari upaya mendukung agenda Early Warnings for All (EW4All) dengan memperkuat keterhubungan antara prakiraan, peringatan, pengambilan keputusan, dan aksi dini," kata dia.

Baca juga: BNPB sebut sepuluh provinsi dikepung karhutla

Pewarta: M. Riezko Bima Elko Prasetyo
Editor: Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.